
Beberapa minggu kemudian
Di Dubai
Terlihat Shesa begitu bahagia, pasalnya besok lusa dirinya dan Vano akan pulang kembali ke Indonesia.
"Akhirnya setelah dua minggu, pekerjaan kita sudah selesai" ucap Shesa bahagia.
"Kamu benar sayang, aku sudah pesankan tiket untuk kepulangan kita ke tanah air" seru Vano
"Aku akan menelepon rumah, aku sudah sangat rindu kepada mereka, Aku berharap Ray dan Luna segera memberi kita kabar yang baik." ucap Shesa penuh harap.
Vano tampak mendampingi istrinya saat Shesa mencoba menghubungi rumah mereka.
"Kriiiiinnnggggggg"
Seorang pelayan yang tengah membersihkan ruangan tiba-tiba mendengar suara telepon berbunyi. Lantas ia segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo...Kediaman keluarga besar Perkasa, ada yang bisa kami bantu!"
"Halo...Ini Aku Shesa!" jawab Shesa yang membuat pelayan tersebut sangat bahagia.
"Nyonya Shesa, syukurlah saya sangat senang sekali bisa bicara dengan Anda Nyonya, setelah hampir 2 minggu Nyonya pergi ke Dubai"
"Iya bik, Aku akan pulang dalam waktu beberapa hari ini, oh iya bagaimana keadaan rumah? Apa semua baik-baik saja?" tanya Shesa
"A_anu Nyonya, itu Tu_tuan muda..." belum selesai pelayan tersebut berbicara pada Shesa, terlihat Luna sudah berada disamping sang pembantu.
"Siapa bik? Itu Mama ya?" tanya Luna bahagia.
Sang pembantu sangat terkejut melihat kedatangan Luna yang tiba-tiba.
"Eh...Non Luna, I_iya Non ini Nyonya Shesa yang menelepon" seru pembantu itu sembari memberikan gagang telepon itu kepada Luna.
"Mama!" ucap Luna bahagia sembari menerima gagang telepon itu kepada Luna.
Lantas Luna mulai berbicara kepada ibu mertuanya yang selama 2 minggu ini pergi ke Dubai.
"Halo Mama, Mama apa kabar? Ini Luna Ma?" sapa Luna penuh kerinduan.
"Luna! Apa kabar kamu Nak? Mama sangat merindukan kalian semua, besok lusa Mama akan pulang ke Indonesia" ucap Shesa yang membuat Luna tampak begitu bahagia.
__ADS_1
"Benarkah itu Ma? Luna sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Mama, Luna sangat rindu pelukan Mama" ucap Luna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Luna sayang bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja kan? Ray tidak menyakitimu kan?" tanya Shesa yang tak sengaja membuat Luna bersedih, betapa Ia masih ingat ancaman Ray tempo hari bahwa Luna harus menutup rapat-rapat mulutnya tentang apa yang dilakukan oleh Ray terhadapnya.
"Tidak Ma, suamiku sangat baik sekali, dia selalu menjaga dan membuat Luna bahagia, Mama tidak perlu mengkhawatirkan Luna, Luna baik-baik saja" ucap Luna yang diiringi oleh buliran bening yang memaksa untuk jatuh membasahi pipinya.
Sang pembantu yang melihat itu merasa sangat kasihan terhadap Luna yang sering menerima perlakuan kasar dari Ray, namun Luna lebih memilih diam dan menutupi aib suaminya dari Vano dan Shesa.
"Duh Gusti...Lindungi Non Luna, dia gadis yang baik, dia tidak pantas menangis, semoga saja Tuan muda segera berubah, Aku tidak tega melihat kesedihannya" gumam sang pembantu
"Oh iya ke Mana Ray? Mama tidak mendengar dia berada disitu?" tanya Shesa
"Oh...Suamiku belum pulang Ma, dia masih sibuk mengurusi proyek barunya" jawab Luna.
"Apa? Proyek baru? Kenapa dia tidak bilang ke Mama jika dia punya proyek baru? Apa jangan-jangan Ray melanjutkan rencananya untuk memperluas usaha propertinya itu?" seru Shesa curiga.
"Entahlah Ma, setahu Luna dia merencanakan pembangunan sebuah pusat perbelanjaan di suatu tempat, tapi Luna tidak tahu dimana lokasinya." jawabLuna yang tidak tahu apa-apa.
"Mudah-mudahan saja Ray tidak melanjutkan rencananya di daerah itu, kalau saja dia tetap berani melanjutkan proyeknya di tempat itu, Mama tidak akan pernah memaafkannya" ucap Shesa yang khawatir Ray tetap melanjutkan untuk membeli tanah warga di daerah Dukuh Tengah, dimana tempat itu adalah tempat tinggal Mita dan Nabila.
"Maksud Mama?" tanya Luna tidak mengerti.
"Tidak apa-apa sayang! Baiklah Mama tutup dulu ya telepon nya, nanti Mama beritahu jika Mama akan pulang, kamu baik-baik ya sama suamimu!" ucap Shesa yang belum mengetahui keadaan sebenarnya.
******
Sementara itu di kediaman Bayusena, tampak Karin tengah berlari menghampiri Bayu yang sedang duduk di kursi ruang tamu di rumah sederhana itu.
"Mas gawat, ada kabar buruk Mas" seru Karin dengan sedikit terengah-engah.
"Kabar buruk? Kabar buruk apa maksudmu?" tanya Bayu penasaran.
"Baru saja aku dapat berita dari warga, bahwa ada pengembang dari kota yang akan membeli semua tanah kita dan menjadikan tempat ini sebagai pusat perbelanjaan dan perumahan elite, parahnya lagi pak Lurah sudah menyetujuinya tanpa persetujuan dari kita dulu" seru Karin.
"Bagaimana bisa begitu? Ini namanya pemaksaan, kita tidak bisa tinggal diam, kita tidak bisa begitu saja menyerahkan tanah ini kepada pengembang itu, bagaimana dengan mata pencaharian kita, tempat ini adalah ladang mengais rejeki semua warga disini" protes Bayu kesal.
"Terus kita harus bagaimana dong Mas? Karena pak Lurah sudah positif menyetujui permintaan mereka" ucap Karin
"Kita ke balai desa sekarang, kita harus menolak rencana untuk menjadikan tempat ini sebagai pusat perbelanjaan, bagaimana dengan nasib kita selanjutnya?"
Hari itu juga Bayusena dan beberapa warga datang ramai-ramai ke balai desa dimana ada beberapa orang kota yang datang bertamu dengan Pak Lurah.
__ADS_1
Seorang perangkat desa melihat warga yang mulai berdatangan untuk demo, sedangkan Pak Lurah sedang berbincang dengan 2 orang pria yang diduga adalah pembeli yang akan membeli semua aset tanah di kawasan itu.
"Permisi Pak, di luar banyak warga yang ingin bertemu dengan Pak Lurah" seru seorang perangkat desa.
"Baik, tenangkan mereka dulu, saya akan datang menemui mereka" jawab Kepala desa.
"Baik Pak Lurah!"
Sementara itu Kepala desa berbicara kepada 2 orang yang sedang duduk di depannya.
"Maaf Pak Ray dan Pak Raka, saya temui mereka sebentar, mungkin para warga sedikit protes dengan perencanaan kita, saya tinggal dulu ke depan" seru kepala desa.
"Baik Pak!" jawab Ray santai.
Sementara itu Kepala desa tengah menemui warganya yang berdemo, tampak Raka yang mulai gelisah, dirinya sebenarnya kurang sreg jika harus ada pemaksaan.
"Hai...Ray Apa ini tidak keterlaluan? Kita belum minta izin kepada mereka yang memiliki tanah untuk menjual tanah mereka pada kita, Aku merasa ini tindakan yang tidak adil" seru Raka
"Ada apa denganmu? Kenapa semangatmu menjadi mengendur, bukankah ini sudah menjadi rencana kita" jawab Ray masa bodoh.
"Iya aku tahu, tapi melihat begitu banyak warga yang protes itu menunjukkan cara kita yang salah, kalau kita musyawarah kan baik-baik dengan mereka, mungkin mereka tidak akan seperti ini" ucap Raka
"Aku tidak peduli, tujuanku adalah untuk meratakan tempat ini, tidak perduli dengan perasan mereka" ucapan Ray membuat Raka dibuat geleng-geleng kepala.
"Setidaknya tempat tinggal Mita dan Nabila akan rata dengan tanah, dan mereka akan pergi jauh dari tempat ini" gumam Ray dengan tatapan Sinis nya.
Sementara itu di luar tampak kepala desa sibuk memberitahukan kepada warganya tentang proyek yang akan segera di bangun di tempat tinggal mereka.
Setelah panjang lebar kepala desa menerangkan kepada warganya, tampak mereka hanya menggelengkan kepalanya, karena mereka harus tetap menerima kenyataan bahwa mereka harus merelakan tanah tempat tinggal mereka untuk di serahkan kepada pengembang yang sedang berada di ruang kantor kepala desa.
Disaat itu Bayu penasaran siapa yang sudah berani membuat tanah mereka harus mereka lepas dengan harga yang tidak sesuai.
"Maaf Pak Lurah, kalau boleh saya tahu, siapa nama pengembang dari kota itu?" tanya Bayu penasaran.
"Beliau adalah anak dari pemilik perusahaan besar PT Elang Perkasa Company...Yaitu Pak Ray!" jawaban kepala desa membuat Bayu sangat terkejut bukan main, bagaimana tidak itu adalah nama menantunya sendiri, suami Luna.
"Deg"
"Apa? Tidak mungkin" gumam Bayu lemas
BERSAMBUNG
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷