
Dalam acara makan malam bersama itu, Vano memberi tahukan tentang rumah yang sudah Ia sediakan untuk kedua anaknya.
"Ray! Jasmine, Papa dan Mama sudah mempersiapkan masing-masing rumah untuk kalian, besok kalian bisa melihat-lihat rumah baru kalian, Papa berharap kalian bisa hidup mandiri, jangan khawatir di rumah itu, Papa sudah persiapkan beberapa pelayan untuk melayani kebutuhan kalian" seru Vano menjelaskan.
"Lokasi-lokasi yang tidak jauh kok dari butik Mama, jadi! Jika Mama rindu kalian, Mama bisa langsung datang ke rumah kalian" ucap Shesa senang.
"Rumah kami bersebelahan Ma?" tanya Jasmine.
"Iya!" jawab Shesa.
"Jadi, Kamu dan kakakmu rumahnya bersebelahan, jadi jika Luna membutuhkanmu, dia tidak akan jauh-jauh untuk menghubungimu, sebaliknya jika kamu butuh bantuan kakakmu, kamu juga tidak perlu jauh-jauh minta bantuan kakakmu, Ray!" ucap Shesa
"Iya Ma! Terima kasih banyak atas semua yang sudah Papa dan Mama berikan kepada kami, anak-anakmu...kami akan selalu menjadi anak yang membanggakan untuk Mama dan Papa" ucap Jasmine.
"Iya sayang, Mama dan Papa senang sekali melihat kalian semua bahagia, terutama Ray, Mama sangat bersyukur kamu bisa menyadari tentang dendammu kepada orang-orang di masa lalu Mama, semua itu sudah berlalu, dan kini Luna lah pengganti Mita, Mama sangat bersyukur bisa mendapatkan putri Mita sebagai menantu Mama, Mama tidak akan pernah membuat Luna bersedih, Mama akan mencurahkan seluruh kasih sayang sebagai pengganti kehadiran mendiang Mita" ucap Shesa yang diiringi embun yang mulai membasahi mata cantiknya.
"Mama! Mama bukan hanya sekedar ibu mertua untuk Luna, tapi Luna sudah menganggap Mama sebagai ibu kandung Luna, pengganti mendiang ibu, Luna merasa ibu masih hidup saat Luna melihat wajah Mama, terima kasih Mama sudah menyayangi Luna dengan sepenuh hati" balas Luna sembari meraih tangan Shesa.
Shesa tersenyum dan mengusap lembut wajah putri Mita itu. Ray meraih tubuh istrinya dan memeluknya segera.
"Jangan menangis sayang! kami akan selalu membahagiakanmu, Mama, Papa , Jasmine pasti sangat menyayangimu, dan aku akan selalu ada untukmu, selamanya" ucap Ray sembari mencium hangat kening istrinya.
Suasana makan malam itupun berubah menjadi haru sekaligus membahagiakan untuk keluarga Vano dan Shesa.
*
*
*
*
Beberapa hari kemudian.
Vano dan Shesa sudah tiba tepat waktu di rumah Mario dan Monic, mereka menghadiri acara pernikahan Olive dan Bara.
"Silahkan masuk Tuan dan Nyonya, suatu kehormatan Tuan Vano dan Nyonya Shesa datang awal sekali, Olive saja masih di rias oleh MUA" ucap Mario senang yang didampingi Monic di sampingnya.
"Oh iya! Bagaimana kalian suka MUA yang aku kirim untuk Olive? Itu MUA yang udah make up in aku saat akad nikah dulu, dan pastinya hasil make-up nya sudah terbukti ampuh, bagaimana tidak, seorang Tuan muda Vano benar-benar terpesona melihatku" sindir Shesa kepada suaminya.
Mario dan Monic terkekeh melihat tingkah keduanya yang masih seru itu. Sementara di ruang make up, Olive disibukkan dengan persiapan make up dan gaun pengantin yang berwarna putih dengan desain mermaid yang menonjolkan lekuk tubuh Olive yang indah.
Sementara itu Bara yang tampak sudah siap untuk datang ke rumah Olive untuk mengucapkan ijab Kabul, mengikat Olive untuk menjadi istrinya untuk selamanya. Sang ayah, Excel terlihat mendekati anak laki-lakinya yang kini terlihat sangat gagah.
"Papa!" Bara melihat Excel yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Papa bahagia bisa melihatmu menikah dengan wanita yang kamu cintai! Papa berharap kamu akan selalu membahagiakan Olive, ingat Bara! Papa tidak mau mendengar kamu menyakiti istrimu, Papa dulu memang seorang player, Papa selalu memandang sepele perempuan-perempuan yang ada di sekitar Papa, tapi... cinta Papa hanya tertuju pada satu sosok wanita, yaitu Mamamu. Papa sangat berharap kamu menjadi kebanggaan Papa, bahagiakan Istrimu! Itu sudah cukup buat Papa" ucap Excel menasehati putranya.
"Iya Pa! Bara akan selalu membahagiakan Olive, Bara tidak akan mengecewakan Papa" jawabnya sembari tersenyum.
"Oh iya! Apa kamu sudah ada persiapan untuk malam kalian nanti?" bisik Excel pada telinga putranya.
Bara menggelengkan kepalanya, kemudian Excel memberikan beberapa butir pil untuk menambah stamina dan vitalitas pria, mengingat malam ini Bara akan memulai perjalanan baru biduk rumah tangga bersama Olive, dan tentunya malam ini adalah malam pertama kali Bara merasakan madu manisnya pernikahan.
"Apa ini Pa? Apa ini ekstasi? Aduh Papa jangan gila dong! Masa Bara minum pil setan ini, nggak - nggak " Bara mengembalikan lagi pil itu kepada Excel.
"Ini bukan ekstasi semprul! Sudah minum saja sebelum tidur, jangan banyak-banyak satu saja!" ungkap Excel menjelaskan kepada anaknya.
"Trus ini apa dong Pa?" tanya Bara penasaran.
"Ini pil buat nambah stamina dan vitalitas pria, kasarannya obat kuat, biar kamu jreng menghadapi Istrimu, biar nggak loyo, paham!" ucap Excel yang sudah sangat berpengalaman tentang dunia percintaan.
"Paham Pa, makasih ya Pa!" ucap Bara senang, kemudian Bara memasukkan pil itu ke dalam kantong jasnya.
"Ayo sekarang kita berangkat, setengah jam lagi akad nikah akan segera dimulai!" seru Excel.
"Iya Pa!"
*
*
*
Olive keluar dari kamarnya, begitu senangnya saat Bara melihat calon istrinya datang menghampirinya. Bara meraih tangan Olive dan membawanya ke depan penghulu.
Dan akhirnya terdengar suara "Saaaaahhhh"
Hari itu juga Bara dan Olive resmi menjadi suami istri, Bara mengecup kening istrinya dan mencium lembut pipinya. Sembari berbisik indah di telinga Olive.
"Persiapkan dirimu malam ini baby!" Olive memejamkan matanya dan membayangkan bagaimana Bara pasti akan gencar untuk memilikinya.
Olive tertunduk malu, bagaimana pun juga Bara sekarang adalah suaminya, apa yang ada pada dirinya adalah milik Bara seutuhnya.
"Hm... Iya! Aku siap!" jawab Olive tersipu malu.
Semua tamu undangan, teman-teman dan rekan-rekan Mario turut memberikan doa restu kepada putrinya. Tak terkecuali teman-teman Bara. Tampak Ray dan Abian menggoda Bara yang kini mengikuti jejak mereka untuk menikah.
"Cie cie, yang mau belah semangka nih ye!" sindir Abian sembari menyenggol lengan Bara.
"Apaan sih Bi! Gue gugup nih!" jawab Bara
__ADS_1
"Ah Elu gugup? Nonsen...Elu tuh udah pinter banget sama cewek" sahut Ray yang masih belum percaya jika Bara masih perjaka, mengingat Bara selalu gonta-ganti pacar, namun tak satupun Bara meniduri gadis-gadis itu.
"Kalian kagak percaya, gue masih perawan nih, nggak percaya cek aja, masih lancip nih" sahut Bara tidak terima.
"Ah...yang bener Lu! Nggak percaya gue" sahut Abian sembari terkekeh.
"Palingan juga udah tumpul tuh!" celetuk Abian yang diikuti kekehan Ray.
"Ah...dasar kalian, dibilangin nggak percaya?" sahut Bara kesal.
"Iya...Iya sorry kita percaya kok! Nih gue beri sesuatu buat Lu, biar kuat begadang semalaman!" ucap Abian sembari memberikan obat perangsang yang berbentuk seperti permen.
"Apa ini, permen karet?" tanya Bara menelisik.
"Udah makan saja sebelum tidur, entar juga tahu khasiatnya, Elu kan juga ngerti obat ini untuk apa!" sambung Abian, sementara Ray hanya tersenyum tipis melihat tingkah Abi dan Bara.
Pandangan Ray terfokus pada wajah cantik istrinya yang tengah berbincang dengan Olive dan Jasmine, sesekali Luna tersenyum kepada suaminya saat Ray sedang memperhatikannya.
Tatapan mata Ray yang mengisyaratkan sebuah cinta yang begitu mendalam membuat Luna tak bisa menahan rasa malunya, Luna terlihat salah tingkah, meskipun dirinya setiap hari menghabiskan waktu bersama Ray, namun tetap saja Ray selalu membuatnya merasa deg-degan, seperti halnya saat pertama kali mereka bertemu.
"Ray! Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
"Kamu sangat cantik sayang!"
"Setiap hari kamu mengatakan hal itu kepadaku, apa kamu tidak bosan?"
"Tidak akan pernah bosan, selama nafas ini masih berhembus, aku tidak akan pernah bosan untuk melihat wajahmu"
Tatapan mata keduanya saling berbicara.
Tiba-tiba saja Abian membangkitkan lamunan Ray yang tidak terlepas dari pandangannya ke arah Luna.
"Woi...woi... Astaga! Dari tadi lihatin Luna mulu, Aku nggak bisa ngebayangin jika Luna meninggalkanmu Ray!" seru Abian.
"Pasti aku akan mati" jawaban Ray spontan membuat Abian tercengang, begitu besar cinta Ray kepada sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa hidup tanpa istriku" sambung Ray yang kemudian berjalan menghampiri Luna dan meraih tangan Luna untuk mendekat kepadanya.
Abian dan Bara melongo, benar-benar Ray sudah sangat bertekuk lutut di hadapan Luna.
"Ray! Ada apa sayang!" ucap Luna yang terkejut tiba-tiba saja Ray membawa Luna kedalam pelukannya.
"Tidak ada, aku hanya ingin memelukmu!" jawab Ray mesra.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
...ULUH ULUH BABANG RAY... MELELEH AKU TUH 🥰🥰🥰...