
Olive terdiam sembari berpikir, kenapa bisa tiba-tiba dirinya seperti itu, Ia masih belum mengingat betul kejadian semalam, Bara meraih tangan Olive dan menciumnya begitu hangat, sementara Olive dibuat malu dan bingung.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Bara sembari menatap mata Olive lekat-lekat.
"Aku masih belum mengerti Bar? Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi diantara kita?" jawab Olive sembari beranjak berdiri, namun tiba-tiba saja dirinya merasa ada sesuatu yang begitu ngilu pada area pangkal pahanya.
"Awwww..." Olive meringis menahan rasa ngilu itu sembari mendekap perut bawahnya.
Spontan Bara menahan istrinya dan membawa Olive untuk duduk kembali pada ranjang tidurnya, tiba-tiba saja Olive melihat bercak darah pada sprei tempat tidur mereka, dan itu membuat kepala Olive tiba-tiba saja merasa seperti ada ribuan burung yang berputar di atas kepalanya, membuatnya pusing dan berkunang-kunang.
"Hah...darah!"
Olive terjatuh tak sadarkan diri, Bara dengan segera menahan tubuh istrinya dan meletakkannya pelan-pelan di atas ranjang.
"Olive! Olive! Kok malah pingsan!" ucap Bara sembari menepuk-nepuk pipi Olive, sejenak Bara melihat bercak darah yang tertinggal pada sprei tempat tidur mereka.
Bara menyunggingkan senyumnya dan mengusap lembut wajah Olive yang terlihat damai itu, usapan lembut itu menuntun tangan Bara untuk mengusap bibir Olive.
Bara terlihat masih sangat tergoda untuk menyentuh bibir Olive, perlahan Bara meraih bibir itu dengan lembut dan mengecupnya mesra. Ternyata apa yang dilakukan Bara membuat Olive mulai membuka matanya dan tersadar dari pingsan nya.
Olive membuka matanya dan melihat wajah Bara yang begitu dekat sekali dengannya. Olive merasa Bara sudah menggigit bibirnya dan mengecupnya mesra, entah kenapa Olive justru menikmatinya dan membalas ciuman suaminya dengan mesra.
Bara tersadar jika Olive membalas ciuman darinya, Bara membuka matanya dan melepaskan ciumannya.
"Olive! Kamu sudah sadar?" tanya Bara senang.
Olive tersenyum, namun dirinya meminta Bara untuk menyingkirkan sprei yang terkena noda darah miliknya.
"Tolong singkirkan noda darah itu Bar! Aku tidak mau melihatnya." Pinta Olive sembari memalingkan wajahnya.
Bara melihat noda darah itu dan dengan segera menutup noda itu dengan selimut, sementara Olive masih memalingkan wajahnya, Olive sangat phobia terhadap darah, biarpun darah itu jumlahnya sedikit, namun tetap saja Olive tidak bisa untuk melihatnya langsung.
"Oke, sudah tidak terlihat!" seru Bara sembari menunjukkan selimut yang menutupi bekas darah milik Olive.
__ADS_1
Olive menengoknya sembari beranjak duduk.
"Kamu mau kemana?" tanya Bara
"Aku mau mandi, tapi... disini rasanya sakit sekali? Kenapa bisa begitu?" tunjuk Olive pada area pangkal pahanya. Bara terkekeh dan menangkup wajah Olive yang lugu itu.
"Kenapa kamu harus heran, bukannya kita sudah melakukannya semalam!"
"Apa? Kita sudah melakukannya? Melakukan itu? Kamu sudah melakukannya padaku?" Olive masih belum yakin, karena dirinya merasa tidak melakukan hal apapun dengan Bara, hanya dalam mimpi saja dirinya merasa melakukan hal itu.
"Bukankah noda darah itu menjadi bukti, jika kamu dan aku sudah saling memiliki, kamu hebat sayang, kamu benar-benar hebat, kamu sangat pintar memainkannya!" ucapan Bara agaknya membuat Olive mengerutkan keningnya.
"Hebat? Apanya yang hebat? Aku nggak merasa melakukan apa-apa Bar! Kamu ini ngomong apa sih!" Olive masih menyangkal jika dirinya telah melakukan hal itu dengan Bara.
"Oke, jika kamu tidak percaya, aku tunjukkan sesuatu kepadamu? Setelah itu kau akan percaya!" jawab Bara sembari mengambil kamera di atas nakas.
"Disini kamu bisa melihat semuanya, aku sengaja mengabadikan momen terindah kita, sebagai kenangan malam pertama yang tidak akan pernah terlupakan, dan itu begitu amazing!" ucap Bara sembari memberikan kamera yang berisi rekaman video panas mereka berdua.
Olive menerima kamera dari suaminya dan melihat video yang baru saja Bara rekam semalam, Olive membulatkan matanya, mulutnya spontan terbuka kemudian ia menutupnya dengan kedua tangannya.
"I_itu aku!" tunjuknya pada diri sendiri.
"Ta_tapi bagaimana bisa? Aku sudah mempeerrkosamu Bar?" ucap Olive yang mulai mengeluarkan keringat dari wajahnya. Olive terlihat gugup sekali, video itu menjadi bukti bagaimana Olive menguasai Bara dengan liar, sementara Bara tampak tersenyum sumringah dan menjawab pertanyaan istrinya.
"Hiya...kamu sudah mempeerrkosaku! Sekarang kamu harus bertanggung jawab!" jawab Bara mantap dan yakin.
"Hah...?"
Olive menoleh kearah suaminya dan dirinya merasa malu sekali.
"Bertanggung jawab? Maksud kamu apa Bar?" Olive menatap wajah Bara yang mulai nakal.
Bara mengambil kembali kamera itu dan mendekati Olive yang masih terkejut melihat dirinya yang pintar bergoyang pada video itu.
__ADS_1
"Sekarang kamu harus bertanggung jawab terhadap..." Bara tidak melanjutkan kata-katanya, matanya memberi kode agar Olive mengikuti arah bola matanya.
Ternyata arah mata Bara menunjuk pada adik junior nya yang sudah ON sedari tadi. Olive menangkap maksud Bara, dan ia melihat arah mata Bara.
Olive mulai gugup, dirinya benar-benar melihat penampakan yang lebih menyeramkan daripada melihat Kunti atau poci, sesuatu yang berdiri tegak yang siap menerobos suatu tempat yang menjadi surga setiap kaum Adam.
"Bar...Bara! Kamu mau apa?" Olive beringsut saat Bara mulai beranjak naik ke atas tubuhnya.
"Ini adalah tanggung jawabmu sayang, sekarang kamu bisa merasakan nya dalam sadar, ayolah Baby you can do it"
Bara semakin mendekatkan dirinya pada tubuh Olive, begitu dekat hingga Olive merasa sangat terhimpit.
"Bar! Apa harus seperti ini?" Olive menahan sesuatu yang seolah ingin masuk kedalam sana.
"Tentu saja, jangan takut ini tidak akan sakit, rilekskan dirimu, jangan tegang... setelah itu kamu akan menyukainya"
Bara mulai menyelundupkan sesuatu dibawah sana dengan sangat pelan, Bara takut jika Olive masih merasa kesakitan.
"Akkhh...Emmm"
Bara mendengar suara indah dari bibir Olive, bukan rintihan rasa sakit, tapi rintihan sebuah kenikmatan yang tercipta dari penyatuan mereka berdua. Bara menatap wajah istrinya yang tampak terpejam menikmati alunan indah percintaan mereka berdua.
"Bagaimana? Apa kamu suka?" Bara membisikkan sesuatu pada telinga Olive sembari mencumbuinya dengan mesra.
"Jangan berhenti Bar! Aku suka ini, bagaimana rasanya bisa seperti ini?" Olive menggigit bibir bawahnya saat hentakan itu begitu nikmat mengoyak dan mengobrak abrik tempat yang dikhususkan Bara untuk mendatangi nya.
"Nikmati saja Baby! Aku suka desaahan mu, teruslah mendesaah sayang!"
Bara semakin semangat saat Olive begitu menikmati permainan nya, untuk kali pertama Olive melakukannya secara sadar, rasa sakit dan ngilu itu akhirnya hilang berganti sensasi yang membumbung tinggi, melintasi cakrawala yang terbentang indah.
BERSAMBUNG
π₯π₯π₯π₯π₯
__ADS_1
...Akhirnya Olive bisa merasakannya gaesπ...