
Dan di pagi harinya, tampak Luna sedang mencuci pakaian di belakang rumah, kehidupan di desa sangatlah berbeda dengan kehidupan di kota, Luna sudah terbiasa dari kecil dengan berbagai kegiatan rumah tangga. Hari itu Luna berada di halaman belakang untuk mencuci pakaiannya, dirinya terlihat sedang mengelap keringat yang keluar dari keningnya yang licin.
Mengingat Luna tengah mengandung, membuat nya sedikit kecapekan dan sesekali ia berhenti untuk melakukan aktivitas nya sembari duduk. Letak sumur dan kamar mandi yang berada di luar rumah membuat Ray dengan mudah melihat Luna yang tengah mencuci pakaian.
Ray yang saat itu sedang pergi ke kamar mandi, mendadak dirinya seperti Jaka Tarub, mengendap-endap mengintai bidadari yang tengah mencuci pakaian. Luna yang hanya menggunakan kain yang sebatas dililitkan pada tubuhnya, membuat Ray terlihat sangat senang melihat pemandangan yang indah di pagi hari ini. Luna belum menyadari bahwa Ray tengah memperhatikannya sedari tadi.
"Eh...mana nih pewangi nya, aduh lupa lagi, masih di dalam rumah kayaknya" ucap Luna sembari mencari pewangi yang belum ia temukan, lantas ia segera beranjak pergi kedalam rumah untuk mengambil pewangi pakaian.
Ray melihat Luna yang sedang masuk kedalam rumah, terbesit dalam pikiran Ray untuk mengerjai istrinya. Ray terlihat berlari kecil dan mengambil sedikit tanah kemudian Ia campurkan ke dalam cucian Luna yang akan Luna berikan pewangi.
"Set"
Dengan cepat Ray menaburkan tanah kering itu di atas bak berisi pakaian Luna yang masih basah dan merendamnya, sehingga membuat air cucian itu menjadi kotor. Setelah itu Ray kembali ke tempatnya dan bersembunyi dibalik pohon Mangga.
Setelah beberapa saat Luna keluar dari rumah sembari membawa pewangi pakaian, alangkah terkejutnya saat Luna kembali menghampiri cuciannya, dirinya melihat air cucian yang berubah menjadi keruh dan kotor.
"Loh...kok kotor lagi sih? Pasti nih karena airnya, aduh masa aku harus ngulang lagi sih, kan capek" keluh Luna sembari duduk lemas. Dirinya yang tengah hamil muda membuat nya lemah dan kurang semangat. Apalagi akhir-akhir ini Luna sering mual dan muntah.
Ini kesempatan Ray untuk mendekati istrinya, dengan percaya diri Ray seolah tidak mengetahui tentang apa yang terjadi pada istrinya. Tiba-tiba saja Luna melihat Ray tengah berjalan menuju kamar mandi yang berdekatan dengan tempat nya mencuci.
Dengan pura-pura Ray seolah terkejut melihat Luna yang terlihat lemas. Kemudian Ray menghampiri Luna dengan hanya bertelanjang dada dan mengalungkan handuk di lehernya. Tampak lah dengan indah pemilik dada berbulu itu datang menghampiri Luna yang tengah duduk diam sembari melihat Ray yang mulai mendekat.
Luna mengalihkan pandangannya saat Ray mulai berada di sampingnya. Karena dirinya terpaksa di hadapkan dengan bentuk tubuh Ray yang sempurna.
"Kamu kenapa?" tanya Ray sembari melihat air bak yang berisi cucian Luna terlihat masih kotor. Luna masih terdiam dan sesekali melirik ke arah suaminya.
"Oh... cucian mu masih kotor, biar aku bantu!" seru Ray sembari mengambil alih pekerjaan Luna. Ray dengan cekatan mencuci dan membilas kembali cucian Luna, termasuk di dalamnya pakaian Ray juga. Meskipun mereka masih berantem, namun Luna tetap melakukan tugasnya, ia tetap mencuci baju milik suaminya juga. Kecuali saat di ranjang, Luna masih belum siap.
Luna melihat Ray mencucinya sedikit kesusahan, mengingat Ray tidak pernah melakukan hal seperti ini, sehingga membuat Luna dibuat gemes dengan cara Ray mencuci baju. Ray mencucinya dengan kasar, sedikit sedikit Ray mencelupkannya dengan kasar.
"Eh...Eh... bukan begitu caranya, ya ampun...kasar banget si nyelupnya, biasa aja dong, jangan seperti itu, bisa-bisa kainnya rusak" gerutu Luna sembari menunjukkan caranya mencelupkan cucian yang baik dan benar. Ray berhenti mencelupkan cucian itu dan melihat Luna yang tampak memberikan nya pelajaran tentang celup mencelup.
__ADS_1
"Sini lihat...biar kamu tahu gimana caranya, pertama kita rentangkan bajunya, seperti ini, terus perlahan kita celupkan ke air bersih dengan pelan agar buihnya pelan-pelan hilang " ucap Luna menerangkan. Sementara Ray tidak bisa konsentrasi melihat istrinya yang tengah menerangkan pelajaran bak seorang guru, Ray hanya terfokus pada dua buah gundukan yang terlihat menyembul karena kain yang dipakai Luna melorot dan tampak basah terkena air saat ia mencuci.
"Tuh... seperti itu caranya, udah ngerti belum? Ray...Kamu lihat apa sih?" seru Luna saat dirinya baru menyadari bahwa Ray sedang melihat dirinya. Dengan cepat Luna menaikkan kain yang hampir melorot tadi.
"Ah...Iya aku sudah mengerti!" jawab Ray terkesiap. Dirinya memang tidak mendengarkan sama sekali apa yang di lakukan Luna tadi.
"Mengerti? Kalau kamu mengerti, coba kamu jelaskan lagi apa yang sudah aku lakukan tadi?" ucap Luna sembari menyilangkan kedua tangannya.
"Hah...Tadi, em tentang mencelupkan cucian, hmm... apa seperti ini" Ray mempraktekkannya dengan salah, membuat Luna memutar bola matanya dan menepuk jidatnya.
"Astaga...Ray, kamu tuh masih kasar banget tau nggak sih nyelupnya!" umpat Luna kesal. Kemudian Ray berhenti dan menatap dalam-dalam wajah sang istri, kemudian Ray mendekatkan tubuhnya pada Luna.
Luna melihat tatapan mata Ray yang mulai terbakar gairah, Luna tahu betul karakter suaminya bila ia tengah menginginkannya.
Ray meraih pinggang Luna dan berkata.
"Apa selama ini kau merasa aku masih kasar mencelupkan nya?" tanya Ray penuh gejolak
"Apa kau ingin aku mencelupkannya dengan lembut?" ucapan Ray terdengar sangat menghipnotis seorang Luna. Membuat Luna seolah tersengat aliran listrik secara tiba-tiba saat dirinya membayangkan bagaimana Ray mencelupkannya dengan lembut.
Sejenak Luna menghayati ucapan Ray, namun tiba-tiba dirinya tersadar bahwa sekarang ia masih kesal dengan suaminya, dengan cepat Luna mendorong tubuh suaminya dan beranjak untuk pergi ke kamar mandi.
"Aku mau mandi" ucap Luna sembari beranjak pergi ke kamar mandi. Tanpa Luna sadari dirinya lupa membawa kain ganti dan handuk yang sudah ia siapkan.
Ray berusaha sabar menghadapi istrinya yang tengah merajuk, namun Ray yakin lambat laun Luna pasti ia dapatkan kembali.
Tampak Ray menunggu istrinya yang tengah mandi di luar sembari duduk si sebuah kursi kayu.
Tampak Luna sudah melepas seluruh kain yang menempel pada tubuhnya. Kemudian ia mandi seperti biasa, setelah dirasa Luna selesai melakukan ritual mandinya, lantas ia mencari-cari handuk dan kain ganti yang sudah ia siapkan tadi.
"Loh... handuknya mana? Kainku?" Luna mencari handuknya yang tidak ada bersamanya. Kemudian ia teringat bahwa dirinya sudah meninggalkan kain dan handuknya diluar.
__ADS_1
"Astaga...kok aku bisa lupa sih? Aku belum membawa handuk" sesal Luna sembari menepuk jidatnya. Tampak Luna mengintip dari dalam, dilihatnya Ray masih ada diluar. Dengan terpaksa Luna meminta tolong kepada Ray untuk mengambilkan handuk miliknya yang tertinggal di luar.
Tampak Luna menggedor pintu kamar mandi, dan itu membuat Ray terkejut dan berlari menghampiri Luna yang masih berada di dalam kamar mandi.
"Ada apa, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ray yang sedikit cemas.
"Aku minta tolong sama kamu" ucap Luna dari dalam.
"Apa?"
"Tolong ambilkan kain dan handukku diatas kursi kayu itu, aku lupa membawanya" jawab Luna pelan.
Ray tampak menyunggingkan senyumnya, kemudian Ray mengambil handuk milik istrinya dengan tatapan mata yang penuh gairah.
"Cepat Ray, aku sudah kedinginan, lama banget sih" umpat Luna kesal
Tak berselang lama Ray mengetuk pintu kamar mandi.
"Buka pintunya! Sudah ku bawakan handuk untukmu" seru Ray dari luar.
"Deg"
Mau tidak mau Luna terpaksa membuka pintu kamar mandi itu.
"Ceklek"
Pintu kamar mandi itu mulai terbuka...
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1