
Sementara itu di rumah Luna, terlihat keseruan antara Ray, Luna, Jasmine dan Abian, mereka saling bercanda dan bercerita. Dan tiba-tiba saja Jasmine meminta Ray untuk ikut pulang bersamanya.
"Kak kita pulang yuk, Mama pasti sudah tidak sabar ingin melihat kalian berdua" seru Jasmine
Ray dan Luna saling menatap, sebenarnya di desa mereka sangatlah betah, disini Ray dan Luna semakin mesra apalagi sekarang mereka sudah akur dan baikan. Ray tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari sang istri, sehingga membuat Abian tergoda untuk menyindir mereka berdua.
"Ehem...ehem...Ray! Apa tanganmu ada lemnya? Aku perhatiin dari tadi nempel terus nggak lepas-lepas" ucap Abian sambil garuk-garuk tengkuknya.
Luna spontan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ray, terlihat wajah malu-malu Luna dengan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Eh...aku ke belakang dulu" pamit Luna beranjak pergi.
"Eh tunggu Lun, aku ikut...aku mau ke kamar mandi" seru Jasmine mengikuti kakak iparnya.
"Loh...kok malah ditinggal sih, eh ladies kalian mau kemana?" seru Abian yang melihat Jasmine ikut Luna masuk ke dalam.
"Bentar, aku mau pipis...emang kamu mau ikut?" jawab Jasmine
"Ya... kalau dibolehkan, ya nggak papa!" celetuk Abian.
"Huuh dasar otak mesum...!" umpat Jasmine
Abian hanya terkekeh melihat sikap Jasmine, sementara Ray tampak tersenyum melihat kemesuman Abian yang sama dengan dirinya.
"Jangan macam-macam kamu sama adikku, kalau saja aku tahu kamu berani nyakitin hatinya, siap-siap aja Lu berhadapan dengan Ray" ucap Ray sambil menunjukkan lengan kekarnya.
"Itu nggak akan pernah terjadi, aku pasti selalu ngebahagiain Jasmine, kamu jangan khawatir" jawab Abian optimis.
"Ngomong-ngomong kapan kamu kembali ke Surabaya? Tante Shesa pasti udah kangen banget, udah seminggu kamu ninggalin rumah" seru Abian.
"Ya...aku nunggu Ayah mertua pulang dulu, setelah itu aku akan minta izin kepada beliau untuk membawa istriku kembali" jawab Ray.
Tiba-tiba saja seorang tetangga Bayu datang dengan sedikit terburu-buru.
"Mbak Luna! Mbak Luna!" Wanita itu tiba-tiba memanggil Luna berkali-kali.
Ray dan Abian yang mendengar hal itu, langsung keluar dan menghampiri wanita itu.
"Ada apa Bu?" tanya Ray yang sedang menghampiri wanita paruh baya itu.
"Maaf Mas, itu pak Bayu tadi terjatuh di warungnya, sepertinya penyakit pak Bayu sedang Kambuh" ucap wanita itu.
"Apa? Ayah jatuh? Baik- baik saya segera kesana" Ray langsung tanpa basa basi pergi ke warung Bayu yang tidak jauh dari rumah mereka.
__ADS_1
Sementara Abian tampak ikut cemas mendengarnya.
"Abi! Aku ke warung dulu, jangan bilang pada istriku kalau Ayah mertuaku sakit, aku takut dia kepikiran, aku pergi dulu" seru Ray kepada Abian, agar tidak bilang kepada Luna tentang keadaan ayahnya.
"Oke" jawab Abian
Dengan cepat Ray pergi ke warung Bayu, untuk menolong ayah mertuanya. Sementara itu Luna dan Jasmine yang masih berada di belakang rumah, tampak sedang asyik mengobrol, mereka tidak tahu keadaan Bayu yang sebenarnya.
Jasmine menceritakan bagaimana sang kakak ketika mendapat hukuman dari Vano dan Shesa, pukulan yang bertubi-tubi menghujam seluruh tubuh Ray, namun Ray tidak membalasnya, demi pengampunan dari kedua orang tuanya, Ray rela menerima akibatnya.
Terlihat mata Luna mulai berkaca-kaca saat mendengar penuturan dari Jasmine tentang Ray yang mendapat hukuman dari Vano.
"Kakak merasa sangat kesakitan waktu itu, tapi Ia tidak memperdulikannya, yang ada dalam pikirannya hanyalah pengampunan dari papa dan mama" ucap Jasmine menjelaskan.
"Kakak sangat mencintaimu Lun, dia benar-benar menyesali perbuatannya, Aku bisa lihat itu, kakak menangis saat teringat akan dirimu, aku benar-benar tidak tega melihatnya" ucapan Jasmine membuat Luna tanpa sengaja menitikkan air matanya.
"Luna! Baru kali ini aku melihat kesungguhan hati dalam diri kakak, selama ini belum pernah ada gadis satupun yang mampu meluluhkan hatinya, hanya kamu yang bisa, iya hanya kamu" ucap Jasmine sungguh-sungguh.
Luna sangat terharu mendengar penuturan dari adik iparnya itu. Dirinya sangat bersyukur bisa mendapatkan Ray yang begitu mencintainya, apalagi akan hadir dari rahimnya, buah cinta mereka berdua yang sedang tumbuh.
"Mama pasti sangat senang saat melihat kalian berdua pulang, Mama sudah tidak sabar ingin melihat cucunya, ayo kita pulang Lun, kita pulang secepatnya" ajak Jasmine sambil meraih tangan Luna, memohon kepada kakak iparnya untuk segera kembali kepada keluarga Perkasa.
"Iya...aku pasti pulang, kita tunggu ayah pulang dulu, setelah mendapat izin darinya, maka aku akan segera pulang bersama kalian" jawab Luna meyakinkan.
"Baiklah, kita keluar dulu... mereka berdua pasti sedang menunggu kita" ajak Luna
Lantas keduanya pergi keluar dan menghampiri Ray dan Abi yang masih berada di ruang tamu. Namun saat mereka tiba di ruang tamu, nyatanya mereka tidak melihat Ray ataupun Abian.
"Loh... mereka berdua kemana?" seru Jasmine sembari memperhatikan sekitar.
Namun tiba-tiba saja Abian masuk kedalam rumah, dan Luna dan Jasmine merasa terkejut dan aneh.
"Abi! Kamu dari mana saja?" tanya Jasmine
"A...aku, sedang mencari angin...iya...mencari angin" jawab Abian gugup.
"Terus Ray kemana?" tanya Luna
"Ray...Ray sedang ke..." belum sempat Abian mengucapkan hal yang sebenarnya. Tiba-tiba saja wanita tua itu datang kembali.
"Loh mbak Luna, kok masih ada disini?" tanya tetangga itu.
"memangnya apa yang sedang terjadi?" tanya Luna cemas
__ADS_1
"Katakan!" desak Luna agar tetangga itu segera mengatakan hal yang sebenarnya.
"Loh mbak Luna belum tahu toh, jika pak Bayu sedang terjatuh saat di warungnya, sekarang mas Ray sedang menuju ke sana" ucapan sang tetangga membuat Luna terdiam lemas.
"Ayah, apa yang terjadi pada Ayah" ucap Luna dengan nada suara yang melemah.
"Eh..eh...Lun kamu kenapa? Ayo kita masuk dulu ke rumah" ucap Jasmine sambil menahan tubuh Luna yang terlihat lemas saat mendengar berita tentang Bayu.
Kemudian Jasmine membawa Luna ke kamarnya, dengan hati-hati Luna mulai duduk di atas tempat tidurnya.
"Kamu jangan khawatir, kakak sedang menuju ke warungnya, semoga pak Bayu baik-baik saja, kakak pasti bisa mengatasinya, kamu tenang aja" ucap Jasmine mencoba menenangkan Luna.
Sementara di warung ikan bakar milik Bayu, sudah ada beberapa orang yang tengah menolong Bayu, kemudian hanya dalam beberapa menit Ray sudah tiba di warung, kemudian ia dengan cepat menghampiri mertuanya yang sedang terbaring lemas.
"Ayah... Ayah tidak apa-apa?" tanya Ray sambil melihat kondisi Bayu yang terlihat lemah.
"Ayah tidak apa-apa, mungkin Ayah yang terlalu kecapekan, kepala Ayah pusing sekali" jawab Bayu.
Karena Ray sangat mengkhawatirkan ayah mertuanya, akhirnya ia memutuskan untuk membawa Bayu ke tempat fasilitas kesehatan di sekitar Tempat tinggalnya.
"Tapi Nak Ray, dengan apa kita ke sana, tempatnya sangat berkelok, kondisi jalanan juga cukup terjal, kamu jangan khawatir, Ayah pasti baik-baik saja" seru Bayu .
"Saya tidak mau melihat Ayah sakit, dan saya tidak mau istri saya kepikiran Ayah, Apa tempatnya jauh dari sini?" tanya Ray tentang puskesmas terdekat.
"Sekitar lima ratus meter dari sini" jawab Bayu
Setelah mendengar ucapan Bayu, Ray segera membawa sang mertua yang tampak kelelahan itu, dengan mengendong Bayu di belakang punggungnya.
"Ayah, kita ke puskesmas sekarang" ucap Ray sambil menawarkan punggungnya untuk Bayu, ini dilakukan Ray agar Bayu cepat segera di tangani, ia tidak mau terjadi apa-apa pada mertuanya.
"Ayah, mari saya akan menggendong Ayah" seru Ray dengan senang hati. Beberapa orang menuntun Bayu untuk naik ke punggung menantunya.
"Hati-hati Mas" ucap seseorang yang ikut membantu Bayu.
"Iya... saya pasti hati-hati" jawab Ray dengan menahan sang Ayah mertua di atas punggungnya.
Bukanlah hal yang sulit untuk Ray menggendong Ayah mertuanya, hanya yang sulit mungkin kondisi alam pedesaan yang sedikit terjal.
Lokasi warung Bayu dan tempat fasilitas kesehatan jaraknya cukup dekat, namun untuk melewati jalan utama menuju ke puskesmas harus melewati berbagai tanjakan, lokasi daerah rumah Bayu memang terkenal curam dan terjal.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1
...Aduh babang Ray...menantu idaman sekali 🥰🥰🥰...
...Maaf ya jika masih ada typo 🙏🤭...