
Ray dan Luna spontan menengok kearah sumber suara, keduanya sangat terkejut saat melihat Jasmine, Vano dan Shesa menyaksikan mereka berdua yang tak sengaja beradegan mesra.
"Ray...Luna! Apa-apaan ini?" seru Shesa yang ikut terkejut dengan keadaan mereka yang seperti bermesraan.
Dengan cepat Luna mendorong tubuh Ray kuat-kuat, sehingga membuat Ray terjatuh ke lantai.
"Hiiii...minggir" pekik Luna sembari mendorong dada Ray yang menempel pada tubuhnya.
"Bruuukkk"
Alhasil tubuh besar Ray langsung jatuh ke lantai.
"Awwwww....aisss" pekik Ray saat tubuhnya terbentur ke lantai. Kemudian Luna beranjak bangun dan berdiri dan mencoba menjelaskan kepada mereka tentang hal yang sebenarnya.
"Bu Shesa, Pak Vano, Jasmine ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Kalian sudah salah paham!" ucap Luna dengan tubuh yang masih gemetar.
Terlihat Jasmine, Vano dan juga Shesa tidak percaya akan pemandangan yang baru saja mereka lihat. Sementara itu Ray mencoba beranjak berdiri, dengan sedikit sempoyongan karena efek minum tadi, Ray mencoba menjelaskan kepada kedua orang tuanya tentang kesalahpahaman ini.
"Ma, Pa, Jasmine...ini tidak benar, aku dan dia tidak melakukan apa-apa" ucap Ray sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.
"Ini semua gara-gara kamu tahu nggak" seru Luna kesal.
"Bukan aku, kamu yang sudah membuatku kaget, ngapain kamu melepas bajuku!" ucap Ray
"Yee...harusnya Kamu tuh berterima kasih udah kutolongin, daripada entar kamu sakit, aku juga yang repot" sentak Luna.
"Dasar kamu saja curi-curi kesempatan ingin menyentuhku, iya kan?" balas Ray
Ray dan Luna tampak beradu argumen, dan itu membuat Vano menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Diaaammm"
Tampak Ray dan Luna terdiam mendengar ucapan Vano yang keras. Vano menghela nafasnya dan berjalan menghampiri dua orang yang baru saja terciduk. Ray dan Luna sedikit gugup saat Vano mulai mendekati mereka berdua.
"Papa memang tidak tahu awal mula kalian bisa seperti ini, Ray...Kamu sudah membuat kesalahan yang fatal hari ini" Seru Vano sembari menatap Ray tajam.
__ADS_1
"Apa maksud Papa!" balas Ray penasaran.
Kemudian Vano berjalan menghampiri Shesa dan merangkul istrinya itu sembari berkata kepada putra sulungnya itu.
"Ray...kau lihat Mamamu, bagaimana Mamamu sangat mengkhawatirkanmu, dia tidak bisa tidur, hanya untuk menunggumu pulang, sementara kamu justru mabuk-mabukkan, dan membuat kerusuhan dirumah gadis ini" Seru Vano serius.
"Pa...bukan begitu ceritanya ...." ucap Ray menyela
"Diam...aku belum selesai bicara" jawab Vano dengan nada sedikit emosi. Tampak Shesa dan Jasmine saling menatap, entah apa yang akan dilakukan oleh Vano saat ini, mengingat jika Vano sudah emosi, dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya.
"Sekarang mau tidak mau kamu harus menuruti perintah Papa, nikahi gadis itu, karena secara tidak langsung kamu sudah menyentuh dirinya, Papa juga seorang ayah yang memiliki anak perempuan, Papa pasti sangat sakit jika hal ini terjadi pada Jasmine, itulah kenapa Papa menyuruhmu untuk menikahi Luna"
Ucapan Vano bak aliran air terjun yang jatuh mengenai puncak kepala Ray, terasa masih pusing kepalanya karena efek minum, ditambah lagi ucapan sang Papa yang membuatnya semakin pusing.
"Apa Pa? Menikahi gadis ini? Papa tidak bercanda kan?" seru Ray terkejut, berharap Vano hanya bercanda.
"Papa tidak bercanda, Papa serius" balas Vano singkat dan jelas.
Sementara Luna terduduk lemas saat mendengar ucapan Vano yang menyuruh putranya untuk menikah dengannya.
"Menikah? Dengan pria konyol ini? Ya Tuhan, aku datang jauh-jauh dari kotaku menuju kota besar ini adalah untuk menghindari perjodohan, tapi disini justru aku harus menikah dengan cowok aneh ini" gumam Luna sembari menundukkan wajahnya.
"Mama setuju, Ray...kau harus menikahi Luna secepatnya, mama merasa Luna adalah gadis yang baik, entah kesalahan ini disengaja atau tidak, Mama akan tetap setuju jika kamu menikah dengan Luna, karena Mama yakin kamu mempunyai rasa terhadap Luna, iya kan?" ucapan Shesa sontak membuat Luna terkejut.
Ray terlihat bingung dan salah tingkah, jika sang Mama sudah berucap, Ray tidak bisa berkata apa-apa, karena Shesa adalah wanita yang membuat Ray tunduk dan menurut.
Sementara itu Shesa menghampiri Luna yang terdiam di tempatnya.
"Luna, kamu tidak perlu khawatir, kami akan mengurus semuanya, kami pasti meminta izin kepada ayahmu, karena aku yakin kamu pasti bisa membuat Ray berubah" seru Shesa menatap dalam-dalam wajah Luna.
"Tapi Bu Shesa, saya..." ucap Luna yang keburu disela oleh Jasmine.
"Mama benar Lun, aku juga setuju jika kamu menikah dengan kakak" ucapan Jasmine membuat lengkap sudah persetujuan pernikahan antara Ray dan Luna.
Ray hanya bisa pasrah, Ia terpaksa mengikuti perintah kedua orang tuanya untuk menikahi Luna, gadis yang baru sehari sudah membuatnya terjerat dalam ranah pernikahan.
__ADS_1
"Kalau bukan karena Mama, aku tidak mau menikahimu"
"Kamu pikir aku mau menikah denganmu, kalau bukan karena bu Shesa dan pak Vano yang minta, aku ogah mempunyai suami model kamu"
"Awas saja nanti, aku akan membuatmu telah menyesal sudah menikah dengan Ray"
"Hah ...emang Aku takut, aku nggak takut sama sekali, kamu tidak akan bisa menindasku semaumu, justru aku yang akan membuatmu menyesal telah berani masuk ke dalam hidupku"
Ray dan Luna saling menatap, dua pasang mata itu saling berbicara, seolah mereka sedang berdiskusi.
"Baiklah, sekarang kau pulang Ray, besok aku dan Mamamu akan menyiapkan pernikahan kalian segera, lebih cepat lebih baik" ucap Vano serius.
"Papa benar, Mama dan Papa akan segera menemui ayah Luna, dan meminta persetujuannya untuk menyerahkan putrinya menjadi menantu Mama" ucap Shesa penuh harap.
"Selamat ya Kak, Jasmine ikut bahagia kakak akan menikah dengan orang yang tepat, Jasmine yakin Luna akan membuat kakak jatuh cinta, dan kakak tidak akan pernah ingin jauh dari Luna" bisik Jasmine yang membuat Ray memutar bola mata nya.
"Tahu apa kamu? Sudah jangan pernah memuji gadis itu, bagi kakak, dia hanya wanita biasa nggak ada istimewanya, sama dengan gadis-gadis yang kakak temui dimana-mana" ucap Ray mengelak.
"Benarkah? Kakak nggak boleh gitu, nanti kalau kakak jatuh cinta beneran, baru tahu rasa loh" sindir Jasmine.
"Jatuh cinta sama dia, kakak rasa itu cuma mimpi, pernikahan ini tidak ada cinta, jadi jangan berharap aku dan dia bisa bertahan" jawab Ray ketus.
"Kita lihat saja nanti kak, Jasmine yakin kakak akan jatuh cinta beneran kepada Luna, dan kakak tidak akan bisa melepaskan Luna, ingat kata-kata Jasmine" bisik Jasmine yang diselingi tawa kecilnya.
Akhirnya malam itu juga Ray beserta keluarganya pamit pulang kepada Luna.
"Luna, kami pulang dulu, besok kalau tidak ada halangan aku dan suamiku akan datang kerumah ayahmu untuk membicarakan rencana pernikahan kalian." ucap Shesa tersenyum.
"Bu Shesa, apakah semua ini benar? Apakah saya benar-benar akan menikah dengan dia?" tanya Luna dengan sendu.
"Luna, apa kamu melihat kebohongan di mataku, aku dan suamiku tidak pernah bercanda, kami selalu melakukan hal yang menurut kami baik untuk semua, baik untuk dirimu dan juga baik untuk Ray, aku janji hidupmu akan selalu bahagia bersama Ray, hmm...kamu gadis yang manis, seandainya ibumu masih ada, aku pasti sangat berterima kasih padanya, karena dia telah membawa putrinya masuk kedalam hidup putraku, aku yakin Ray menaruh hati kepadamu, tinggal menunggu waktunya saja,hingga kamu berhasil membuat Ray menyatakan perasaannya" ucapan Shesa membuat Luna tersipu malu.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤
__ADS_1
...Uluh - uluh Bu Shesa calon mertua idaman euy 😊❤...
******