TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK

TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK
Bonchap Sendal sisihan


__ADS_3

Di rumah sakit


Abian terlihat panik melihat sang istri, dirinya tidak tega melihat Jasmine yang kesakitan, sementara dokter memandu Jasmine untuk mengejan dan mengatur nafasnya. Jasmine memegang kuat tangan Abi.


"Dokter rasanya sakit sekali!" rintih Jasmine saat perutnya si jabang bayi mulai menunjukkan aktivitasnya. Sedangkan Abi mencoba menguatkan sang istri dengan memeluknya erat.


"Sayang kamu harus kuat, demi anak kita" ucapnya sambil mencium kening Jasmine yang sudah penuh dengan keringat itu.


"Sakit sekali Bi! Ini benar-benar sakit, besok aku tidak mau melahirkan lagi, kamu saja yang melahirkan" Jasmine berseru sembari melihat kedua kakinya yang sudah terbuka lebar.


"Jangan gitu dong sayang, kita kan berencana punya anak lima, ini masih satu, kamu udah nyerah, yang empat bagaimana?" seru Abian sambil melihat perut Jasmine yang menjulang tinggi itu.


"Pokoknya yang empat kamu yang ngelahirin" Jasmine masih sempat menjawab pertanyaan suaminya, sebelum dirinya mengejan untuk mengeluarkan bayinya.


Abian yang melihat secara langsung proses kelahiran anaknya, tampak membulatkan matanya saat kepala bayi itu mulai terlihat dari jalan lahirnya.


"Oh my God! Apa itu?" Tiba-tiba saja Abian tak bisa berkata apa-apa ketika secara perlahan kepala bayi mulai muncul dan akhirnya keluar dengan selamat.


Dokter menangkap tubuh bayi mungil itu dan membalikkan badannya, setelahnya dokter memutuskan tali pusat bayi. Suara tangis bayi laki-laki itu pecah seketika, memenuhi ruangan persalinan dimana Jasmine berada.


Abian yang melihat secara langsung detik-detik putranya dilahirkan itu, begitu terharu dan tiba-tiba saja dirinya menitikkan air mata.


"Selamat ya Pak! bayi Anda tampan sekali" ucap dokter sembari memberikan bayi Abian.


Abian menerima putranya dan mendekapnya begitu lembut di dalam pelukannya. air matanya tidak bisa terbendung lagi, dirinya tidak bisa membayangkan betapa perjuangan sang istri yang begitu luar biasa, bagaimana tempat sekecil itu, bisa muat untuk satu kepala bayi keluar, kalau bukan karena kuasa sang Pencipta.


"Terima kasih Tuhan! Engkau telah memberikan putra yang tampan kepada kami, aku sangat bersyukur kepadamu, Engkau telah menyelamatkan dua orang yang sangat aku cintai, anakku dan istriku" Abian mengecup mesra kening putranya yang masih memerah itu.


Kemudian Abian menghampiri istrinya yang tampak kelelahan.


"Lihatlah sayang! Putra kita, dia sudah lahir dengan selamat, terima kasih kamu sudah memberikan ku kebahagiaan, aku sangat mencintaimu" Abian mengecup kening istrinya dengan lembut.


Jasmine menatap wajah bayinya untuk pertama kali, Ia sangat terharu melihat wajah sang putra yang ia pandangi penuh kasih sayang.


"Hai sayang, Ini Mama Nak! Setiap hari Mama selalu membawamu kemanapun Mama pergi, sekarang Mama bisa memandang wajahmu, tapi... kenapa dia tidak mirip aku!" Jasmine menoleh ke arah suaminya. Sontak Abian melihat wajah bayinya yang sangat mirip sekali dengannya.


"Waaahh... ternyata dia menurun Aku, hmm pinter kamu nak, mantap!" Abian bangga karena wajahnya begitu mirip dengan bayinya.


"Ini nggak adil, aku yang ngelahirin tapi kenapa dia mirip sekali denganmu, harusnya ada kemiripan sedikit denganku" protes Jasmine, kemudian Abi menjawab enteng


"Ya pastilah lebih mirip denganku, setiap hari aku rajin menjenguknya, iya kan sayang!" ucap Abian sembari memperhatikan ekspresi sang istri.


Terlihat dokter dan suster ikut tersenyum mendengar percakapan sepasang suami istri itu, yang ribut mempermasalahkan sang anak lebih mirip siapa.


"Pak Abi, Bu Jasmine! Yang pastinya bayi Anda begitu tampan, tentu saja bayi kalian mirip sekali dengan Anda berdua, buatnya sama-sama, pastinya wajah ayah dan ibunya ikut dalam wajah bayi mungil ini." ucap dokter yang saat itu sedang menjahit milik Jasmine yang robek.

__ADS_1


Ucapan dokter membuat Jasmine dan Abian tampak malu.


"Baiklah sekarang sudah selesai! Bu Jasmine harus istirahat dulu sampai benar-benar keadaannya pulih, nanti saya kembali lagi, sekali lagi selamat ya untuk kehadiran bayi kalian" Kemudian dokter segera keluar dari kamar mereka.


"terima kasih dok!" jawab keduanya.


Dan akhirnya Shesa dan Vano sudah tiba di rumah sakit, sepasang suami istri itu sudah tak sabar ingin melihat cucu baru mereka. Mereka berdua bertanya kepada resepsionis dimana kamar Jasmine.


Lantas resepsionis menunjukkan kamar di mana Jasmine di rawat, dengan segera Vano dan Shesa menuju kamar yang dimaksud. Shesa terlihat antusias sekali, wajahnya terlihat berseri, karena dirinya akan mendapatkan cucu kedua dari anak kedua mereka, Jasmine.


Begitu pun Nabila dan Derry, yang sudah sampai di depan rumah sakit, keduanya juga sangat bahagia menyambut kedatangan cucu pertama mereka.


"Ayo Pa! Cepetan Mama sudah tidak sabar lagi melihat cucu kita" seru Nabila kepada suaminya.


"Iya bentar Ma! Astaga...!" Derry Tampak menepuk jidatnya saat dirinya tahu jika sendal yang ia pakai ternyata berbeda pasangan. Karena saking paniknya saat mendengar kabar jika cucunya akan segera lahir, tampaknya Derry tidak menyadari jika sendal yang ia kenakan berbeda sebelah, yang kanan miliknya tapi yang kiri milik istrinya. Karena dalam keadaan sudah malam dan situasi panik, Derry pikir Ia sudah memakai sendal yang sama, ternyata salah satunya adalah sendal milik Nabila



"Ada apa Pa?" Nabila menoleh kearah suaminya.


"Aduh Ma! Mama gimana sih ini, meletakkan sendal sembarangan, tuh sendal Papa sisihan nih, malu sama besan Ma!" ucap Derry dengan ekspresi gugup.


"Aduh Papa gimana sih! Kok bisa sampai salah, itu kan sendal Mama Pa!" Nabila melihat kearah kaki suaminya yang jelas terlihat sendal yang dipakai Derry berbeda sebelah.


"Papa panik Ma! Papa nggak kelihatan kalau sendalnya beda, ya Papa pikir sendalnya udah betul"


"Entar pak Vano dan Bu Shesa ngetawain Papa gimana dong Ma! Malu" Derry bersuara sembari berbisik kepada istrinya.


"Nggak! Nggak bakalan di ketawain, ayok... Abian pasti sudah nungguin kita"


Nabila menggandeng tangan Derry untuk segera pergi ke ruangan tempat Jasmine di rawat.


Sementara itu Vano dan Shesa sudah tiba di ruangan perawatan pasca melahirkan, mereka melihat Jasmine yang tengah berbaring dengan perut yang terlihat mengempis. Sementara di sebelahnya seorang bayi tampan tengah menemani Jasmine.


"Jasmine!"


"Mama!"


Shesa mendekati Jasmine dan cucunya, dilihatnya bayi yang tampan yang menggemaskan itu.


"Jasmine, dia cucu Mama, dia tampan sekali"


Shesa menggendong cucunya itu penuh kasih sayang, Vano menghampiri Shesa yang tengah menggendong cucu kedua mereka.


"Lihat deh sayang! Dia lucu banget" Shesa menunjukkan betapa menggemaskannya cucu keduanya itu.

__ADS_1


"Dia mirip sekali dengan ayahnya" seru Vano, namun tiba-tiba saja Jasmine protes dengan ucapan Vano.


"Kenapa semuanya pada bilang, jika bayiku mirip ayahnya, terus aku di bagian mana Pa? Mirip apanya kek!"


Vano dan Shesa terkekeh melihat tingkah Jasmine.


Hingga akhirnya Nabila dan Derry terlihat datang. Vano dan Shesa menyambut kedatangan besannya itu, begitu pun Abian yang sudah menunggu kedatangan kedua orang tuanya itu.


"Nabila, lihatlah...cucu kita sangat tampan!" ucap Shesa kepada sahabat sekaligus besannya itu.


"Iya ...kamu benar" jawab Nabila sembari mencium kening cucu pertamanya itu.


Tiba-tiba saja Abian melihat sang ayah yang sedang tidak memakai sendal, lantas Abi bertanya.


"Pa! Kenapa nggak pakai sendal?" tanya Abi sembari melihat kearah bawah, Derry yang tampak bertelanjang kaki.


Sontak semua mata memandang kearah kaki Derry.


"Hehehe... sendalnya Papa lepas di luar" jawab Derry


"Loh kenapa harus di lepas Pa! Di pakai saja" ucap Abian sembari mengambilkan sendal milik Derry yang di lepas di luar pintu.


"Astaga! Papa...."


Abian menepuk jidatnya saat ia membuka pintu dan melihat sendal yang di lepas oleh Derry.


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


*


*


*


Sambil nunggu othor kasih bonchap lagi, kalian bisa mampir dulu ke karya kak Yuthika Sarah yang berjudul Ranjang Pelampiasan Dewa 👇👇👇


*


*


Dewa Erlangga dan Dita Mahesa, menikah karena terpaksa. Keduanya saling memanfaatkan situasi.


Akankah kebersamaan itu timbul benih-benih cinta? Sementara Dewa hanya menganggap Dita sebagai pelampiasannya untuk memuaskan diri dari nafsunya di masa lalu.

__ADS_1


Yuk, ikutin ceritanya ...



__ADS_2