
Pagi ini Ray berangkat ke kantor dengan perasaan yang tak karuan, hatinya dibuat bimbang oleh gadis yang membuatnya tergila-gila itu. Selama perjalanan, dirinya tak bisa melupakan bayangan Luna, wajah Luna selalu menghiasi pelupuk matanya.
Ray bisa saja menolak Luna, namun hatinya berkata lain, setiap kali Ray ingin menjauh, justru itu membuatnya semakin penasaran.
"Ray...Kau benar-benar lemah, Luna adalah putri Mita, wanita yang kau benci, jangan sampai cinta menghapus dendammu"
"Ray...Luna tidak bersalah, Luna tidak pernah minta dilahirkan dari rahim Mita, ini sudah takdir, Luna gadis yang baik, jangan nodai cintamu hanya dengan dendam yang akan membuatmu menyesal"
"Kau harus tetap membencinya Ray, gadis itu perlu mendapat sakit hati yang sama, jangan biarkan dia bebas dari penderitaan, buat gadis itu membayar semua apa yang dilakukan ibunya"
"Jangan Ray, Luna sangat mencintaimu, apa kau tega membuatnya terluka, kau tidak akan pernah mendapatkan cinta setulus cinta Luna, pertahankan dia Ray, Luna adalah pendamping hidupmu"
Pertautan batin Ray yang membuatnya dilema, disisi lain Ray sangat mencintai Luna, tapi disisi lain perasaan dendam itu masih membekas selalu dalam hatinya.
"Haaaa...Kenapa semua ini harus terjadi padaku, kenapa aku bisa selemah ini" Ray mengumpat dirinya sendiri.
Setelah beberapa menit, Ray akhirnya tiba di kantor, Ia berjalan menuju ruangan nya, sementara para karyawan dibuat senyum-senyum dengan kedatangan putra Vano dan Shesa itu.
"Astaga...Tuan muda habis bertarung semalam"
"Pasti sangat seru, sampai merah-merah gitu"
"Iya betul... ya ampun gemes ih"
"Ih pasti agresif banget nih, sampai segitunya"
"Bisa dilihat itu totol-totol merah pasti membuat Tuan muda melayang tinggi"
"Hei...Jangan keras-keras, nanti dia dengar"
Bisik-bisik para karyawan yang mengetahui adanya tanda merah di leher Ray.
Ray melihat setiap karyawan yang menyapanya selalu senyum-senyum seolah ada yang aneh pada dirinya.
"Kenapa mereka lihatin aku seperti itu? Apa ada yang aneh pada diriku?" gumam Ray
__ADS_1
Kemudian sekretaris Jimmy, sekretaris kepercayaan Vano, tampak menghampiri Ray yang baru datang ke dalam ruangan.
"Selamat pagi Tuan muda" sapa sekretaris Jimmy yang diiringi tawa kecilnya.
"Pagi juga Pak Jimmy" jawab Ray sembari memperhatikan Sekretaris Jimmy.
"Kenapa Pak Jimmy? Kenapa bapak tertawa? Apa ada yang lucu dengan saya? Tadi karyawan juga tampak begitu! Apa saya terlihat jelek?" tanya Ray penasaran.
Sekretaris Jimmy hanya bisa tersenyum melihat putra Vano yang mempunyai cerita yang tak jauh beda dengan ayahnya.
"Maaf Tuan muda, bukannya saya bermaksud menertawakan Anda, tapi apa yang Anda alami saat ini persis dengan apa yang pernah terjadi pada Pak Vano dulu" seru Sekretaris Jimmy mengingat kejadian saat Vano memiliki bekas lipstik Shesa di bibirnya. Sehingga membuat seluruh kantor heboh.
"Apa maksud pak Jimmy?" tanya Ray yang belum mengerti maksud sekretaris Jimmy.
"Dulu pak Vano tidak sadar jika bibirnya terdapat bekas lipstik Mama Anda, ya sepertinya sebelum berangkat ke kantor, mereka berciuman sehingga meninggalkan sisa lipstik Mama Anda" ucap Sekretaris Jimmy
"Lantas apa hubungannya dengan saya?" tanya Ray menyelidik.
"Tuan muda, apa pagi ini Anda sudah melihat ke cermin?" pertanyaan sekretaris Jimmy membuat Ray mengerutkan keningnya.
"Coba lihat sekali lagi Tuan muda" seru Sekretaris Jimmy sembari memberikan sebuah cermin kepada Ray.
Ray tampak ragu menerima cermin yang diberikan oleh Sekretaris Jimmy kepada nya. Untuk apa dirinya harus bercermin lagi. Ray menerima cermin itu, kemudian ia menatap wajahnya sembari menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.
Alangkah terkejutnya saat Ray menoleh ke kiri, terlihat tanda merah di leher sebelah kirinya. Dan tentu saja itu tanda cinta dari Luna, karena semalaman mereka berdua tengah asik bercinta.
"Astaga...Ini? Kenapa ini ada pada leherku?" gumam Ray saat tahu tanda merah di lehernya adalah buah karya sang istri saat mereka tengah menikmati surga dunia.
Ray tampak salah tingkah dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh...Ini bukanlah apa-apa, sudahlah kita lupakan" ucap Ray sembari menyerahkan kembali cermin itu kepada sekretaris Jimmy.
"Maaf Tuan muda, Saya tidak bermaksud lancang" seru Sekretaris Jimmy.
"Tidak apa-apa, lagipula ini hanya tanda merah biasa, bukan sesuatu yang seperti Anda kira pak Jimmy" seru Ray yang tampak malu.
__ADS_1
"Tuan muda Anda tidak perlu malu, itu wajar terjadi pada pasangan pengantin baru, saya doakan semoga Tuan muda lekas mendapat momongan, semangat Tuan muda...Anda pasti bisa" ucap Sekretaris Jimmy
"Apa momongan? Hehe saya belum terlalu jauh untuk berfikir kesana Pak Jimmy" jawab Ray sembari duduk di kursi kebesarannya.
"Jangan menunda-nunda Tuan muda, kalau bisa semakin cepat semakin baik, karena hadirnya seorang anak akan mempererat hubungan suami istri, Saya berharap Tuan muda dan Nona Luna selalu bahagia, seperti Pak Vano yang dulu sangat bahagia dengan lahirnya Anda ke dunia ini, Pak Vano semakin mencintai istrinya, mudah-mudahan ini juga menular pada Anda" seru sekretaris Jimmy sembari tersenyum.
"Aku belum yakin bisa mencintai istriku sepenuhnya, setelah Aku mengetahui segalanya tentang dia" gumam Ray menundukkan wajahnya.
Sekretaris Jimmy melihat Ray yang tampak bersedih.
"Tuan muda kenapa?" tanya sekretaris Jimmy menyelidik.
"Ah... Tidak ada pak Jimmy, cuma ada sesuatu yang sedikit mengganjal pikiran saya" jawab Ray dengan tersenyum paksa.
"Apa maksud Tuan muda?" tanya Sekretaris Jimmy sembari mengerutkan dahinya.
"Pak Jimmy saya mau tanya sesuatu, apa yang pak Jimmy lakukan jika pak Jimmy mengetahui bahwa orang yang pak Jimmy cintai ternyata adalah anak dari seseorang yang pak Jimmy benci, apa pak Jimmy akan ikut membencinya?" tanya Ray penasaran dengan jawaban dari Sekretaris Jimmy.
"Kenapa Tuan muda bertanya seperti itu?" sekretaris Jimmy semakin penasaran.
"Tidak, saya cuma ingin tahu pendapat Anda?" balas Ray
"Tuan muda, cinta itu suci, cinta itu anugerah, cinta itu akan merubah kebencian, dengarkan kata hati Anda, jika Anda takut kehilangannya, itu tandanya Anda sangat mencintainya, dan hilangkan kebencian Anda pada orang yang telah melahirkan orang yang Anda cintai, dia tidak minta dilahirkan dari rahim seseorang yang Anda benci, jika dia bisa memilih, dia akan memilih dilahirkan dari orang yang tidak ada hubungan dendam dengan Anda" ucapan Sekretaris Jimmy sejenak membuat Ray berfikir.
"Ini sudah takdir, mencintai seseorang yang yang kebetulan adalah anak dari orang yang kita benci, lagipula untuk apa kita menyimpan benci kepada mereka yang telah menyakiti kita, Tuhan tidak tidur Tuan muda, kita percaya padaNYA, jangan sampai Tuan muda menyesal, cintai dia sepenuh hati, karena dia tidak tahu apa-apa tentang keadaan yang sebenarnya"
ucap Sekretaris Jimmy.
Tampak Ray memijit pelipisnya. Betapa dirinya dibuat dilema.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥
...Bab spesial di hari yang Fitri ini, semoga reader tetap setia memantau kisah Ray dan Luna, jangan lupa dukungan nya , dengan like komentar hadiah dan vote 😊...
__ADS_1
...Saya pribadi Author LichaLika, mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi reader yang merayakan nya, mohon maaf bila ada kata-kata author yang kurang berkenan...mohon dimaafkan lahir dan batin 🙏😊...