
"Siapa Pak? anak dari pemilik perusahaan besar PT Elang Perkasa Company? Apakah Ray putra pak Vano?" tanya Bayu sekali lagi plus tidak menyangka jika yang melakukan itu semua adalah menantunya sendiri.
"Betul sekali Pak Bayu, apa Pak Bayu kenal sama beliau?" tanya kepala desa menebak.
"Tidak...Saya Tidak mengenal pria sekejam itu!" jawab Bayu singkat. Bayu sangat kecewa dengan apa yang dilakukan oleh menantunya.
"Oh...Saya kira Anda mengenalnya, karena sekarang mereka sedang berada di ruangan saya" ucapan kepala desa membuat Bayu mengepalkan kedua tangannya.
"Bolehkah saya menemuinya Pak? Saya ingin berbicara sebagai perwakilan dari para warga" pinta Bayu kepada kepala desa.
"Silahkan masuk Pak Bayu!" seru kepala desa sembari membawa Bayu masuk ke dalam ruangan kepala desa.
Setelah beberapa saat, Bayu dan kepala desa sudah sampai di depan pintu masuk ruangan kepala desa. Bayu melihat 2 orang laki-laki yang tengah duduk membelakanginya. Kemudian kepala desa masuk ke dalam ruangannya dan memperkenalkan Bayu kepada keduanya.
"Maaf Pak Ray, pak Raka ...Anda sudah lama menunggu!" seru kepala desa. Dan itu membuat Ray dan Raka menoleh kearah kepala desa.
"Tidak apa pak Lurah" jawab Ray santai sembari menaikkan kedua alisnya.
"Pak Ray...Ada perwakilan dari warga yang ingin bertemu dengan Anda!" seru Kepala desa.
"Baiklah, saya akan mencoba membujuk warga agar tetap mau menyerahkan tanah warga sekitar." ucap lirih Ray yang masih belum mengetahui siapa warga yang ingin bertemu dengannya.
"Baiklah kalau begitu Pak Ray! saya akan panggilkan warga tersebut" balas kepala desa sembari mempersilahkan Bayu untuk masuk keurangannya.
Bayu mulai masuk ke ruangan kepala desa, Ray benar-benar terkejut melihat kedatangan Bayu, sang mertua.
Ray menatap tajam kearah Bayu, pun sebaliknya, Bayu menatap begitu tajam sang menantu yang tak ia sangka tega melakukan ini pada tempat tinggal mereka.
Bayu mulai mendekati Ray yang sedang terdiam di tempatnya. Dan tak menunggu waktu lama, akhirnya Bayu telah tiba di depan sang menantu nya ini.
Tiba-tiba terdengar suara.
"Plaaakkk..."
Kepala desa dan Raka sangat terkejut melihat Ray yang tengah memegangi salah satu pipinya.
"Pak Bayu...Anda!"
"Ray!"
Seru Kepala desa dan Raka, yang tidak menyangka Ray mendapat tamparan keras dari Bayu.
Kemudian Bayu mencengkeram kerah leher Ray dan menariknya kuat.
"Aku benar-benar tidak menyangka, bahwa menantuku sendiri yang telah melakukan semua ini" ucap Bayu serius sembari menghempaskan cengkeraman tangannya dari leher Ray.
Ray tampak batuk-batuk karena cengkeraman tangan kuat seorang Bayu.
__ADS_1
"Pak Ray! Anda tidak apa-apa" ucap kepala desa
Ray hanya memberi kode kepada kepala desa bahwa dirinya baik-baik saja. Ray mulai bangun dan menghampiri sang mertua.
"Maafkan Saya Pak Bayu, cepat atau lambat kawasan ini akan berubah " ucap Ray terpaksa
"Nak Ray, dulu saya berpikir jika nak Ray adalah pria yang baik, namun saat melihat diri kamu seperti ini, saya yakin jika kamu adalah seorang pendendam sejati. Selamat...sebentar lagi kamu akan kehilangan orang-orang terkasih yang selalu berada di sampingmu" ucap Bayu sedih, mengingat putrinya kini tengah berada dalam pernikahan nya dengan Ray.
Tampak beberapa warga dan kepala desa terkejut saat melihat hubungan antara Ray dan Bayu sangatlah dekat.
"Pak Bayu, ternyata Anda sudah mengenal pak Ray?" tanya kepala desa
"Dulu...Kami memang saling mengenal, tapi untuk sekarang saya sudah melupakannya" ucapan Bayu sangat membuat keberadaan Ray seolah tidak ia anggap.
Ray menghela nafasnya, dan membuang wajahnya asal. Tampak Raka mendekati Ray yang sedang duduk di kursi, sementara Bayu langsung beranjak pergi keluar dari ruangan kepala desa setelah mengatakan hal itu kepada Ray.
"Ray! Kau tidak apa-apa kan" seru Raka yang sangat khawatir dengan keadaannya
"Tidak, aku tidak apa-apa" jawab Ray singkat.
"Ray siapa pria itu? Kenapa tiba-tiba dia menamparkan tangannya kepadamu?" tanya Raka yang masih belum mengerti.
Ray mulai merilekskan dirinya dengan duduk kembali di kursi. Dan sesekali mengelap darah yang keluar di ujung bibirnya akibat pukulan tangan Bayu yang kuat.
"Pria itu adalah Ayah mertuaku" jawab Ray singkat padat dan jelas.
"Iya" jawab Ray singkat.
Lantas Raka benar-benar tidak percaya, Ray setega itu kepada mertuanya, bagaimana perasaan istrinya jika ia tahu rumah sang ayah sedang berada di ujung tanduk. Raka menatap tajam Kearah Ray dan berucap.
"Ray...Awalnya aku sangat setuju dengan rencana baru proyek besar kita, tapi...Setelah aku tahu kenyataannya, maaf Ray aku memilih mundur, Aku bukan seorang yang kejam, kasihan mereka, tanah ini adalah satu-satunya menjadi ladang rejeki untuk mereka, seharusnya kau bisa berfikir sejauh itu, apalagi tempat ini adalah tempat tinggal orang tua dari istrimu" seru Raka undur diri dari kerjasama nya dengan Ray.
"Raka...Kau jangan bercanda, kita masih tahap awal, kamu sudah nyerah gitu aja, Cemen" ledek Ray kepada Raka.
"Aku tidak becanda Ray, hari ini juga aku memutuskan tali kerjasama kita, selama proyek ini masih menempuh jalan pemaksaan, maafkan aku Ray, aku akan pergi" seru Raka sungguh-sungguh.
Akhirnya Raka keluar dari kantor kelurahan. tampak wajahnya yang begitu sedih melihat warga yang disuruh pindah tiba-tiba.
Sekarang tinggal Ray yang berhadapan dengan Lurah daerah itu. Lantas kemudian Ray tanpa pikir panjang menyetujui dan yakin dengan proyek barunya yang akan memiliki dampak begitu besar.
******
Sementara itu Bayusena pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat mengecewakan, lantas Karin bertanya kepada sang kakak.
"Mas Bayu kenapa?" tanya Karin sangat penasaran
"Kita harus meninggalkan tempat tinggal kita secepatnya" jawab Bayu lemas.
__ADS_1
"Apa? Apa maksud Mas?" tanya Karin
"Kamu tahu Karin, ini semua terjadi karena ulah Tuan muda Ray, menantu Mas sendiri, Mas sangat menyesal sudah mengizinkan Luna untuk menikah dengannya, ternyata hatinya masih diliputi dendam kepada kakakmu Mita, jika saja Luna mengetahui nya, ia pasti sangat sedih dan kecewa" ucap Bayu yang tak bisa membayangkan jika putrinya tahu hal yang sebenarnya.
Karin mendengarkan seksama apa yang dikatakan oleh Bayu.
"Baiklah Karin, aku mau mempersiapkan keperluan kita saat kita mulai meninggalkan desa ini, kita harus pergi secepatnya dari sini" ujar Bayu sembari berlalu meninggalkan Karin sendiri.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memberi tahukan hal ini kepada Luna, bagaimana pun juga Luna harus tahu bahwa perbuatan suaminya harus segera dihentikan" gumam Karin.
Kemudian Karin mencari telepon umum terdekat untuk menghubungi Luna.
Setelah Karin memasukkan nomor telepon keluarga besar Perkasa, kemudian dengan cepat terdengar suara telepon berbunyi diruang tengah keluarga besar Perkasa.
Luna yang saat itu tengah duduk di sofa ruang tengah, kemudian ia beranjak mengangkat telepon tersebut.
"Mungkin itu telepon dari Mama" pikir Luna itu adalah telepon dari Shesa. Dengan segera ia angkat gagang telepon itu.
"Iya...Mama!"
"Luna...Ini Tante Karin!"
"Tante Karin? Maaf aku kira Mama Shesa, tumben Tante menelepon Luna, ada apa Tante?"
"Ada berita gawat Lun!"
"Apanya yang gawat Tante?"
Kemudian Karin menceritakan semuanya yang terjadi selama ini, rahasia kebencian Ray yang tiba-tiba muncul kepadanya, akhirnya Luna mengetahuinya, yang tak lain karena dendam kepada Almarhum Ibunya, hingga rencana Ray untuk menggusur tempat tinggalnya. Membuat netra gadis ini tak kuasa menahan banyaknya beban air mata.
"Tidak mungkin...Ray! Kau jahat sekali, aku tidak pernah menyangka kau bisa melakukan ini kepadaku" gumam Luna dengan diiringi jatuhnya gagang telepon itu dari genggaman nya.
Lantas hari itu juga Luna memutuskan untuk pergi dari rumah suaminya, hatinya sudah dibuat hancur oleh perlakuan sang suami yang masih terbakar dendam kepada mendiang ibunya, Mita.
"Ray...Aku bisa terima jika kau mengacuhkan aku, aku bisa terima jika kau tidak mencicipi hidangan dariku, tapi aku tidak terima jika kau menyentuh kedua orang tuaku, Aku sudah tahu semuanya, dendam mu kepada ibuku, dan sekarang kau ingin mengusir Ayahku dari rumah kami, kamu benar-benar jahat, Maafkan aku, mulai saat ini jangan pernah mencariku lagi, anggap aku sudah mati, Luna istrimu sudah mati, selamat tinggal"
sepucuk surat yang Luna tulis untuk sang suami.
Malam itu Luna keluar rumah tanpa sepengetahuan siapapun. Tanpa disadari Luna meninggalkan foto Mendiang Mita yang masih tersimpan di dalam lemari.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
...Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapkan emosi kalian 🤭...
...Kuyy ayok gaes dukungan kalian tetap author tunggu, like komentar beri hadiah dan vote 😊...
__ADS_1
...Makasih 🙏...