TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK

TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK
Dekapan Ray


__ADS_3

Ray dan Luna mulai berjalan memasuki ruang acara yang dihadiri oleh pejabat tinggi dan pimpinan perusahaan itu, namun sebelum mereka tiba disana, tampak Frisca mengetahui kedatangan Ray dan Luna, kemudian Frisca dengan cepat menghampiri Luna dan membawanya masuk ke dalam ruang make up.


"Luna! Ayo ikut aku" seru Frisca sembari menarik tangan Luna, alhasil tangan Luna terlepas dari genggaman Ray, seolah Ray tak rela melepaskan tangan gadisnya, Ia tak mau melepaskan tangan Luna begitu saja, dengan cepat Ray meraih kembali tangan Luna.


Frisca terkejut dengan apa yang dilakukan Ray.


"Ray! Apa yang kamu lakukan? Biarkan Luna ikut denganku" ucap Frisca sembari melihat tangan Ray yang menahan langkah Luna untuk pergi darinya.


Luna melihat Ray yang tampak memegang tangannya.


"Ray, lepaskan tanganku!" pinta Luna


"Kalau aku tidak mau?" jawab Ray


"Ray...bu Shesa sudah menungguku" ucap Luna memohon.


Tiba-tiba saja Frisca yang melihat itu tampak menyindir mereka berdua.


"Ehem- ehem, ternyata kekuatan cinta itu mulai ada, Tante Shesa pasti senang mendengarnya, tapi Ray...untuk saat ini, kami membutuhkan Luna, cepat lepaskan dia, setelah selesai kamu bebas bawa Luna ke mana saja" ucapan Frisca disambut bahagia oleh Ray, tampak Ray tersenyum tipis mendengar Frisca mengatakan hal itu.


"Baiklah kak Frisca, Ray minta tolong jangan sampai terjadi apa-apa padanya, jaga dia! Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada calon istriku" ucapan Ray sontak membuat Luna tersipu malu.


"Apaan sih" Luna tampak salah tingkah.


"Baiklah, ayo Luna kita masuk, Tante Shesa sudah menunggu" ajak Frisca.


Luna mulai berjalan mengikuti langkah Frisca, sesekali Luna menoleh kepada Ray yang masih menperhatikan Luna hingga ia masuk ke sebuah ruangan di hotel itu.


Dengan satu tangan yang masuk ke kantong celana, Ray terlihat cool dengan ciri khas penampilannya, belahan kemeja yang tidak ia kancingkan.


Ray terus memperhatikan Luna hingga Luna masuk ke ruangan itu. Setelah Luna masuk ke dalam ruangan, kemudian Ray mulai masuk ke ruangan utama hotel bintang lima tersebut.


Shesa sudah menunggu Luna sejak tadi, dan setelah beberapa saat Frisca datang dengan membawa Luna.


"Luna, Frisca kenapa lama sekali" tanya Shesa


"Maafkan saya bu Shesa, tadi...tadi itu...anu..." belum selesai Luna menjelaskannya, Frisca langsung memotong pembicaraan.


"Bukan salah Luna tante, Ray yang sudah membuat Luna terlambat" kata Frisca.


"Apa? Ray?" ucap Shesa terkejut.


"Iya tante, sepertinya Ray sudah kepincut dengan calon menantu Tante" ucap Frisca senang.


"Oh...ya, benar itu Luna?" tanya Shesa sembari menatap dalam dalam wajah gadis itu.


"Ti_tidak, itu tidak benar Bu, kami hanya, kami hanya..."


"Hanya mengagumi" sahut Frisca sembari membubuhkan kembali bedak Luna. Tampak Luna tersenyum paksa mendengar celetuk Frisca yang menggodanya.


"Jadi...tidak ada alasan untuk untuk menunda pernikahan ini" Seru Shesa senang.

__ADS_1


******


Sementara itu di ruang utama, para tamu undangan sudah menunggu karya terbaru dari Shesa, kali ini Shesa mengusung tema gaun malam, dimana Luna yang mewakili Shesa dalam pagelaran bergengsi ini.


"Luna, kau tahu apa yang harus kamu lakukan, aku pasti sangat bangga bila kamu mampu membuat mereka terpesona melihat penampilanmu, ayo tunjukkan siapa dirimu, aku yakin kamu pasti bisa" ucapan Shesa adalah dorongan untuk Luna agar dirinya berhasil membantu calon ibu mertuanya.


"Luna akan berusaha menampilkan yang terbaik, Luna janji pada bu Shesa" jawab Luna percaya diri.


Sementara itu Ray sudah duduk dikursi VIP, ia duduk di samping Vano yang saat itu ikut menyaksikan acara ini. Acara tersebut merupakan acara tahunan yang digelar khusus untuk calon desainer muda memperkenalkan karya-karya mereka, sementara Shesa didapuk sebagai tamu istimewa dan ikon desainer muda.


Kemudian Shesa mulai menghampiri Vano dan Ray yang sudah menunggunya di kursi utama.Vano tampak tersenyum saat istrinya datang menghampirinya. Vano mengulurkan tangannya kepada Shesa yang mulai mendekatinya. Kemudian Shesa menyambut uluran tangan sang suami sembari tersenyum.


"Ini dia Ratuku sudah datang" ucap Vano sembari mencium tangan mesra tangan istrinya. Ray melihat kemesraan orang tuanya yang begitu indah, Ray sangat bahagia melihat Vano dan Shesa yang selalu tampak mesra di segala suasana.


Kemudian Shesa duduk disamping Vano, Shesa melihat putra nya yang duduk disamping Vano.


"Ray...kamu disini juga, Mama pikir kamu tidak akan tertarik mengikuti acara ini" seru Shesa


"Oh...tanggung Ma, Ray sudah terlanjur datang kesini, ya sekalian lihat karya mama yang akan mama tampilkan malam ini" jawab Ray seadanya.


"Benarkah? Hm kamu ingin melihat karya mama, atau ingin melihat penampilan Luna?" sontak apa yang dikatakan Shesa membuat Ray salah tingkah.


Vano yang melihat putranya salah tingkah tampak memberi dukungan untuknya.


"Dengarkan Papa Ray, kamu tahu sebenarnya wanita itu gengsi mengutarakan cintanya, mereka lebih mengutamakan perasaanya, kalau kamu ingin mendapatkan hati gadis itu, kamu harus bisa masuk kedalam perasaannya, seperti Mamamu dulu, juga begitu" ucap Vano lirih. Namun Shesa tak sengaja mendengar Vano berbisik pada putranya.


"Siapa yang gengsi? Bukannya kamu sayang yang gengsi, cemburu dan marah-marah nggak jelas, tahu-tahu aku diberi hukuman gitu aja" celetuk Shesa sehingga membuat Ray tersenyum tipis.


Shesa tampak mengerucutkan bibirnya, Vano yang melihat itu justru mencium pipi sang istri.


"Sini aku beri hukuman, muach" ciuman Vano membuat Shesa membulatkan matanya. Kemudian Shesa mengelus pipinya, sedangkan Vano tertawa bahagia melihat ekspresi istrinya.


Tiba-tiba saja lampu ruangan sengaja dimatikan, untuk memberi efek cahaya temaram, tampak dibalik tirai samar terlihat bayangan seorang gadis yang akan keluar dari tirai warna putih itu.


Ray tampak sudah tidak sabar siapa gadis yang akan keluar dari tirai tersebut. Perlahan tirai tersebut mulai terangkat, sedikit demi sedikit kaki cantik dengan hak tinggi itu mulai nampak. Lampu yang menyorot ke tubuh seorang model yang akan muncul, memberi kesan bahwa ia adalah gadis yang istimewa.


Shesa tampak terkesima dengan penampilan Luna kali ini. Dia tersenyum saat tirai itu mulai terbuka sempurna.


Dan kini wajah Luna terlihat dengan jelas, betapa Ray tidak berkedip sama sekali saat Ia menyadari bahwa gadis dibalik tirai itu adalah Luna.


Luna berjalan di sepanjang catwalk diiringi beberapa model dibelakangnya, malam itu Luna terlihat anggun dan sangat menawan.


Ray tersenyum saat Luna menyadari Ray yang berada di kursi utama.


"Aduuh ngapain dia disitu? Bikin grogi aja" gumam Luna yang membuatnya mulai tidak konsentrasi, belum lagi tatapan Ray yang mematikan membuat tubuh Luna bergetar dan rasanya ia ingin lari saja dari tempat itu.


"Apa yang sudah dimiliki gadis ini? sehingga membuatku tak bosan untuk melihatnya, cantik" gumam Ray


Tiba-tiba saja keseimbangan Luna goyah, dirinya tak sanggup harus menahan tatapan tajam Ray, dirinya tersandung dan akhirnya ia terjatuh.


"Aaaaaa"

__ADS_1


Dengan sigap Ray berlari menuju catwalk dan langsung membawa tubuh Luna pergi dari tempat itu.


Tampak Vano dan Shesa terkejut akan sikap putranya.


"Sayang, mereka mau kemana?" Shesa begitu khawatir dengan keadaan Luna.


"Sudahlah, biarkan saja, Ray tahu apa yang harus ia lakukan" ucap Vano meyakinkan istrinya.


******


Sementara itu Ray menggendong tubuh Luna untuk masuk kedalam mobilnya. Luna tampak kesakitan akibat terjatuh tadi.


"Awww sakit..." pekik Luna sembari memegangi kakinya.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit" ucap Ray.


"Tidak, tidak usah...antarkan aku pulang saja" pinta Luna.


"Tapi bagaimana dengan kakimu?" seru Ray yang tampak cemas.


"Aku punya salep dirumah, biar nanti aku pijit sendiri, sekarang aku ingin pulang" ucap Luna sembari menahan rasa sakit itu.


"Baiklah kalau itu maumu"


Ray kemudian mengantarkan Luna pulang, terlihat hujan mulai turun disertai jilatan petir yang menggelegar. Tampak mobil Ray tetap melaju dengan kecepatan sedang, agar tidak mengalami slip saat dijalan raya karena derasnya hujan membuat jalan raya tampak licin.


Hujan malam ini agaknya cukup besar dan disertai suara petir yang menggema, tampak sesekali Luna mendekap telinganya saat petir itu mengeluarkan suara dahsyatnya.


Ray melihat Luna yang tampak ketakutan, kemudian Ray menghentikan mobilnya sejenak di pinggir jalan. Mengingat hujan yang begitu deras, sehingga membuat jarak pandang yang hanya sekitar 3 meter, dan itu sangat berbahaya saat mengendara.


Hingga pada suatu momen, kilatan petir itu sangat besar sekali sehingga membuat Luna ketakutan setengah mati, dengan refleks Luna meraih tubuh Ray dan mendekapnya erat.


"Deg"


Setelah beberapa saat Luna membuka matanya, sejenak ia tersadar bahwa dirinya sekarang berada dalam dekapan Ray, tak sengaja ia mendengar detak jantung Ray yang sangat jelas.


Ray tampak membungkus tubuh Luna dengan lingkaran tangannya yang mendekap Luna.


"Kenapa detak jantungmu cepat sekali?" suara Luna tiba-tiba menyeruak di telinga Ray.


"Karena kamu ada sangat dekat disampingku" jawab Ray dengan suara beratnya.


"Lepaskan" pinta Luna


"Tidak akan" jawab Ray yang membuat Luna semakin gemetaran setengah mati.


BERSAMBUNG


❤❤❤❤❤❤


...Nah loh...😁...

__ADS_1


__ADS_2