
Disaat Ibu-ibu sedang asyik mengobrol dengan suami Luna, tiba-tiba saja terdengar suara deheman seorang wanita yang ternyata adalah suara Luna.
"Ehem ehem" Luna berjalan menghampiri Ray yang tengah mencuci piring.
"Sayang apa kau sudah selesai, jika sudah selesai ayo kita ke kamar, aku pijitan kamu" seru Luna yang berpura-pura mesra di hadapan Ibu-ibu itu.
Ray seketika terkejut melihat sikap istrinya yang mendadak mesra kepada nya. Sementara Ibu-ibu itu terlihat iri melihat kemesraan yang diperlihatkan Luna kepada Ray.
"Aduuhh Mbak Luna, ini masih pagi loh, kok udah masuk kamar aja" seru seorang ibu-ibu berbadan gemuk.
"Itulah kami ibu-ibu, setiap hari kami selalu mesra, tidak perduli pagi, siang, malam, setiap waktu kami selalu bermanja-manja, jadi tidak ada waktu untuk melayani sesuatu yang tidak penting, benarkan sayang!" ucap Luna sembari bergelayut manja pada lengan Ray.
Dan Ray pun tidak tinggal diam, ini adalah kesempatan untuk dirinya memeluk Luna semakin erat dan melingkarkan tangannya pada pinggang Luna.
"Istri saya benar, setiap waktu kami selalu bermanja-manja, muach" ucap Ray sembari mencium pipi Luna, membuat Luna membulatkan matanya.
"Dihh berani nyium lagi" umpat Luna
Tampak Ibu-ibu yang melihat kemesraan mereka berdua terlihat memuji kemesraan pasangan pengantin baru itu.
"Waah Mbak Luna dan Mas Ray bikin kita ngiri aja, ayo ah bu ibu kita pulang, kita mesra -mesraan juga sama suami kita, biar nggak kalah sama mbak Luna dan Mas Ray" seru seorang ibu-ibu.
"Eh...suami saya sedang ke sawah kalau pagi gini, entar siang baru pulang"
"Kalau suami saya lagi narik angkot, entar malam baru pulang"
"Kamu enak suamimu ke sawah dan narik angkot, lah suamiku nggak pulang-pulang jadi bang Toyib"
Riuhnya Ibu-ibu itu tengah ngerumpi, membuat Luna semakin dibuat kesal.
__ADS_1
"Maaf ya Ibu-ibu, saya dan suami mau masuk kedalam dulu, ayo sayang kita masuk ke kamar!" ajak Luna kepada Ray sembari tetap menggandeng mesra tangan Ray.
Tampak Ibu-ibu itu melihat Ray dan Luna yang masuk ke rumahnya dengan sangat mesra sekali.
"Duh beruntung banget Luna, punya suami ganteng, udah gitu anak orang kaya lagi, nggak kayak kita ya Bu ibu, punya suami udah jelek nggak kaya lagi, udah gitu doyan bikin anak pula" celetuk ibu-ibu yang terdengar sampai pada telinga Luna, membuat Luna sedikit tersenyum mendengarnya.
Ray melihat istrinya yang tengah tersenyum lantas bertanya.
"Kamu kenapa? Kamu suka ya aku peluk" seru Ray yang masih melingkarkan tangannya pada pinggang Luna. Dan spontan Luna melepaskan tangan Ray dari pinggangnya.
"Eh... lepasin, jangan cari kesempatan ya, nggak usah seneng dulu, aku cuma pura-pura saja di depan ibu-ibu itu" sahut Luna ketus.
"Loh kok jadi galak sih? Tadi katanya mau ke kamar, ayo kita ke kamar, tadi bilangnya mau pijitan aku" ajak Ray sembari menarik tangan Luna.
"Eeee...jangan GR ya, aku tuh cuma bohong di depan ibu-ibu genit itu, lagian kamu juga, mau aja di goda mereka, bikin kesal aja" gerutu Luna dengan ekspresi merengut.
"Kamu cemburu?" tiba-tiba saja Ray menanyakan hal itu kepada istrinya yang tampak cemberut.
"Lah kamu sendiri nggak mau aku deketin sih, jadi jangan salahkan aku jika mereka suka mendekati suamimu yang tampan ini" sahut Ray sembari menyunggingkan senyumnya.
"Ahhhh...udah ah, aku mau jemur cucian dulu, ngomong sama kamu nggak bakal selesai -selesai" ucap Luna sembari berlalu pergi meninggalkan Ray yang masih berdiri di tempatnya.
Ray memperhatikan Luna yang terlihat cemburu kepada dirinya.
"Aku tahu kau sedang cemburu sayang, sampai kapan kamu sembunyikan perasaanmu, came on baby, cepatlah datang kepadaku" gumam Ray dengan senyum manisnya.
Dan kini setelah Ibu-ibu itu pergi, Luna terlihat sedang menjemur pakaian di samping rumah, sementara Ray masih sibuk meletakkan piring-piring itu pada rak yang sudah disediakan.
Setelah Ray selesai meletakkan piring-piring itu, Ia lantas menghampiri Luna yang tengah menjemur pakaian di samping rumah.
__ADS_1
"Sini biar aku saja, kamu duduk si situ, aku tidak mau terjadi apa-apa pada bayi kita, kamu jaga dia baik-baik, biar semua ini aku yang kerjakan" ucap Ray sembari mengambil bak yang berisi cucian Luna tadi.
Kemudian Luna duduk-duduk santai di bawah pohon mangga yang rindang, sementara Ray tampak sibuk menjemur baju-baju itu sambil berpanas-panasan, Ray tidak perduli dirinya kepanasan atau berkeringat, peluh itu berjatuhan membasahi wajah tampan Ray, apalagi terik matahari pagi menyinari tepat di depan wajahnya, baginya yang terpenting bukan Luna yang melakukan tugas berat itu, apalagi Luna tengah mengandung anak mereka.
Dan lagi-lagi Luna dikejutkan dengan kedatangan seorang ibu-ibu yang sedang membawa rantang makanan, ibu itu tengah menghampiri Ray yang sedang menjemur cucian.
"Permisi Mas Ray" sapa wanita yang berusia sekitar setengah abad itu.
Ray terkejut dan segera menghentikan aktivitasnya.
"Eh...ada apa Bu? Ada yang dapat saya bantu?" tanya Ray dengan hangat.
"Ini Mas Ray, ibu tadi masak ikan teri sambel Pete, mudah-mudahan mas Ray suka, itu masakan khas daerah sini Mas, diterima ya Mas ganteng, ini sebagai tanda perkenalan dari saya" ucap wanita itu sembari memberikan rantang berisi makanan kepada Ray.
Tampak Luna hanya memperhatikan Ray dengan bibir yang mengerucut.
"Terima kasih banyak Bu, saya terima makanannya" balas Ray sembari menerima rantang berwarna putih itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu Mas ganteng, itu rumah saya di seberang jalan, kali ajah Mas ganteng ingin main ke rumah kami" ucap wanita itu sembari tersenyum.
"Tentu saja, kalau ada waktu saya akan main ke rumah ibu!" jawab Ray dengan ramah.
Namun tiba-tiba saja Luna menyela pembicaraan mereka berdua.
"Begini ya ibu, suami saya sangat sibuk sekali membantu ayah di warung, jadi dia pasti tidak sempat untuk bermain ke rumah ibu, belum lagi dia harus sibuk dengan waktu kami berdua, benarkan sayang" ucap Luna dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Ray yang sixpack.
Ray tampak tersenyum sumringah, ia berhasil membuat sang istri menampakkan perasaannya yang sebenarnya, nyatanya Luna masih sangat mencintai Ray.
"Wahh Mbak Luna, beruntung banget deh Mbak Luna punya suami seperti Mas Ray, kalau saya jadi mbak Luna saya tidak akan biarin Mas Ray keluar rumah, bakal saya kunci terus di dalam kamar" celetuk sang tetangga yang membuat Ray menaikkan alisnya ke arah Luna.
__ADS_1
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥