
Luna terlihat berdiam diri di tempatnya, memperhatikan Ray yang mulai bersembunyi di balik selimut tebalnya. Sementara Ray terlihat menemukan bercak darah di sprei putih itu, akibat hilangnya kegadisan Luna karena ulahnya sendiri.
Ray membuang muka lantas Ia segera tidur dan menyembunyikan tubuhnya, yang terlihat hanyalah kepala Ray yang menyembul keluar.
Luna berusaha meyakinkan dirinya, mungkin suaminya masih belum terbiasa dengan kebersamaan mereka berdua. Lantas Luna mulai mengikuti Ray untuk tidur di sampingnya. Dengan sedikit mendesis akibat rasa ngilu yang belum hilang akibat luka robek dari area inti Luna, membuat Ray menghela nafasnya.
"Kenapa semua ini harus terjadi, kenapa disaat aku baru mencintai seorang wanita, Aku harus mendengar kenyataan pahit ini, wanita yang baru saja Ku nikahi ternyata anak dari wanita yang paling kubenci, sahabat Mama yang sudah membuat Mama dan Aku terhina" gumam Ray dengan tatapan nanarnya.
"Kenapa dengan suamiku? Kenapa tiba-tiba dia bersikap sinis kepadaku?" gumam Luna sembari menatap punggung Ray yang tampak terlihat bekas cakaran Luna saat mereka bercinta tadi.
Luna berusaha memberanikan dirinya berbicara kepada Ray yang masih tidur membelakanginya.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini padaku? Apa aku punya salah?" tanya Luna dengan suara lemahnya.
Ray tidak bergeming mendengar Luna berbicara padanya, saat ini hatinya diliputi kebencian, kenapa Ia baru mengetahui rahasia bahwa Luna adalah putri sahabat Shesa yang sudah membully Shesa dulu.
Luna tidak mendapati jawaban dari Ray, lantas Luna memberanikan diri menyentuh tangan Ray yang tertutup selimut.
"Ray...Katakan padaku, kamu kenapa? Apa yang terjadi padamu? Aku sangat tersiksa kau perlakukan seperti ini, plis lihatlah Aku..." rengek Luna agar Ray melihat dirinya.
Tiba-tiba saja Ray bangun dan berbicara kasar kepada Luna.
"Haaaa...Berisik! Aku mau tidur, jangan ganggu aku, kamu sudah mengganggu tidurku" seru Ray sembari beranjak pergi dari ranjang pengantin yang masih berhias tirai-tirai indah itu.
Ray tampaknya keluar dari kamar mereka dengan sedikit membanting pintu, sehingga membuat Luna sedikit terkejut saat pintu itu tertutup dengan keras.
Tak terasa tetesan embun yang melewati mata indah Luna tampak mulai membasahi pipinya. Bibirnya bergetar diiringi sesenggukan yang mulai terdengar lirih di kamar pengantin itu. Luna memeluk kedua lututnya sembari membenamkan wajahnya yang terlihat sendu.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu begitu cepat berubah Ray? Apa salahku?" ungkap Luna disela-sela tangisnya.
Kamar pengantin yang seharusnya terasa indah dan romantis, mendadak kini berubah seperti kuburan. Tiada canda dan tawa, dan tiada lagi bisikan mesra atau desaahan dua insan yang tengah dilanda cinta. Yang ada hanya suara lirih tangis Luna yang masih tertekan dengan sikap Ray yang dingin kepadanya.
Malam itu Ray pergi ke bar hotel yang terletak di lantai bawah hotel bintang lima tersebut. Ray masuk ke dalam dan memesan sebotol anggur untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Tampak Bara dan Bertrand tak sengaja melihat Ray yang duduk disebuah kursi bar sendirian. resepsi pernikahan Ray baru saja berakhir, semua tamu undangan sudah mulai pergi meninggalkan acara milik keluarga besar Perkasa tersebut. Termasuk Vano dan Shesa beserta keluarga yang lain juga ikut pulang, meninggalkan Ray dan Luna yang masih di hotel mewah itu untuk menikmati malam pertama mereka.
"Eh Bar, bukankah itu Ray? Ngapain dia sendirian disana? Kita samperin yuk!" seru Bertrand kepada Bara.
Bara mengangguk dan setuju untuk menghampiri Ray yang tampak sudah meminum beberapa botol anggur merah.
"Hai bro, kok kamu masih ada disini? Bukannya sama istri malah duduk disini minum sendirian" seru Bertrand sembari menepuk pundak Ray.
"Jiaaaahh...Mungkin saja istrinya lagi PMS" sahut Bara yang diiringi tawa Bertrand. Ray tampak masih tak bergeming mendengar ucapan dua temannya itu.
"Bro, kamu kenapa? Apa ada masalah?" tanya Bertrand yang melihat Ray yang tampak berbeda hari ini. Ray melihat dua temannya, Ray mulai kehilangan sedikit kesadarannya akibat terlalu banyak minum anggur merah itu.
"Dengar kalian berdua, Aku saranin jangan terlalu mencintai wanita, jangan anggap dia sempurna di hatimu, karena mereka bisa saja mengecewakan, dan tak patut untuk dicintai" seru Ray yang sedikit ngelantur, membuat Bertrand dan Bara saling menatap.
"Eh si Ray mabuk tuh" seru Bertrand
"Apa mungkin dia ditolak istrinya malam ini, ini kan malam pengantin mereka" sahut Bara.
"Aku punya rencana" Bara membisikkan sesuatu pada Bertrand. Setelah Bertrand mendengar rencana Bara, tampak Ia sangat terkejut.
"Ah...Gila Kamu Bar! Tapi bagus juga sih, mereka kan udah resmi nikah, jadi sah-sah saja jika Ray terlihat lebih agresif dari istrinya" ucap Bertrand yang setuju usul Bara untuk mencampurkan minuman Ray dengan obat ngefly yang ia dapat dari pelayanan bar.
Ray tampak tidak perduli dengan Bertrand dan Bara yang berada disana, Ray hanya butuh minuman untuk melupakan masalah nya sejenak.
Perlahan Bara memasukkan serbuk Ja*anam itu kedalam botol minuman Ray. Setelah Bara berhasil memasukkan serbuk perangsang itu, lantas Bara menuangkan lagi minuman ke dalam gelas Ray yang sudah kosong.
Ray meminum gelas yang sudah berisi anggur bercampur serbuk Ja*anam tersebut. Tampak Bertrand dan Bara tertawa kecil saat melihat reaksi obat tersebut. Mereka berdua melihat Ray yang sudah mulai kegerahan dan tidak nyaman.
"Eh...Obatnya bekerja tuh!" seru Bertrand
"Bagus, waktunya senang-senang Ray!" ucap Bara membayangkan betapa agresifnya Ray malam ini. Tak menunggu lama Ray langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ray, kau mau kemana?" seru Bertrand memanggil Ray yang kelihatan sudah beringas.
__ADS_1
"Percuma kamu panggil, dia sudah dikuasai oleh nafsu, Ray sudah hilang kontrol, tak apa lagipula Ray sudah ada istri, lah kita jangan sampai deh minum kek gituan, bisa ancur" ucap Bara yang diiringi tawa Bertrand.
Dengan terburu Ray datang ke kamarnya, Ray sudah tak bisa dikendalikan lagi, dosis yang cukup tinggi sudah Bara campurkan kedalam minuman Ray. Membuat Ray semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, Ray harus segera melampiaskan rasa itu yang membuatnya sangat tersiksa.
Tiba-tiba saja Luna dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka. Luna menengok kearah pintu, dilihatnya sang suami yang terlihat kacau malam itu.
"Ray...Kau sudah kembali sayang!" seru Luna yang sedikit senang melihat suaminya telah kembali. Luna mendekati Ray yang terlihat acak-acakan dimalam itu.
Dan tiba-tiba saja Ray meraih tubuh Luna secara kasar dan langsung menyergap Luna dengan membungkam bibir sang istri dengan buasnya.
"Ray...Apa yang kau....mmpphhtt" Ray tak membiarkan Luna bicara sedikitpun, Ray membungkam bibir mungil itu dengan ciuman yang kasar dan membuat Luna seakan kehilangan nafasnya.
"Mmmmpptt..." Luna memukul-mukul badan Ray yang sudah mendekap tubuhnya begitu erat, agar Ray melepaskan dirinya. Dengan sekuat tenaga Luna berhasil lepas dari ciuman brutal sang suami yang sudah dirasuki oleh nafsu yang membara.
Karena Ray sudah tidak tahan ingin segera melepaskan rasa yang membuatnya tersiksa itu, dengan cepat ia membuka seluruh kain penutup yang membalut tubuh indah Luna.
"Ray, apa yang terjadi padamu?" ucap Luna yang terkejut melihat keagresivan sang suami. Tanpa pikir panjang Ray mengangkat satu kaki Luna dan mendorong miliknya melesat menembus ke sarangnya.
"Ray...pelan-pelan, kau sudah menyakitiku" rintih Luna saat Ray begitu cepat menggerakkan yang dibawah sana. Luna hanya bisa pasrah saat dirinya begitu tersakiti karena Ray bermain dengan kasar.
"Ray...Aku memang istrimu, Aku bisa memberikan hakmu kapan saja, tapi caramu ini sudah sangat menyakitiku, kau anggap apa diriku" Luna hanya bisa menangis saat lesatan itu mengoyak dan mengobrak abrik yang dibawah sana, dimana rasa nyeri itu masih sangat terasa dalam tubuh Luna.
Luna hanya diam dan membiarkan Ray menguasi seluruh tubuhnya, Luna terpejam dan sesekali menggigit bibir bawahnya saat hujaman itu terasa menusuk begitu dalam.
Setelah hampir satu jam Ray bermain diatas tubuh sang istri, tampaknya Ia akan merasakan pelepasan.
"Ray...tidaakkk" rintih Luna saat Ray dengan kuatnya menyemburkan benih-benih calon kehidupan pada tanah yang masih rawan itu.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤
...Hareudang hareudang...Maafkan othor sekali lagi ya 😁🙏...
__ADS_1