TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK

TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK
Setengah perjalanan


__ADS_3

Tangan Ray yang awalnya hanya berniat mengelus perut Luna kini beralih pada tempat lain yang membuat si empu nya semakin tak kuasa menahan rasa nikmat bercampur malu itu.


"Ray...aku benci kamu, aku marah kepadamu...emmptt" Luna semakin meracau antara menolak dan menikmati.


"Mendesaahlah baby, tidak akan ada yang bisa mendengarmu, ayahmu masih pergi ke kolam, kita nikmati dulu kebersamaan kita, aku akan memuaskan mu"


Ray semakin memperdalam sentuhan-sentuhannya yang bagaikan sebuah aliran listrik berdaya ribuan volt, membuat Luna tak bisa berbuat apa-apa, Luna tersetrum hebat dan dirinya kini mulai menikmati permainan Ray yang membuatnya tak bisa menyingkirkan tangan Ray dari pusat intinya.


Dengan posisi Luna yang masih membelakangi Ray, mempermudah Ray untuk menjangkau tempat favoritnya saat membenamkan diri, mengacak-acak dan sesekali menggelitik tempat itu penuh gejolak, membuat si empunya tak bisa mengontrol diri.


Handuk Luna kini teronggok di lantai kamar mandi, dirinya benar-benar pasrah, keegoisan nya luntur sudah saat Luna merasakan sensasi memabukkan yang membawanya terbang tinggi ke langit tujuh.


"Kau siap sayang, sekarang aku akan datang kepadamu" bisik Ray sembari mempersiapkan dirinya melesat ke tempat sebenarnya. Dengan posisi Ray yang masih dibelakang tubuh Luna.


Dan akhirnya...


"Sleeppp"


"Perfect"


Mata Luna membulat sempurna saat ada sesuatu yang masuk ke tempat pribadinya dengan lembut. Dan Ray masih diam tak bergerak, Ia menunggu reaksi Luna saat dirinya berhasil merasuki inti dasar kepemilikan Luna.


"Ray...aku benci kamu" suara lembut yang keluar dari bibir Luna membuat Ray tersenyum smirk.


"Benarkah Kau membenciku? Tapi kau biarkan aku menjamah seluruh yang ada pada dirimu, dan sekarang kau dan aku sudah bersatu baby..." bisik Ray di belakang tubuh Luna.


"Kau sudah memaksaku Ray!" jawab Luna dengan nafasnya yang naik turun.


"Ini bukan paksaan, kita sama-sama menginginkannya, aku yakin kau sangat menyukainya, kau bisa merasakan ini baby" balas Ray dengan sedikit menggerakkan pinggulnya.


"Emm...Ray!" rintih Luna sembari menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Ray khawatir dan sejenak Ray menghentikan gerakannya.


"Kenapa? Apa aku sudah menyakitimu?" tanya Ray yang khawatir jika dirinya menyakiti istrinya, mengingat kini Luna tengah mengandung anak mereka. Ray khawatir jika tongkat saktinya menyakiti inti Luna, jika dilihat ukuran tongkat itu termasuk ukuran jumbo dengan volume panjang kali lebar kali tinggi.

__ADS_1


"Ahh... Tidak...teruskaaaann Ray!" jawaban Luna yang tidak pernah di duga Ray sebelumnya. Jawaban yang membuat Ray semakin semangat bermain bersama istrinya.


Tanpa basa-basi Ray dan Luna menikmati kebersamaan mereka berdua, mumpung rumah masih sepi, Ray berhasil meruntuhkan tembok kemarahan istrinya, meskipun istrinya berkata tidak, tapi bahasa tubuh Luna tidak bisa menolaknya.


Namun tiba-tiba saja di tengah percintaan mereka, terdengar suara Bayu yang tengah memanggil Luna.


"Luna...! Luna...! Kamu dimana Nak? Luna!"


Spontan Ray dan Luna berhenti bertarung.


"Itu suara Ayah, aku harus keluar!" ucap Luna sembari menghentikan gerakannya mengaduk adonan. Sementara Ray terpaksa harus mencabut colokan itu dari tempatnya.


"Luna...! Luna...! Dimana sih tuh anak, ini cucian masih belum di jemur!" seru Bayu sembari melihat cucian basah dalam bak.


"Iya ...Yah, Luna sedang mandi, sebentar lagi Luna keluar!" sahut Luna dari dalam kamar mandi.


"Oh...Ya sudah, Ayah menunggumu di dalam, ini ayah bawakan sesuatu untukmu, cepat lah!" seru Bayu yang tidak mengetahui putrinya sedang melakukan tugas negara.


Dengan cepat Luna membasuh tubuhnya yang terlihat berkeringat akibat aktivitas nya bersama Ray, sementara Ray tampak bersandar pada tembok kamar mandi dengan menyilangkan kedua tangannya, tampak belalai gajah itu terlihat menggantung lemas.


"Aku harus pergi, maafkan aku!" seru Luna sembari membuka kunci pintu kamar mandi.


Kemudian Luna keluar dan menutup kembali pintu kamar mandi itu. Ray hanya bisa menghela nafasnya, baru setengah perjalanan, sang mertua sudah menganggu kemesraan mereka berdua.


"Nasib nasib... masih juga ditengah perjalanan, lagi enak-enaknya ...ah pak Bayu nggak asik" Ray menggerutu dalam hatinya.


Kemudian Ray mulai mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya, sambil menenangkan dirinya yang tiba-tiba saja harus berhenti dari aktivitas nya.


*****


Luna kini sudah berada di kamarnya, dirinya senyum -senyum sendiri dan sesekali menggerutu dalam hatinya.


"Luna...kamu bodoh banget, kenapa kamu bisa hanyut dalam rayuan suamimu, kemana rasa kesalmu, mana amarah yang kau tunjukkan, kau justru memberinya sebuah desaahan bodoh itu"

__ADS_1


Luna menggelengkan kepalanya saat mengingat perlakuan Ray yang begitu lembut kepada nya.


"Dia sangat lembut dan penuh kemesraan, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, karena sesungguhnya aku sendiri masih sangat mencintainya" ucap Luna lirih.


Kemudian Luna segera mengganti pakaiannya, Luna terkejut saat melihat bayangan dirinya yang penuh dengan bekas stempel cinta milik Ray yang memenuhi area leher samping. Sangat jelas dan terlihat memerah.


"Gila si Ray...bikin stempel nggak lihat-lihat tempat, mana banyak banget lagi, kalau ayah tahu, dikiranya aku dan dia sudah akur, ah nggak-nggak, aku harus tutupi ini"


Luna kemudian mengambil plester dan Ia tutupkan pada leher nya yang terkena stempel merah itu.


"Nah gini kan lumayan" ucap Luna sembari melihat lehernya.


Kemudian Luna keluar dari kamar dan menghampiri Bayu yang sudah menunggunya di meja makan.


"Ada apa Yah? Kenapa Ayah memanggil Luna?" tanya Luna


"Ayah membelikan ini untukmu, rujak kedondong, pasti kamu suka" seru Bayu sembari memberikan rujak kedondong kepada Luna.


"Waahh makasih Yah...Tau aja kalau Luna suka yang asem-asem " jawab Luna senang.


"Tentu saja, ayah tahu wanita yang sedang hamil muda itu pasti suka yang asem-asem" balas Bayu sembari membuka beberapa bungkus makanan.


"Kamu panggil suamimu, suruh dia kesini, kita sarapan bersama, karena hari ini Tante Karin sedang pergi, maka Ayah membelikan ini untuk kalian, cepat Luna kamu panggil suamimu" titah Bayu


"Tapi...Yah, masa Luna sih yang manggil dia!"


"Kalau bukan kamu siapa, kamu kan istrinya, sudah... panggil sana!" perintah Bayu dan terpaksa Luna menuruti permintaan Ayahnya.


"Baik Yah!" Jawab Luna terpaksa.


Luna pergi ke luar dan melihat Ray yang baru datang dari kamar mandi, keduanya tampak malu-malu kucing saat saling bertatapan, masih teringat jelas saat keduanya pagi ini melakukan olahraga suami istri. Namun sayang mereka tidak menyelesaikan nya karena Bayu keburu memanggil Luna


"Masuk lah, Ayah memanggil mu!" seru Luna, dengan cepat Luna masuk ke dalam rumah, tampak Ray tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang tampak malu-malu seperti dirinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2