TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK

TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK
Donor ginjal


__ADS_3

Sementara di rumah kediaman keluarga Besar Andreas, terlihat wanita tua yang rambutnya sudah hampir berwarna putih semua, sedang duduk di sebuah kursi goyang dekat dengan jendela, wanita yang biasa disapa Nyonya Emily itu tampak lemas dan sedikit pucat. Penyakit gagal ginjal yang dideritanya membuat Emily terlihat lemah.


Vera mencoba mendekati wanita yang biasa Ia panggil dengan Mama itu, dengan membawakan semangkuk bubur hangat untuk ibu dari suaminya.


"Mama! Mama makan dulu ya! Vera suapin!" Vera menyendok bubur itu dan meniupnya pelan-pelan. Kemudian mencoba menyuapi sang mertua yang tampak acuh kepadanya.


Wanita itu memalingkan wajahnya dan menolak suapan sang menantu.


"Pergi kamu dari sini! Aku tidak butuh bantuanmu, aku ingin Excel yang menyuapiku, kamu senang kan! Aku seperti ini! Sehingga kamu tidak akan mendapatkan perlakuan burukku lagi!" ucap Emily dingin.


Vera meletakkan kembali sendok itu pada mangkuk yang berisi bubur.


"Mama! Vera minta maaf jika selama ini Vera sudah membuat Mama kesal, tapi izinkan Vera untuk berbakti kepada Mama, Vera tahu Mama masih belum memaafkan Papa, tapi percayalah Ma! Papa tidak berniat melakukan itu, dan semua itu sudah takdir dari yang Kuasa!" ucap Vera mencoba meyakinkan mertuanya.


"Diam kamu, tahu apa kamu tentang kecelakaan itu? Kamu tidak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh suami dalam keadaan seperti itu, Dewa sudah merebut kebahagiaan keluarga kami, Excel dan Romi menjadi anak yatim, dan itu membuat Excel menjadi liar, dia merasakan dendam yang begitu besar terhadap keluargamu, tapi entah kenapa dia justru menikah dengan anak dari pembunuh suamiku, yaitu kamu!" ungkap Emily sedih.


"Tidak Ma! Itu tidak benar, Papa tidak bersalah, Papa tidak pernah menabrak mobil itu!" bantah Vera sembari menangis.


"Lebih baik kamu pergi dari sini! mataku sakit melihat kedatanganmu, cepat pergi!" hardik wanita tua itu sembari mendorong pundak sang menantu. Bara yang tanpa sengaja melihat Vera diperlukan seperti itu segera menghampiri sang Ibu yang terjatuh di lantai.


"Mama! Mama tidak apa-apa kan?" ucapnya sambil membantu Mama untuk berdiri.


"Bara! Mama tidak apa-apa!" jawab Vera sambil menunjukkan senyum tegarnya.


Bara melihat dengan mata kepala sendiri jika sang nenek telah melakukan hal yang buruk kepada ibunya. Bara menghampiri wanita yang dipanggilnya Oma itu.


"Oma! Apakah Oma sayang sama Bara?" tanya Bara sembari memegang tangan wanita yang kerap di panggil Mama oleh Excel dan Vera.


"Kamu bicara apa sayang! Tentu saja Oma sangat menyayangi kalian cucu Oma, bagi Oma kalian berdua kamu dan Frisca adalah harta Oma yang paling berharga" jawab Emily sambil mengusap puncak kepala Bara dengan lembut.


"Apa Oma pernah berfikir jika Bara dan Kakak terlahir dari seorang wanita yang telah Oma sia-siakan selama ini? Wanita yang rela hidup bersama Oma, merawat kami cucu Oma, menemani Papa dalam suka dan duka, wanita itu rela meninggalkan kedua orang tuanya demi hidup bersama kami, demi merawat Oma, menemani Papa... apakah Oma pernah berfikir demikian?" ungkap Bara sembari menatap wajah sang nenek.

__ADS_1


Sejenak Emily terdiam, apa yang dikatakan Bara memang benar adanya, namun Emily tetap pada pendiriannya.


"Tapi, Ayah nya sudah membunuh kakekmu, mobilnya menabrak mobil kakekmu sehingga kakekmu meninggal dalam kecelakaan, itu Oma yang belum bisa terima.


"Oma! Apa Oma benar-benar sudah mencari tahu buktinya, jika kakek Dewa yang sudah menabrak mobil Opa Andreas, Bara rasa Oma hanya merasa saja" ucap Bara mencoba meyakinkan Nyonya Emily.


"Bara! Kenapa kamu lebih membela wanita itu daripada Oma kamu sendiri?" jelas Emily dengan emosi.


"Karena Bara terlahir dari wanita yang telah Oma benci, Oma! Bara mohon Oma bisa berdamai dengan hati Oma, Opa Andreas sudah tenang di sana, untuk apa lagi kita ungkit penyebab kematian Opa, itu semua sudah takdir Oma!" seru Bara


"Tidak bisa begitu, Oma tetap tidak rela jika wanita itu tetap tenang dibalik kesedihanku...aww... aduh!"


Tiba-tiba Emily merasakan nyeri ulu hati yang terasa sangat, dan tentu saja itu membuat Bara dan Vera merasa terkejut.


"Mama"


"Oma"


"Cepat Bara, bawa Oma ke rumah sakit, Mama tidak mau terjadi sesuatu kepada Oma" ucap Vera memaksa anaknya untuk segera membawa Emily ke rumah sakit.


Bara dan Vera membawa Emily ke rumah sakit, Vera selalu bersama sang mertua, berharap mertuanya baik-baik saja. Vera dan Bara tidak sempat mengabari Excel yang masih sibuk di kantor.


Sesampainya di rumah sakit, petugas medis segera menyambut kedatangan Pasien, dengan membawakan brankar dorong untuk membawa Emily masuk ke dalam ruang ICU.


Vera dan Bara mengikuti terus kemana brankar dorong Emily sampai tiba di sebuah ruang yang khusus untuk petugas medis.


"Maaf Nyonya! Anda tidak bisa masuk, kami akan segera menangani pasien sebaik mungkin, silakan tunggu diluar" seru Dokter itu kepada Sonia.


"Iya suster!" jawab Vera.


Vera dan Bara duduk di sebuah bangku dekat dengan ruang ICU tadi. Sesekali Vera menghela nafasnya, ibu mertuanya memang sering jahat kepadanya, meskipun begitu Ia tetap sayang kepada Emily.

__ADS_1


"Bara! Coba hubungi Rumah, beritahu jika kita ada di rumah sakit, mengantarkan Oma yang sedang sakit, aku coba hubungi Papamu, tapi Ponselnya dimatikan, sepertinya dia masih rapat." ucapannya yang mulai semakin cemas.


"Iya Ma" jawab Bara sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa menit Dokter keluar dari ruangan itu, tampak nya ada sesuatu yang membuat dokter harus segera melakukan tindakan secepatnya.


"Maaf Nyonya! Silahkan ikut ke ruangan saya!" titah dokter kepada wanita yang masih terlihat cantik itu.


"Baik dokter!" ucapnya sambil berjalan mengikuti Dokter itu.


Setibanya di ruangan dokter, Vera duduk dan menyimak apa yang akan dikatakan oleh dokter kepadanya.


"Silahkan duduk Nyonya" seru dokter.


Vera tersenyum dan segera duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Begini Nyonya, sepertinya ginjal Nyonya Emily harus segera kami angkat, mengingat kondisi nya yang sudah semakin parah, kami takutkan Nyonya Emily akan semakin menurun kesehatannya, dan kami khawatir dia tidak akan bisa bertahan" seru dokter itu.


"Terus apa yang bisa kami lakukan dokter, tolong dokter, selamatkan ibu mertua saya, apapun akan saya lakukan asal Mama bisa sehat kembali" ucap Vera yang mulai berkaca-kaca.


"Kami harus melakukan cangkok ginjal kepada Nyonya Emily, dan apakah keluarga sudah mendapatkan donor ginjal itu? Kami berharap keluarga secepatnya mencari donor ginjal untuk kesembuhan Nyonya Emily". balas Dokter.


Sejenak Vera terdiam, Emily memang selalu berbuat buruk kepadanya, tapi hati nuraninya berkata lain, Emily adalah ibu dari orang yang dicintainya, dan Vera memutuskan untuk mendonorkan ginjal nya kepada sang mertua.


"Saya bersedia mendonorkan ginjal saya untuk Mama! Lakukanlah dokter, jika itu bisa menyelamatkan nyawa Mama" ucap Vera sungguh-sungguh.


"Apa Anda yakin Nyonya?"


"Sangat yakin!"


"Baiklah, sebelumnya kami akan memeriksa kondisi kesehatan Nyonya, apakah darah anda cocok dengan Nyonya Emily, setelah itu kami akan segera melakukan tindakan" ucap dokter itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2