
Ray tampak tidak mau melihat Luna dalam kondisi seperti itu, dirinya pasti tidak bisa menahan jika terus melihat Luna yang polos tanpa sehelai benangpun.
Namun Luna tidak menghiraukan suaminya yang tampak kikuk melihat kehadiran dirinya, Luna sengaja menggoda Ray yang masih berlindung di balik dendam dan gengsinya.
Luna tampak mengambil loffa atau spons jaring dan menuangkan sabun cair pada spons itu. Kemudian ia segera menggosok tubuhnya dengan loffa tersebut dan itu membuat Ray semakin tak bisa mengontrol dirinya.
Setiap yang ada pada diri Luna, membuat Ray semakin ingin meraihnya, tapi apalah daya kali ini gengsi mengalahkan seorang Ray. Dengan cepat Ray keluar dari area shower dan mengambil handuk lantas ia lilitkan pada tubuh bagian bawahnya, hingga nampaklah dada bidang yang berbulu halus itu menampakkan pesonanya.
Luna melihat suaminya keluar dari kamar mandi, tampak ia tersenyum saat ia tahu Ray masih menahan Hercules nya yang masih berdiri kuat.
"Sampai kapan kau akan menghindari ku Ray! Aku sudah tahu kelemahan mu, Aku akan segera meruntuhkan tembok kebencian yang ada pada dirimu" janji Luna pada dirinya sendiri.
Ray berjalan menuju ruang ganti, tampak ia mengusap wajahnya kasar saat ia mengingat Luna yang sedang menggodanya.
"Berani-beraninya dia menggodaku, dia pikir aku akan luluh, jangan mimpi, sebelum dendamku terbayarkan, aku akan tetap seperti ini, tapi...Kenapa kamu tidak mau diajak kompromi, dasar belut nakal" umpatnya pada dirinya sendiri sembari melihat miliknya yang masih tegak menantang.
Perlahan Ray menghela nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkan nya dengan pelan, hingga beberapa kali ia mengatur nafasnya, dan akhirnya si belut nakal itu pun mau tertidur.
Kemudian Ray mengambil kemeja yang sudah di persiapkan Luna dan memakainya. Namun tiba-tiba saja Luna ikut masuk ke dalam ruang ganti tersebut. Dengan hanya membalut tubuhnya dengan handuk putih sebatas dada, dan gulungan handuk yang menutupi rambutnya yang basah, membuat Ray di buat gerah lagi dengan kehadiran Luna di sana.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Ray sembari mengancingkan kemejanya dengan menatap Luna lewat pantulan cermin. Luna menoleh ke arah cermin, dimana Ray sedang memperhatikan nya sambil mengancingkan kemejanya.
"Ya ganti baju dong" jawab Luna santai
Tampak Luna tertawa geli melihat Ray, dan tentu saja Ray terkejut melihat Luna yang tengah menertawakannya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Ray menyelidik
__ADS_1
Luna mendekati suaminya dan menghadapkan Ray di depan Luna.
"Eh...eh...apa yang kamu lakukan" seru Ray terkejut.
"Kalau mengancingkan kemeja, lihat kemejanya dong jangan lihat yang lain, apa kamu mau ke kantor dengan kancing kemeja yang salah tempat seperti ini?" ucap Luna sambil mengatur kembali kancing meja Ray yang salah tempat.
Ray tampak salah tingkah dan membuang wajahnya ke segala arah, kini dihadapannya berdiri wanita yang sudah membuatnya terjerat dalam cinta. Ray benar-benar sudah dibuat gila sekaligus dendam pada Luna.
Pemandangan di depan matanya kini tak bisa Ray bohongi, membuat dirinya tergoda lagi, baru saja Hercules nya tidur, dan kini Hercules si belut nakal itu mulai menunjukkan lagi pesonanya.
Ray memejamkan matanya, mencoba merilekskan pikirannya agar dirinya tak tergoda iman ketika melihat kemulusan tubuh Luna.
"Sudah...Sekarang Aku mau ganti baju" ucap Luna sembari mengambil baju warna pink yang akan ia kenakan hari ini. Ray masih menatap Luna yang tengah menjangkau bajunya yang terletak di lemari atas. Dengan sedikit menjinjit, Luna mengambil baju itu, dan tanpa sengaja handuk yang hanya melilit tubuhnya itu ternyata terhempas juga ke lantai. Dan tampaklah pemandangan yang melebihi keindahan taman bunga, dan melebihi tujuh keajaiban dunia.
Ray semakin berat menghela nafasnya, hari itu dirinya benar-benar dilema, Ia mampu berkata tidak namun si belut nakal itu tak mau di ajak berteman.
Luna dengan segera mengambil handuknya yang terjatuh di lantai. Lantas ia menengok kearah Ray yang pura-pura tidak melihatnya.
Ray segera memalingkan wajahnya saat Luna menoleh dirinya. Telihat senyum tipis pada wajah cantik Luna.
"Sampai kapan kamu akan bertahan dengan sikap mu itu Ray! Aku ingin tahu seberapa kuat kau akan menolakku" gumam Luna yakin akan mampu merebut hati Ray kembali.
Perlahan Luna memakai underwear nya satu persatu. Sementara disamping nya Ray tampak hatinya tak karuan. Ingin sekali dirinya menghampiri Luna, namun rasa gengsi yang terlalu besar membuat Ray berpikir dua kali untuk menyentuh Luna.
Ray berhasil memakai celana panjangnya yang sedari tadi masih belum ia kenakan. Sementara Luna beranjak keluar dari ruang ganti dengan memakai dress warna pink, yang membuat kulit Luna semakin cerah dan bersinar.
Ray memperhatikan Luna yang tampak segar dan merona pagi ini. Membuatnya ingin sekali mengelus pipi Luna yang terlihat sangat smoothy dan licin.
__ADS_1
"Haaahhh...Kenapa Aku ini, kenapa Aku tidak bisa menjauhkan pandanganku darinya, Ray dia adalah putri dari wanita yang kamu benci, seharusnya kamu tidak mencintai nya, balaskan dendammu Ray...Kau berhak mendapat keadilan" lagi-lagi bisik setan itu merasuki jiwa dan hatinya.
Ray keluar dari ruang ganti dengan ekspresi dingin. Luna melihat suaminya yang sudah memakai jas hitam dan bersiap berangkat ke kantor.
"Ray...Kau tidak sarapan dulu" tanya Luna dengan lembut.
"Tidak usah, aku tidak suka dengan apapun yang kau buatkan untukku, makan saja sendiri" jawab Ray sembari berlalu meninggalkan kamar mereka.
"Braakk"
Luna memperhatikan pintu yang sudah tertutup seusai kepergian Ray dari kamar mereka. Ia menghela nafasnya dan mengambil roti dan susu yang ia bawa untuk Ray, nyatanya Ray tidak mau meminum sedikit pun susu atau sekedar mencicipi roti yang Ia bawakan.
"Baiklah Ray! Jika kamu tidak mau memakan roti yang kusediakan untukmu, biar aku yang memakannya, ini akan berguna untuk menambah kekuatanku untuk membawamu kembali dalam pelukanku" ucap Luna sembari menggigit roti selai nanas itu.
Sesekali Luna melihat ranjang tidur yang ia duduki sekarang, dimana tadi malam adalah malam yang sangat indah untuk dirinya dan Ray.
Ray sangat berbeda dengan pagi ini, mungkin pagi ini Ray sangat dingin dan cuek, tapi semalam saat Ray dalam ranjang bersama Luna, nyatanya Ray sangat lembut dan penuh gairah yang membara. Membuat Luna senyum-senyum sendiri.
"Tak apa jika kau menghindari ku pagi ini, tapi jangan salahkan aku, jika setiap malam kau akan terus ku buat tak berdaya Ray!" gumam Luna sembari melihat tempat tidur mereka yang tampak acak-acakan, sisa percintaan mereka semalam.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤❤
...Puasa terakhir, mudah-mudahan nggak bolong...tahan ya beb, bab-bab kali ini othor menunjukkan perjuangan istri yang solehot 😁...
...Makasih atas dukungan kalian semua sampai di bab ini, doakan othor ya agar lancar terus nulis bab-bab berikutnya 😊❤...
__ADS_1