
Ray menatap wajah sang istri dan berkata.
"Kenapa kamu datang kemari? Bukankah seharusnya kamu tidur?" Ray berkata sembari melihat wajah Luna yang terlihat berseri meski tanpa polesan make up yang tebal.
"Apa aku tidak boleh datang kepada suamiku?" ucapnya sembari melepaskan kancing piyama miliknya. Ray yang melihat itu merasa ada sesuatu yang mendorongnya untuk membantu Luna melepaskan kancing tersebut.
"Reyna?" Ray menatap dalam-dalam mata Luna seiring hasrat yang mulai muncul kala itu.
"Reyna masih tidur, ada baby sitter yang menjaganya" Luna semakin mendekati suaminya dan terus menggoda nya
"Baby! Apa yang kamu lakukan?"
Ray menahan rasa saat tangan lembut istrinya menyusup ke dalam celana Ray.
"Apa kamu tidak merindukanku! Setelah aku pikir, tidak ada salahnya aku memenuhi permintaan suamiku hmm"
Luna tersenyum dan terus menyentuh area sensitif itu semakin dalam. Sepertinya Ray tidak sanggup menahan keinginan yang selama 3 bulan ini ia pendam.
Ray berdiri dan mengangkat tubuh Luna untuk duduk di atas meja kerjanya, Ray mencumbu mesra sang istri penuh kerinduan.
Setelah sekian bulan Ray terpisah dari tempat favoritnya, akhirnya kini dirinya menikmati kembali, tempat yang membuatnya lupa akan segalanya.
"Baby! Kamu yakin akan melakukannya?" Ray berbisik mesra saat kapal selam itu siap menyelam ke dasar samudera percintaan.
Luna mengangguk pelan sembari menggigit bibir bawahnya saat Ray sudah ancang-ancang untuk membenamkan diri, jauh menembus dasar kepemilikan Luna.
"Ray...!"
Untuk pertama kalinya setelah 3 bulan terakhir, keduanya terpisah tidur, Luna lebih fokus pada bayi mungilnya, sementara Ray juga membantu sang istri untuk memulihkan kondisinya seusai melahirkan.
Namun hari ini mereka berdua bertemu kembali dengan kerinduan yang mendalam, sentuhan yang pernah sempat menghilang, akhirnya kini menjelma dan mulai membuai keduanya dalam satu rengkuhan, satu dekapan, satu gelora jiwa yang membara.
Suara indah nan merdu saling bersahutan, memenuhi ruangan yang cukup luas itu, di atas meja kerja Ray, biasanya ia mengerjakan tugas -tugas kantornya di sana, namun sekarang dia sedang mengerjakan pekerjaan yang sangat penting, yang membuatnya berkeringat, gerakan meja yang bergetar, menunjukkan bagaimana agresif nya dua insan yang sedang bercinta di atas meja itu.
Satu kaki terangkat ke atas dan yang satunya sejajar dengan meja, tangan Luna berpegangan pada tepi meja, gerakan Ray yang terlalu semangat, membuat Luna seolah tak bisa mengendalikan tubuhnya yang seakan terdorong oleh tubuh suaminya.
Hingga beberapa waktu lamanya, akhirnya perjuangan mereka menuju puncak pun tercapai dengan nikmatnya, Ray memeluk istrinya dengan nafas yang saling berkejaran, setelah mereka berlomba untuk mencapai titik tertinggi sebuah kenikmatan dunia yang diimpikan setiap manusia.
"Aku mencintaimu Ray!" suara lembut Luna yang hampir tak terdengar karena berpacu dengan deru nafasnya yang tersengal-sengal. Ray meletakkan kepalanya pada dada Luna sesaat puncak kenikmatan itu masih tersisa beberapa kedutan kecil.
Setelah beberapa saat ular anaconda itu pun mulai keluar dari persembunyiannya dengan keadaan melemah.
__ADS_1
Ray mengangkat tubuh istrinya yang terlihat lemas karena ulahnya itu, dan menidurkannya pada sofa. Setelah beberapa saat Luna akhirnya mulai bisa mengumpulkan tenaganya.
Luna segera mengambil pakaiannya yang tergeletak di atas lantai.
"Aku mau melihat Reyna dulu, nanti aku kembali" ucap Luna sembari mengusap lembut wajah Ray yang penuh dengan peluh dan keringat.
Ray tersenyum dan membiarkan istrinya untuk melihat sang buah hati mereka di dalam kamarnya.
*
*
*
*
Sementara di suatu kamar berukuran cukup luas, terlihat sepasang suami istri yang tengah menunggu hari kelahiran bayi mereka yang masih berada di dalam kandungan.
Jasmine terlihat mengusap perut besarnya yang kini berusia 9 bulan, Jasmine merasa perutnya sedikit mulas dan kemudian hilang, kemudian muncul lagi, hilang lagi, dan itu membuat Abian sangat khawatir sekali.
"Ayo kita ke dokter sayang!" ajak Abian kepada Jasmine yang mulai merasakan mulas-mulas.
"Nggak-nggak, aku di rumah aja, ini mungkin kontraksi palsu yang biasa terjadi di usia kandungan yang sudah tua" jawabnya santai.
"Tidak mungkin sayang! HTP nya masih sekitar 10 hari, mungkin ini cuma kontraksi palsu" ucap Jasmine menenangkan.
Namun tiba-tiba saja, perut Jasmine semakin lama semakin tegang, dan dirinya terlihat semakin kesakitan.
"Aduuhhh... perutku!" Jasmine memegangi perutnya yang terlihat menegang itu.
"Sayang! Kamu tidak apa-apa? Kita langsung saja ke dokter segera." Abian tidak tega melihat Jasmine yang terlihat begitu kesakitan.
Abian segera menghubungi kedua orang tua mereka untuk memberi kabar jika Jasmine akan melahirkan. Dan hari itu juga Abian membawa Jasmine untuk ke rumah sakit.
Vano dan Shesa segera menuju ke rumah sakit malam itu juga, begitu pun dengan Derry dan Nabila yang juga ikut panik mendengar menantunya akan segera melahirkan.
Sementara itu Luna yang berada di dalam kamar Reyna, melihat bayangan Abian yang sedang membawa Jasmine, rumah mereka yang berdekatan membuat Luna dengan mudahnya melihat mereka dari arah jendela kamar Reyna.
"Mereka mau kemana?"
Luna segera beranjak keluar rumah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Luna khawatir jika Jasmine tiba-tiba melahirkan, karena perutnya sudah sangat besar sekali, Setelah itu Luna memutuskan untuk bertanya kepada mereka berdua.
"Jasmine! Abi"
__ADS_1
Luna menghampiri Jasmine dan melihat kondisi keadaan adik iparnya itu. Jasmine sesekali meringis saat rasa sakit itu semakin kuat.
"Jasmine! Kamu yang kuat, kamu pasti bisa!" seru Luna menyemangati Jasmine.
"Iya terima kasih Lun!" balas Jasmine
"Aku akan memberi tahukan Ray"
Akhirnya Abi membawa Jasmine pergi ke rumah sakit, sementara Luna segera mrnbeei tahukah kepada suaminya jika Jasmine akan melahirkan.
Luna menghampiri suami yang masih berada di ruang kerjanya.
"Ray bangun!" Luna membangunkan suaminya yang sedang tertidur pulas itu, permainan yang begitu melelahkan tadi membuat Ray merasa sangat kelelahan dan mengantuk
"Hmm... kemarilah!" Bukannya bangun Ray justru menarik tangan Luna, sehingga membuat tubuh Luna jatuh terhempas kedalam pelukannya.
"Ray... lepas! Jasmine sedang melahirkan, ayo bangun! Kita ke sana" ucapan Luna membuat Ray membuka sedikit matanya.
"Apa! Jasmine melahirkan?"
"Iya...baru saja mereka berangkat ke rumah sakit, ayo Ray kita ke sana" Luna memaksa suaminya agar segera bangun.
"Iya...iya...tapi sebelumnya aku..." Ray menatap Luna dengan tatapan nakal, Luna sudah sangat hafal dengan sikap Ray yang seperti ini.
"Ray! Bukannya tadi udah, masa sekarang minta lagi!"
"Ya kurang dong! Masa cuma sekali!" jawabnya enteng sembari meraih kembali pinggang istrinya dan mellumat bibir itu kembali.
"Nanti kita terlambat Ray" Luna melepaskan ciuman itu.
"Tidak akan, sebentar saja, ayo dong!" suara parau itu terdengar begitu seksi dari bibir pria tampan yang kini tengah mendekap Luna dengan erat.
🔥🔥🔥🔥
...VISUAL HANYA PEMANIS, BUKAN MENUNJUKKAN WAJAH PEMAINNYA YA? TAPI ADEGANNYA 😊...
*
*
*
Mampir yuk di novel Karya Santi Uki yang berjudul DUDA VS ANAK PERAWAN
__ADS_1