TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK

TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK
Merayakan pertemuan


__ADS_3

Sementara itu Ray tampak duduk di kursi kebesarannya, sesekali ia tersenyum mengingat saat saat bersama Luna tadi siang.


"Kenapa bayangan gadis itu selalu muncul dalam pikiranku, ah sial..." ucap Ray sambil mengusap wajahnya kasar.


Ray terlihat menggelengkan kepalanya, berharap ini hanyalah mimpi, dirinya tak bisa pungkiri, jika Luna sudah berhasil mengambil perhatiannya.


Sementara itu tanpa Ray sadari, Vano masuk ke ruangannya, Ia melihat sang anak yang terlihat senyum-senyum sendiri.


"Ehem...ehem" Ray terkejut dengan suara deheman sang ayah.


"Papa...!" jawabnya terkejut sambil salah tingkah.


Vano mendekati putranya yang terlihat berbeda kali ini dan menepuk pundak Ray pelan.


"Hei boy, apa yang kamu pikirkan?" tanya Vano yang membuat Ray gugup.


"Apa maksud Papa?" Ray pura-pura tidak mengerti.


"Ray, Papa lihat kamu tampak senang hari ini? Kamu senyum-senyum sendiri, katakan apa yang membuat seorang Ray bisa tersenyum seperti itu!" seru Vano sambil duduk di kursi.


Ray berusaha menutupi apa yang terjadi pada dirinya. Karena ia tak mungkin mengungkapkan perasaannya, mengingat Ray terkenal dengan sikap dinginnya.


"Tidak ada Pa, mungkin itu cuma perasaan Papa saja" bantah Ray sembari membenarkan posisi duduknya.


"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita, tidak masalah, setidaknya ada sesuatu yang sudah berhasil membuat Ray tersenyum" ucap Vano menyindir. Dan itu membuat Ray tersenyum paksa.


"Baiklah Ray bagaimana? Apa Mamamu setuju dengan gagasan yang kau punya?" tanya Vano tentang proyek pengembangan usaha properti mereka.


Ray menghela nafasnya dan Ia mencoba tenang.


"Yang Papa katakan benar, Mama tidak menyetujui jika Ray membeli lahan di daerah itu, alasan Mama disana adalah tempat tinggal sahabat-sahabat Mama, tapi Ray merasa Mama terlalu membela kedua sahabatnya itu, padahal kedua orang itu sudah membuat Mama sakit, tapi kenapa Mama selalu membela mereka" ungkap Ray kesal.


Vano melihat ada dendam pada sorot mata Ray, seolah ia tak terima sang Mama diperlakukan seperti itu, Ray benar-benar terlihat membenci dua sahabat Shesa itu.


"Dengarkan Papa Ray, Papa mengerti perasaanmu, tapi Papa yakin dua sahabat mamamu itu sudah berubah, Papa sudah melihat penyesalan pada diri mereka, ya...meskipun akhirnya mereka pergi menjauh dari Mamamu, mungkin mereka merasa malu sudah melakukan hal itu pada Mamamu" ungkap Vano menjelaskan berharap sang anak bisa memahami.


"Tapi tetap saja Pa, dua orang itu sudah membuat Mama seperti seorang wanita rendahan, sementara saat itu Ray masih dalam kandungan Mama, Ray sudah dihadapkan dengan fitnah keji kedua sahabat Mama itu, Ray bersumpah, Ray akan membuat kehidupan dua orang itu menderita, mereka akan merasakan bagaimana menderitanya Mama saat itu" sumpah Ray.


"Ray akan membuat kehidupan mereka tidak tenang, sebelum Mama mendapat keadilan, Ray tidak akan berhenti mencari keberadaan mereka, Ray akan tetap datang ke daerah itu, dan Ray akan tetap membeli lahan itu Pa, Ray tidak peduli mereka akan tinggal dimana, Ray akan membeli lahan mereka dengan harga yang murah, kita tahu tempat itu adalah suatu tempat kecil di sudut kota, Ray akan membujuk perangkat desa setempat, agar warganya mau menjual tanah mereka, supaya mereka tahu siapa yang mereka hadapi sekarang" ucap Ray serius.


"Ray...Papa tidak suka caramu seperti itu, hal ini akan membuat mamamu marah besar, lagipula untuk apa kamu teruskan dendam ini, Mamamu sudah mengikhlaskan kesalahan mereka" ucap Vano mencoba menenangkan putranya.

__ADS_1


"Dengar Ray, Papa tidak akan mengizinkanmu untuk datang ke lokasi itu, Papa tidak suka caramu seperti itu, demi dendam kamu harus membuat orang sekitarnya ikut merasakan imbasnya, proyek ini sangat besar, Papa tidak mau hanya karena dendam, kamu akan menyesal nantinya, pikirkan kata-kata Papa" ucap Vano tegas.


"Papa pulang dulu, kita bicarakan lagi di rumah, Papa harap kamu bisa berubah pikiran setelah ini" seru Vano sembari beranjak pergi dari ruangan Ray.


Ray melihat Vano keluar dari ruangannya, sementara dirinya masih di buat kesal mengingat perlakuan dua sahabat mamanya itu.


"Aku tidak akan berubah pikiran, maafkan Ray, Ma...Pa, Ray akan tetap melanjutkan rencana ini"


Tiba-tiba saja Ray mendapati ponselnya bergetar, Ray mendapat sebuah pesan singkat dari Bertrand lewat ponsel nya.


"Jangan lupa hari ini, kita ke cafe" pesan Bertrand sudah terbaca oleh Ray.


Ray tersenyum dan ia membalas pesan Bertrand.


"Kalian tunggu, aku pasti datang!" balas Ray.


******


Di sebuah Cafe terlihat Ray mulai memasuki ruangan, mata elangnya mencari keberadaan dua orang temannya, sementara wanita-wanita yang ada di dalam Cafe itu tampak jingkrak-jingkrak kesenangan melihat kehadiran pria tampan yang baru saja memasuki Cafe.


"Hai ganteng, mau aku temani!" ucap seorang wanita dengan penampilan seksinya menawarkan diri sambil menggandeng tangan Ray tiba-tiba.


Ray tampak tak nyaman dengan sentuhan wanita bergaun mini itu, dengan cepat Ray melepaskan tangan wanita itu dari tangannya.


Ray tidak menghiraukan wanita-wanita yang mencoba mendekatinya. Hingga akhirnya seseorang melambaikan tangannya ke arah Ray.


"Hai...Ray, kita disini!" seru Bertrand kepada Ray.


Ray melihat Bertrand bersama Bara sudah menunggunya disana. Ray datang dan menghampiri mereka berdua.


"Hai bro...gimana kabarmu" seru Bertrand sambil menepuk pundak Ray.


"Aku baik, gimana kalian berdua?" tanya Ray balik kepada Bertrand dan Bara.


"Ya...beginilah masih jomblo akut haha" jawab Bara dengan diiringi tawa mereka bertiga.


"Ray...kita rayakan pertemuan kita ini dengan menghabiskan waktu semalaman disini" seru Bara.


"Setuju...ayo kita minum Ray" ajak Bertrand sambil memberikan segelas wine kepada Ray.


"Oke...kita rayakan pertemuan ini, cheers!" balas Ray.

__ADS_1


Mereka bertiga merayakan pertemuan mereka setelah 5 tahun terakhir tidak bertemu, mereka bertemu terakhir sebelum Ray pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studynya.


Hingga tanpa disadari Ray sudah minum terlalu banyak wine, sehingga membuat dirinya sedikit mabuk.


Bertrand dan Bara melihat Ray yang terlihat sudah mabuk, mencoba mencegah Ray untuk minum terlalu banyak.


"Ray cukup, kamu sudah minum terlalu banyak" seru Bara meraih gelas berisi wine yang akan diminum Ray.


"Baiklah kalau begitu aku pulang, karena kalian sudah tidak mengizinkan aku untuk meminum lagi" ucap Ray sembari beranjak pergi dari cafe tersebut.


"Tapi Ray, kau sedang mabuk" seru Bertrand khawatir


"Hah...tidak apa, aku masih bisa nyetir, lagipula ini sudah malam, aku tidak mau mama mengkhawatirkanku" ucapnya.


Akhirnya Ray pulang dengan sedikit sempoyongan, sesekali ia memegang kepalanya yang pusing.


Hingga akhirnya Ray mulai masuk kedalam mobil, Ia mencoba menguatkan dirinya agar tetap fokus menyetir mobilnya. selama beberapa menit Ray melajukan mobilnya dijalan raya, tiba-tiba ia merasa mual ingin muntah, mungkin efek terlalu banyak ia meminum Wine. Ray menepikan mobilnya di suatu jalan kecil di depan sebuah rumah sederhana. Ray turun dan ia muntah-muntah mengeluarkan isi perutnya akibat kebanyakan minum.


Tampak seorang gadis yang masih belum tidur, tak sengaja melihat sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya dari dalam jendela kamarnya.


"Mobil siapa tuh, sepertinya itu mobil..." Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya, karena tak sengaja dirinya mendengarkan seseorang yang tengah muntah-muntah.


"Kayak ada orang muntah?" Ia keluar rumah dan berjalan menghampiri mobil yang ia kenali itu, dan benar saja gadis itu mengenali sosok pria yang tengah muntah-muntah di samping mobilnya. Gadis itu memperhatikan seksama pria tersebut dan tiba-tiba saja ia mengenali dari jas yang ia pakai.


"Kamu...Apa yang kamu lakukan disini?" sontak ucapan gadis itu membuat Ray menoleh padanya.


Dengan sedikit kesadaran yang masih tersisa Ray mencoba menghampiri gadis yang sudah ia kenali.


"Luna...security Luna" ucap Ray lirih dengan menyebut nama Luna


Dan tiba-tiba saja Ray terjatuh. Dan itu membuat Luna sangat khawatir dan terkejut, Luna menengok kanan dan kiri, suasana malam itu sudah sangat sepi, mengingat ini sudah jam 1 malam.


Luna mencoba membantu Ray yang tak sadarkan diri.


"Astaga...bau alkohol menyengat sekali" seru Luna saat mencoba membantu Ray.


BERSAMBUNG


❀❀❀❀


...Penasaran apa yang terjadi setelah ini😁...

__ADS_1


...Tetap berikan like dan komentar dan juga hadiah sekaligus vote kalian, agar othor tetap fresh menyajikan bab baru untuk kalian 😊❀...


__ADS_2