
Luna tampak lemas dan mengelap keringat yang membasahi wajah cantiknya. Bayu mendekati putrinya sembari berkata.
"Pulanglah Nak! Maafkan Ayah, Ayah tidak bermaksud mengusirmu, Ayah tahu kamu khawatir kepada Ayah, tapi sekarang semuanya baik-baik saja, Ayah yakin Ray berubah pikiran karena dirimu" seru Bayu mencoba menenangkan hati Luna.
"Ayah tidak suka Luna berada disini?" balas Luna sembari menatap dalam-dalam sang Ayah. Bayu tersenyum dan memeluk putri kesayangannya.
"Justru karena Ayah sayang kepadamu, Ayah tidak ingin cucu Ayah tidak mendapat kasih sayang dari Ayahnya!" ucapan Bayu sontak membuat Luna terkejut.
"Darimana Ayah tahu, kalau Luna sedang hamil?" tanya Luna
"Apa kamu pikir Ayah tidak tahu tanda-tanda wanita yang sedang hamil? Dulu saat ibumu sedang mengandungmu, dia juga seperti dirimu, bila mencium aroma pisang goreng dia selalu muntah-muntah, hingga pernah pingsan hanya melihat sebuah pisang goreng yang masih hangat" ungkap Bayu mengingat saat-saat Mita untuk pertama kali mengandung buah cinta mereka.
Luna terdiam saat Bayu mengklaim bahwa dirinya tengah hamil, dan nyatanya memang benar adanya, Luna kini tengah mengandung buah cintanya dengan Ray, putra Vano dan Shesa.
"Tapi... aku tidak mau pulang Yah! Luna masih kesal sama Ray, dia udah nyakitin hati Luna, dia sangat egois" ungkap Luna yang masih terlihat marah dengan suaminya.
"Ya sudah, Ayah tidak akan memaksa, pikirkan baik-baik ucapan Ayah ini, jangan sampai kamu menyesalinya" ucap Bayu memperingatkan.
Karin yang melihat keadaan Luna yang masih tampak lemas, lantas ia mengajak keponakannya itu untuk beristirahat.
"Sudahlah Mas, biarkan Luna tinggal di sini untuk sementara, lagipula aku masih kangen sama keponakan ku ini, apalagi sekarang dia sedang hamil, Mas akan memiliki seorang cucu!" ucap Karin senang.
"Baiklah, Ayah akan membiarkanmu untuk tinggal bersama Ayah, tapi ingat jika suatu hari nanti, suamimu datang menjemputmu, maka Ayah tidak bisa menahanmu untuk tinggal bersama Ayah, ikutlah dengannya!" seru Bayu sembari mengusap kepala Luna. Dan Luna hanya terdiam tanpa kata.
*****
Hari mulai gelap, tampak Ray melihat senja yang berhadapan dengan jendela kantornya, baru saja dirinya mendapat notif bahwa Vano dan Shesa akan landing beberapa menit lagi.
Ray melihat sang Surya yang mulai membenamkan dirinya, terik cahaya siang telah berganti menjadi gelap dan penuh bintang.
"Aku harus siap, Maafkan Ray, Ma, Pa...Ray sudah membuat kalian kecewa, Ray siap mendapat hukuman dari kalian berdua" bisik nya dalam hati.
Ray melihat cahaya bintang yang tengah bersinar di malam ini, terlihat bayangan sang istri disela-sela gugusan bintang Orion yang terang itu.
"Sedang apa kau sekarang? Apa kau tidak merindukanku!" gumam Ray penuh kerinduan.
Menatap langit yang sama, tampak Luna duduk di halaman rumah dengan menatap bintang yang sangat terang di malam ini, sekilas terlihat gugusan bintang yang melukiskan wajah Ray, sang suami.
__ADS_1
"Ray...!" seru Luna yang terus memandangi bintang yang tengah bersinar terang itu.
"Kamu rindu dengan suamimu?"
Luna sangat terkejut dengan suara yang tiba-tiba menyeruak di telinga nya.
"Ayah...Sejak kapan Ayah disini?" tanya Luna yang terlihat salah tingkah.
"Sejak Ayah melihatmu bersedih, Ayah pasti akan ada untukmu!" ucap Bayu sembari duduk di samping putrinya.
"Katakan! Apa kau merindukan suamimu?" pertanyaan Bayu membuat Luna gugup setengah mati, dirinya memang menolak untuk bertemu dengannya, tapi hatinya tidak bisa dipungkiri, ada ikatan batin yang teramat kuat antara dirinya dan Ray.
"Itu pertanyaan konyol Yah, Luna sama sekali tidak merindukan Ray, dia sudah menyakiti Luna, mana mungkin Luna akan merindukan orang yang sudah membuat hati Luna teriris-iris." jawabnya dingin.
Bayu hanya menyunggingkan senyumnya dan menggelengkan kepalanya.
"Luna...Luna, jangan bohongi dirimu, Ayah melihat dengan jelas tatapan matamu yang begitu merindukan Ray, dengar Nak...kamu dan Ray sedang diuji, mampukah kalian bertahan dari cobaan cinta kalian, atau justru menyerah dengan keadaan memilih berpisah, semua itu ada di tanganmu, tapi Ayah sangat yakin jika Ray benar-benar mencintai mu" seru Bayu mencoba meyakinkan Luna.
"Tapi dia masih menyimpan dendam pada ibu Yah!" ungkap Luna sedih.
"Dengarkan Ayah, Kamu dan Ray saling mencintai, ada kalanya seseorang berbuat salah, mungkin saat ini suamimu telah khilaf, maafkanlah dia... lagipula sudah ada janin dalam kandunganmu yang menjadi tanggung jawab kalian berdua, Ray pasti senang mendengar berita kehamilanmu ini" ucap Bayu untuk menenangkan putrinya.
"Luna ke kamar dulu Yah, Luna mau istirahat" pamit Luna
Bayu memperhatikan putrinya yang masih bimbang, Ia berharap Luna dan Ray bisa segera menyelesaikan masalah mereka.
*****
Dan hari itu Vano dan Shesa sudah tiba di bandara internasional Juanda, terlihat Mario dan Jasmine menjemput kedatangan mereka berdua.
Jasmine sangat bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Mama dan Papa nya, dan berharap mereka bisa membantu masalah yang menimpa Ray dan Luna.
Jasmine memeluk kedua orang tuanya penuh kerinduan.
"Jasmine kangen banget sama Kalian" ucap Jasmine yang manja.
"Mama juga sayang! Dimana kakakmu Ray dan istrinya? Apa mereka tidak ikut?" tanya Shesa sembari memperhatikan sekeliling.
__ADS_1
"Em...Kak Ray masih di kantor Ma, dan Luna... Luna...Ah kita pulang dulu yuk Ma, nanti kita bicara tentang pengalaman Papa dan Mama di Dubai" Jasmine mencoba mengalihkan pembicaraan
Vano tampak curiga dengan apa yang disampaikan oleh Jasmine, dia tampak gugup saat menjelaskan tentang keberadaan Ray dan Luna.
"Apa yang disembunyikan dari Jasmine? Sepertinya ia menutupi sesuatu?" gumam Vano.
"Kalian berdua masuklah ke mobil, aku mau bicara dulu pada Mario" seru Vano kepada Shesa dan Jasmine.
"Baiklah... Jangan lama-lama, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Ray dan Luna" ucap Shesa yang terlihat senang dihari itu.
"Entahlah, bagaimana perasaan Mama jika tahu bahwa Luna tidak ada di rumah" gumam Jasmine.
Lantas Vano menanyakan suatu hal yang penting kepada Mario.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi selama aku pergi ke Dubai?" pertanyaan Vano membuat Mario gugup setengah mati.
"Kenapa kamu diam saja, ada yang tidak beres bukan?" Vano bertanya sekali lagi, dan kali ini Mario tidak bisa mengelak.
"Iya Tuan...Ada masalah besar di perusahaan kita" jawab Mario terpaksa.
"Astaga... sudah kuduga, apa yang dilakukan Ray? Katakan?" desak Vano dengan wajah yang serius.
Mario dibuat menyerah oleh Vano, Mario tidak bisa membohongi Vano, bagaimana pun Mario menyembunyikan sesuatu dari Vano, dengan cepat Vano pasti mengetahuinya.
Kemudian Mario menceritakan semua yang telah terjadi pada perusahaan sekaligus pada menantu mereka, Luna yang kini tengah pergi meninggalkan Rumah.
Dan tiba-tiba saja Vano mengeratkan giginya, wajahnya sudah merah padam, tak perduli Ray adalah putranya sendiri, Vano selalu menghukum siapa saja yang berani menentang perintahnya.
"Rayy...! Tunggu kedatangan Papa!"
Seru Vano dengan mengepalkan kedua tangannya.
BERSAMBUNG
🔥🔥🔥🔥🔥
...Waduh gawat...Vano marah guys...mau dibikin apa ya si Ray nanti?🤔...
__ADS_1
...Dukungan kalian tetap othor tunggu🥰...