
Ray dan Luna mengantarkan Vano dan Shesa ke Bandara, Luna memeluk Ibu mertuanya penuh haru.
"Mama cepatlah kembali, Luna pasti sangat kesepian tanpa Mama" ucap Luna sedih.
"Luna! Ada Ray yang akan bersamamu, Mama sudah wanti-wanti dia untuk menjaga menantu Mama, jangan khawatir sayang, Mama akan segera kembali" balas Shesa sembari mengusap wajah Luna dengan lembut.
"Jika Mama pergi, Ray akan bebas melakukan apa saja pada diriku, dia akan semakin menyakitiku, cepatlah kembali Ma, aku sangat menbutuhkanmu" gumam Luna sembari menatap Shesa dengan sendu.
Dan tak lama kemudian Vano dan Shesa akhir nya take off dan segera meninggalkan Indonesia. Luna menatap pesawat sang mertua dengan penuh harap, semoga Vano dan Shesa selamat sampai tujuan.
"Ayo kita pergi!" seru Ray dan diikuti Luna yang berada di belakangnya.
Selama dalam perjalanan Luna menatap suaminya yang tampak serius menyetir mobil, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Suasana dalam mobil seketika hening seolah tak ada nyawa. Luna mencoba mencairkan suasana dengan berbasa basi.
"Ray kita makan dulu yuk, dari tadi kamu belum makan sama sekali" ucap Luna.
Namun tak ada jawaban dari bibir Ray, sehingga membuat Luna bertanya sekali lagi.
"Ray! Tolonglah jawab aku sebentar saja, apa susahnya sih tinggal jawab iya atau tidak" seru Luna yang sudah habis kesabaran menghadapi Ray yang selalu dingin kepadanya.
Tiba-tiba Ray menghentikan mobilnya dan menyuruh Luna untuk turun dari mobil mereka.
"Turun!"
Luna terkejut apa yang dimaksud suaminya.
"Apa maksudmu Ray?"
"Aku bilang turun, turun dari mobil sekarang!" perintah Ray agar Luna turun dari mobilnya. Luna mulai mengerti apa maksud suaminya, lantas ia segera turun dari mobil mewah itu. Kemudian Ray menutup pintu mobil itu kembali dan berkata.
"Karena kamu sudah mengganggu konsentrasi ku, maka kamu harus pulang sendiri, aku tidak mau gara-gara ulahmu, aku akan celaka"
"Braakkkk"
__ADS_1
Suara pintu mobil yang tertutup cukup keras. Kemudian Ray melajukan mobilnya kembali dan meninggalkan Luna sendirian di tepi jalan raya.
"Ray...Tunggu, kenapa kau tega tinggalkan aku disini Ray...!" sekeras apapun Luna berteriak, percuma saja Ray tidak akan mau mendengarnya. Luna berhenti dan Ia duduk di halte bus sembari mengatur nafasnya.
"Dia kenapa sih? Aku harus mencari tahu, pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti itu, aku nggak boleh nyerah, oke ...aku akan menyambut penolakanmu Ray, hingga suatu saat nanti kau akan menyesal telah melakukan ini padaku" gumam Luna
Sementara langit menampakkan wajah gelapnya, hujan mulai berani turun dari intensitas kecil hingga intensitas tinggi. Ray tampak khawatir dengan keadaan Luna. Entahlah kenapa tiba-tiba saja Ray mencemaskan istrinya yang Ia tinggalkan tadi dipinggir jalan.
"Sial...Kenapa hujan harus turun, bagaimana keadaan nya, aku harus membawanya pulang, ia tidak akan bisa pulang dalam cuaca seperti ini" pikir Ray.
Lantas Ray memutar balik mobil mewahnya dan kembali ke tempat dimana Ia menurunkan Luna.
Setelah Ray tiba di tempat Luna turun, tampaknya sang istri sudah tidak ada disana, Ray berkeliling mencoba mencari keberadaan istrinya.
"Ah...Sh it kemana dia?" Ray terus mencari Luna dalam hujan yang turun dengan derasnya itu. Ray memutuskan untuk melajukan mobilnya pelan, dengan tujuan bisa menemukan keberadaan Luna dengan segera.
Luna berjalan menyusuri jalanan dengan hujan yang menghujam tubuhnya. Sesekali Ia menggigil kedinginan karena cuaca yang begitu ekstrim, terlihat dari kejauhan ada dua orang yang menghadang langkah Luna, dua pria tak dikenal tengah menghampiri Luna.
Luna terkejut dan tampak waspada dengan dua laki-laki itu.
"Jangan macam-macam kalian, atau kalian akan aku hajar" ucap Luna yang bersiap untuk melawan mereka.
"Wah...berani nantang juga nih cewek"
Dengan cepat dua pria itu melawan Luna, awalnya Luna bisa mengatasi dua pria itu dengan mudah, namun karena ada suara petir yang tiba-tiba Luna menjadi lemah, karena dirinya sangat takut dengan suara petir.
Luna tampak sibuk meringkuk menutupi telinganya saat petir itu mulai mengeluarkan kilatan cahaya yang sangat membuatnya takut.
Kedua pria itu menyeringai, dalam hujan yang lebat itu, Luna tak bisa berbuat banyak, tenaganya cukup lemah dengan keadaan tubuhnya yang menggigil kedinginan. Luna terlihat pingsan dan tubuhnya mulai terjatuh, Salah satu dari pria itu mencoba membawa Luna pergi.
Namun tiba-tiba saja langkah keduanya di hentikan oleh seorang pria tinggi tegap yang menghadang mereka berdua.
"Lepaskan wanita itu!" perintah Ray yang tampak mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Jangan ganggu kami, memang siapa kau berani mengganggu langkah kami, minggir!" ucap salah seorang pria tersebut.
"Lepaskan dia, atau kalian harus berhadapan denganku" seru Ray yang sudah geram melihat dua pria itu membawa istrinya.
"Baik kalau itu maumu!" lantas mereka meletakkan tubuh Luna bersandar di bawah pohon.
Dengan brutal dua pria itu melawan Ray, dua pria itu bukanlah tandingan Ray, Ray sudah sangat terlatih dalam kemampuan bela dirinya. Selama kuliah di luar negeri Ray juga mengikuti teknik Wushu untuk pertahanan dirinya sendiri sebagai seorang pebisnis yang tak jarang menemui musuh.
Tak membutuhkan waktu lama, Ray berhasil membuat dua orang pria itu lari terbirit-birit. Kemudian Ray melihat Luna yang tak sadarkan diri tengah bersandar di bawah pohon. Ray menghampiri Luna dan segera membawa istrinya masuk kedalam mobil.
Ray melihat wajah Luna yang pucat akibat kedinginan, Ray melajukan mobilnya cukup kencang agar mereka cepat sampai di rumah. Sesekali Ray melihat wajah Luna yang tampak begitu manis. Ray membelai pipi Luna dan menguasapnya dengan lembut.
"Kenapa harus kamu yang aku benci, Aku tidak bisa membohongi perasaanku, bahwa aku sangat mencintaimu Luna, tapi aku juga tak bisa pungkiri, bahwa dendam itu juga membuatku membencimu, Aku tidak tahu harus melakukan apa" gumam Ray
Setelah beberapa saat Ray tiba di rumah mewah keluarga besar Perkasa. Ray membawa istrinya keluar dari mobil dan menggendongnya menuju kamar mereka. Tampak Luna yang lemas tak berdaya karena kehujanan dan kedinginan.
Ray merebahkan tubuh sang istri dan mengganti baju Luna yang tampak basah semua, begitupun juga dengan Ray, dirinya juga basah kuyup karena hujan yang lebat tadi.
Setelah Ray mengganti bajunya dengan handuk piyama, kemudian Ray mengambil baju ganti untuk istrinya. Ray duduk di samping Luna yang masih tak sadarkan diri.
Perlahan Ray melepaskan satu persatu kancing kemeja Luna.
"Glek"
Kali ini Ray sadar sesadar-sadarnya tak seperti malam itu, disaat dirinya tak bisa mengusai rasa gairah yang dahsyat di malam pengantin mereka.
Ray menelan ludahnya kasar saat Ia melepas kaitan bra yang menutupi dua bongkahan yang menantang itu. Dan beberapa saat Ray sudah berhasil membuka rok Luna yang basah.
"Ah...Sial" gumam Ray saat melihat sesuatu yang bersembunyi di balik kain tipis menerawang itu.
BERSAMBUNG
❤❤❤❤❤
__ADS_1
...Nah loh😁...