
fkSetelah 3 bulan kemudian.
Sekarang hari-hari Ray dan Luna diwarnai tangis dan tawa seorang bayi mungil yang cantik dan imut, Reyna panggilan untuk bayi cantik mereka, Ray selalu berusaha menjadi ayah yang siaga dan selalu menjaga bayi mereka di malam hari. Mengingat Ray dan Luna sudah tinggal di rumah sendiri.
Meskipun banyak pelayan yang sudah disediakan, namun Ray tidak mau menyiakan waktu untuk menjaga bayinya saat malam hari, agar sang istri bisa beristirahat. Ray dengan telaten menggendong dan menenangkan putri kecil mereka saat terjaga dari tidurnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11malam, terlihat Ray masih menggendong putri kecil mereka, nampaknya malam ini Ray akan bergadang, karena dilihatnya Reyna Lavinya sedang tidak ingin mengajak sang Daddy untuk tidur, Reyna mengajak Daddy untuk bermain dan berbicara, tampaknya bayi yang kini berusia 3 bulan itu sudah mulai bisa mengoceh.
Malam itu sang putri mengajak Ray berbicara dengan bahasa bayi, dan tentu saja Ray pun menanggapi ocehan bayinya dengan jawaban yang membuat Luna memutar bola matanya dan menyilangkan kedua tangannya.
Luna melihat Ray dari balik pintu, tanpa sengaja ia mendapati suaminya yang sedang menggendong bayi perempuannya yang masih terjaga.
"Hmm....apa cayang! Reyna kok belum bobo sih"
"Hmm... apa? Reyna ngajak Daddy begadang ya!"
Ray tampak berbicara kepada putrinya yang tampak sedang mengoceh itu. Lama-lama Reyna terlihat rewel, kemudian Ray mencoba menenangkannya.
"Ohhh... cayang! Anak Daddy yang cantik, nggak boleh nangis ya, Reyna minta apa? Nanti Daddy pasti beliin" Ray menatap wajah lucu sang anak yang terlihat serius menatap wajah Daddy-nya.
"Minta boneka? Minta mainan? Minta baju? Minta permen? Minta coklat....?"
Namun sepertinya semua yang ditawarkan oleh Ray agaknya tidak bisa membuat Reyna diam, dengan ekspresi nya yang lucu, Reyna justru menunjukkan ekspresi wajah yang tidak setuju, dan Ia masih sedikit rewel.
"Aduuhhh...kok nggak mau semua? Terus minta apa dong cayang? Jangan bikin Daddy pusing dong!" ucapnya sambil berpikir apa lagi yang belum ia tawarkan kepada bayi cantik yang berusia 2 bulan itu.
"Ah... Daddy tahu kamu minta apa! Kamu pasti mau adik lagi iya kan?"
Dan sontak apa yang dikatakan oleh Ray kepada putrinya, ternyata berhasil membuat sang putri tersenyum dan tidak rewel lagi.
"Wahhhh...jadi kamu ingin punya adik ya? Bentar ya nanti Daddy bilang dulu sama Mommy, boleh nggak Daddy bikinin adek buat kamu" ucapnya senang sambil menepuk-nepuk punggung Reyna yang ia gendong menghadap ke dadanya.
__ADS_1
Sementara di balik pintu, Luna yang tak sengaja mendengar dan melihat percakapan ayah dan anak itu tampak menyilangkan kedua tangannya.
"Sudah sekarang Reyna bobo dulu ya! Habis ini Daddy mau bikinin adek buat Reyna, mudah-mudahan aja Mommy kamu mau, udah 3 bulan Daddy sendirian cayang!" ucap Ray sembari meninabobokan putri mereka.
Ray membalikkan badannya dan dilihatnya sang istri yang sedari tadi sudah mendengar kan curhatan Ray kepada putrinya. Ray tersenyum kepada Luna yang tampaknya sudah mengerti maksud suaminya.
Kemudian Luna berjalan menghampiri mereka dan melihat putri kecil mereka sudah tertidur dalam dekapan Ray.
"Reyna sudah tidur, sini biar aku meletakkannya pada tempat tidurnya, dan kamu tidurlah! Bukannya besok kamu ada rapat penting" pinta Luna.
Kemudian Ray memberikan Reyna kepada istrinya, setelah Reyna berada pada gendongan Luna, tampaknya Ray terus menerus mendekati istrinya, sehingga membuat Luna bertanya.
"Kamu kenapa Sayang? Kamu nggak tidur?" tanya Luna menatap wajah Ray yang sudah memendam rindu kepada istrinya. Kemudian Ray berbicara kepada Luna dengan nada merayu.
"Tadi...Aku dan Reyna sedang berdiskusi, bahwa Reyna ingin sesuatu sayang?" ucap Ray malu-malu kucing.
"Oh ya? Reyna ingin sesuatu? Apa itu?" tanya Luna penasaran, meskipun sebenarnya Luna sudah tahu apa yang dimaksud oleh suaminya.
Luna terlihat meletakkan tubuh mungil putrinya pada tempat tidur bayi. Setelah Luna berhasil menidurkan bayinya, kemudian ia bangun dan berdiri di depan suaminya.
"Bicaralah! apa yang ingin kamu katakan?" tanya Luna yang mulai membuat Ray semakin semangat, mengingat sekarang 3 bulan tepat usia Reyna, dan sudah diperbolehkan dirinya datang kepada istrinya.
"Reyna bilang ingin punya adek!" ucapan Ray seketika membuat Luna menghela nafasnya dan menatap mata sang suami lekat-lekat. Luna tersenyum dan berkata kepada suaminya .
"Jangan buat alasan Reyna yang ingin punya adek, sebenarnya Daddy-nya kan yang ingin gitu, alesan aja kamu" jawab Luna sembari menyilangkan kedua tangannya.
"Hmm... memangnya kamu nggak pingin!"
"Eh...eh...Ray lepaskan! Kamu mau apa?"
Ray tiba-tiba menyergap tubuh istrinya, memeluknya penuh kerinduan dan berbisik mesra pada telinga Luna.
__ADS_1
"Ayolah Baby! Bukankah ini sudah 3 bulan, kata dokter tidak apa-apa jika kita kembali melakukan hubungan itu, please aku mohon kamu mau ya!" Ray memohon kepada istrinya agar meluluskan permintaannya.
"Tapi Ray! Aku masih takut, berikan aku waktu satu bulan lagi, aku mohon!" pinta Luna agar Ray mau memberikannya waktu untuk mempersiapkan dirinya untuk bisa melayani kembali hak-hak suaminya setelah dirinya melahirkan.
Ray menatap dalam-dalam mata sang istri, masih terlihat rasa takut untuk melakukan hal itu, dan sepertinya Ray juga tidak mau egois, dia bisa memahami keadaan istrinya, dan dia teringat akan kata Vano, waktu 4 bulan adalah baginya untuk bersabar menanti Kembali hak-hak nya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa, maafkan aku sayang! Sekarang tidurlah, aku mau ke ruang kerja" ucap Ray sembari mencium kening istrinya. Luna menatap wajah Ray yang terlihat kecewa, kemudian Ray beranjak pergi dari kamar putri mereka.
Luna melihat punggung suaminya yang mulai menjauh darinya dan akhirnya menghilang di balik pintu kamar Reyna. Sejenak Luna berpikir tidak ada salahnya jika dia menuruti kemauan suaminya, toh menurut dokter itu waktu yang cukup bagi seorang wanita untuk melakukan Kembali tugasnya sebagai seorang istri.
Luna menyuruh seorang baby sitter untuk menemani putri mereka tidur, sementara dirinya akan menyusul suaminya.
"Kamu jaga Reyna, jika dia haus berikan susunya, aku pergi dulu!"
"Baik Nyonya"
Kemudian Luna pergi menghampiri suaminya yang sedang berada di ruang kerjanya. Luna melihat Ray sedang duduk bersandar pada kursi kerjanya, dengan kepala yang menghadap ke atas, matanya tampak terpejam.
Luna masuk ke dalam ruangan kerja Ray tanpa sepengetahuannya, perlahan Luna mendekati suaminya yang terlihat sedang menenangkan diri itu. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Luna bersiap untuk memberikan haknya lagi sebagai suami.
Tiba-tiba mata Ray terbuka saat mendengar suara yang sangat ia kenal.
"Apa yang kamu pikirkan!" Luna berdiri di depan suaminya dengan pose yang menggoda.
Ray tidak berucap sama sekali, mata lelakinya mulai mengerti jika sang istri bersedia untuk mengabulkan permintaan nya.
*
*
*
__ADS_1
...Bagi kalian yang ingin gabung di grup WhatsApp, silahkan masuk grup chat, dan lihat deskripsi nya di sana ada nomor WhatsApp othor, yang berkenan saja, jika tidak berkenan othor juga tidak memaksa 😊...