
Vano dan Shesa membuka pintu itu lebar-lebar, dilihatnya Ray dan menantu mereka yang sedang menggendong seorang bayi. Sontak apa yang disaksikan oleh Vano dan Shesa, membuat mereka tidak percaya.
"Ray! Luna!... kalian!"
Shesa berjalan kearah ranjang tempat Luna berbaring, dengan mata yang mulai berkaca-kaca Shesa mendekati bayi yang tengah di gendong menantunya itu.
Shesa menatap wajah putranya, tanpa berucap Ray menganggukkan kepalanya dan tersenyum, menandakan jika bayi yang ada dalam pangkuan Luna adalah cucu Vano dan Shesa.
Luna tersenyum dan memberikan putrinya untuk di gendong oleh sang Oma, Shesa mengangkat tubuh mungil cucu pertamanya, dilihatnya wajah polos itu dengan bahagia, tak terasa air mata Shesa turut mewarnai kebahagiaannya.
Vano tersenyum bahagia, kemudian ia juga menghampiri istrinya yang tengah menggendong cucu pertama mereka.
"Dia cucu Mama, cantik bukan?" kata Ray sembari merangkul istrinya.
"Ini cucu Mama! Ya Tuhan! Dia lucu sekali, Mama tidak menyangka Luna melahirkan secepat ini" Shesa terlihat begitu senang.
"Lihatlah sayang! Cucu kita cantik sekali, lihatlah hidungnya mirip sekali dengan Ray" ucap Shesa sembari tersenyum kepada Vano.
Vano mengecup kening cucu pertamanya itu dengan lembut, sesekali bayi cantik itu menggeliat, keduanya terlihat begitu bahagia, tak terasa buliran bening itu jatuh tiba-tiba pada wajah seorang pria yang masih terlihat tampan di usia senjanya, Rayvanno Adiputra Perkasa.
Ray dan Luna juga turut bahagia melihat Vano dan juga Shesa yang begitu terlihat sangat menyayangi cucu mereka. Ray mendekati Vano dan mencoba menghibur sang ayah.
"Papa kenapa? Kenapa Papa menangis? Seharusnya Papa bahagia, lihatlah cucu Papa, dia sangat cantik bukan?" Ray berusaha membuat Vano tersenyum. Vano menatap wajah putranya dan berkata.
"Akhirnya kamu bisa menunjukkan kepada Papa, jika kamu adalah laki-laki sejati, Papa bangga padamu Ray, kami berdua akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian, terimakasih sudah memberikan kami cucu yang sangat cantik, oh ya siapa nama cucu Papa ini? Apa kalian sudah memberikan nama untuk gadis kecil papa ini" ucap Vano sembari mengelus rambut bayi mungil itu.
Ray dan Luna sepertinya belum mempersiapkan untuk memberi nama kepada Putri kecil mereka, mengingat kelahiran putri mereka yang maju dari penetapan tanggal persalinan.
Tiba-tiba saja Shesa mengucapkan satu nama yang indah untuk cucu kesayangannya itu.
"Reyna Lavinia Ar Rayyan!" Shesa menatap wajah sang cucu yang tampak tersenyum. Seolah menyetujui usul Sang Oma untuk memberikan nama itu untuknya.
"Lihatlah! Dia tersenyum...itu tandanya dia suka dengan nama itu" ucap Vano senang.
"Itu nama yang bagus, aku setuju Ma! Bagaimana sayang? Kamu setuju kan?" balas Luna sembari menatap wajah suaminya.
"Tentu saja, nama yang di berikan Mama pasti tidak sembarangan" balas Ray yang juga ikut menyetujuinya.
Akhirnya mereka semua sepakat untuk memberi nama kepada putri Ray dan Luna dengan Reyna Lavinya Ar Rayyan.
"Hai Reyna sayang! cucu Oma yang cantik" Shesa begitu bahagia, sangat terlihat kehangatan dalam ruangan itu, Ray tampak memberi kabar kepada Bayu, sang mertua.
Semua keluarga Ray hubungi, tak ketinggalan Abi dan Bara. Tampaknya Abi dan Bara ingin melihat kondisi langsung Ray bersama istrinya, mereka melakukan video call bersama.
"Wahhhh selamat Ray! Aku ikut senang melihatnya, akhirnya kamu menjadi seorang ayah" Bara terlihat antusias melihat kebersamaan mereka dalam layar ponselnya. Tak ketinggalan Abi juga ikut mengucapkan selamat kepada kakak iparnya itu.
"Selamat selamat kakak ipar, selamat untuk kelahiran putri cantik mu, dan selamat untuk bersolo ria"
Sontak apa yang di ucapkan Abian membuat ketiganya terkekeh.
"Sialan kamu!" sahut Ray yang tampak cekikikan di sudut ruangan, Ray sengaja menjauh dari mereka, karena takut obrolannya dengan dua pria itu di dengar oleh istrinya.
"Bener juga tuh si Abi! Ray siap-siap di sapih ya" imbuh Bara yang juga ikut menertawakannya.
"Nggak apa-apa disapih, lagian sekarang lagi di servis sama dokter, biar di perbaiki dulu!"
Ucapan Ray membuat dua pria itu tampak garuk-garuk, keduanya masih belum mengerti apa yang di maksudkan Ray.
"Maksudmu apa Ray?" tanya Bara penasaran.
__ADS_1
"Entar ya! Kalau Olive atau Jasmine udah ngelahirin anak kalian, nanti kalian bakal tahu model dan bentuk terbaru dari tempat kalian menyelam, beuh... amazing banget" ungkap Ray sembari terkekeh.
"Emang gimana bentuk nya?" Tanya Abian penasaran.
"Aku nggak bisa menjelaskannya, pokoknya menakutkan sekali, syereeeemmm" ucap Ray dengan ekspresi ketakutan dan bola mata yang membulat.
"Lebih serem dari kuntilanak dong!" celetuk Abian.
"Nah itu... kuntilanak kalah serem dari yang satu ini, bikin pusing berkunang-kunang" ujar Ray saat dirinya ingat ketika melihat tempat favoritnya terlihat begitu menyeramkan.
"Dasar Ray gila! Eh...kita gangguin pengantin baru yuk, si Bertrand... malam ini dia pasti sedang belah ciplukan" seru Bara yang selalu memiliki ide untuk mengerjai teman-temannya.
"Ah...gila Lu Bar! Jam segini Bertrand pasti sudah bercocok tanam" sahut Abian.
"Aku yakin belum, bentar ya aku sambungin ke nomor nya" ucap Bara sembari melakukan video call Kepada Bertrand untuk berbincang bersama, bermusyawarah sesama pria-pria tampan.
*
*
*
*
Sementara di kamar pengantin Bertrand dan Aura, keduanya tampak sama-sama tidak tahan untuk segera melakukan malam pertama.
Bertrand sudah berada di atas tubuh Aura, siap untuk melesatkan senjata pamungkasnya, namun tiba-tiba saja ponsel nya berdering berkali-kali, dan itu membuat Bertrand merasa terganggu, hampir saja Dirinya berhasil merobohkan tembok keperawanan sang istri.
"Angkat dulu ponselmu! Siapa tahu ada yang penting!" seru Aura sembari menahan Bertrand untuk tidak melesatkan dulu senjata keris saktinya.
Bertrand mendengus kasar, kemudian ia beranjak dari atas tubuh Aura dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas.
Bertrand menerima panggilan video call tersebut, tampaklah Bara, Abian dan juga Ray ikut serta dalam video tersebut.
"Widiih... pengantin baru sedang bertelanjang dada nih, udah di mulai ya? Apa udah selesai?" celetuk Bara mulai menggoda Bertrand.
Bertrand mengarahkan kamera nya sedikit menjauh dari Aura yang sedang berada di balik selimut.
"Sialan kalian, ganggu aja!" balas Bertrand.
"Sorry sorry bro! udah nyampe mana nih?" sahut Bara yang diikuti senyum Abian dan Ray.
"Belum nyampe, baru aja mulai kalian sudah ganggu." seru Bertrand kesal namun menahan tawa.
"Waaahh...belum dimulai gaes!" sahut Abian menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba saja Aura menarik tangan Bertrand dan mendorong tubuh Bertrand agar menindihnya, sontak saja Ponsel yang Ia pegang terjatuh di atas kasur, namun masih dalam keadaan menyala.
"Loh..loh..kemana tuh si Bertrand!" sahut Bara yang hanya melihat langit-langit pada tampilan layar Bertrand.
"Wait wait jangan-jangan Bertrand sedang live gaes, omaigad dengerin deh"
Tampaknya kamera Bertrand masih ON saat dirinya bermain cinta dengan Aura, dan sangat terdengar dengan jelas, bagaimana suara desaahan dan lenguhan dari bibir keduanya, membuat ketiga pria tampan itu bergidik ngeri.
"Ah Bertrand membuat aku pingin aja, udah dulu gaes, aku pamit mau nyelam juga kayak Bertrand, bye" seru Abian yang tampaknya sudah tidak kuat menahan rasa ketika mendengar Bertrand dan Aura yang sedang mendesaah.
Begitu pun dengan Bara, dia juga pamit undur diri kepada Ray.
"Sorry Ray, aku kebelet nih, aku tutup, bye!"
__ADS_1
Ray terperanjat, kedua layar Abian dan Bara sudah menjadi gelap, hanya meninggalkan layar milik Bertrand yang masih terang benderang.
Ray mendengarkan dengan seksama jeritan dan tangisan kecil dari bibir Aura, dan sesekali di iringi lenguhan dari bibir Bertrand, dan tiba-tiba saja layar Bertrand mati.
"Pet"
Ray menghela nafasnya kasar, baru saja ia menjadi pendengar malam pertama Bertrand dan Aura, tampaknya Ray harus menahan rasa itu, mengingat mulai sekarang Ia harus berpuasa.
"Hmm...nasib!" gumamnya sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tampak Vano mulai mendekati putranya yang galau itu.
"Kamu kenapa?" Vano menepuk pundak Ray sembari duduk di samping putranya.
"Nggak apa-apa Pa!" jawabnya santai.
"Oh iya Pa? Ray mau tanya sesuatu, boleh nggak?"
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Vano mengerutkan dahinya.
Ray mulai mendekati Vano dan sedikit berbisik pada telinga Vano.
"Berapa lama Papa puasa setelah Mama melahirkan?"
Pertanyaan Ray membuat Vano tersenyum, betapa dirinya harus berpuasa selama 4 bulan saat Shesa melahirkan Ray.
"Empat bulan" jawab Vano singkat.
"Apa? 4 bulan?" Ray tampak terkejut, bagaimana sang Papa bisa menahan selama 4 bulan tanpa ber ho ho hi he.
"Bisa di korting nggak sih Pa? Itu terlalu lama" protes Ray yang merasa waktu 4 bulan adalah waktu yang terlalu lama.
"Memangnya kamu minta berapa? 3 bulan?" Jawab Vano mencoba memberi pilihan.
"Bukan 3 bulan Pa! Tapi em...pat Minggu" ucap Ray sembari garuk-garuk tengkuknya.
Jawaban Ray membuat Vano melototkan matanya.
"Gundulmu yang empat Minggu, empat bulan mengerti!" ucap Vano sembari berkacak pinggang.
"Hehehe ampun Pa! Iya pa! Empat bulan" Ray terpaksa mengikuti anjuran Vano, untuk berpuasa selama 4 bulan setelah istrinya melahirkan.
*
*
*
*
*
*
...Hai hai semua, akhirnya author udah namatin nih cerita, terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas dukungan kalian, semua tokoh udah bahagia ya, author akan membuat cerita baru, dan tentunya pasti seru, so tunggu novel berikut nya 😊...
...Author kasih bocoran untuk judul novel berikutnya OFFICE BOY ku CEO ku, jadi tunggu sinopsis nya 😊...
...Terima kasih...
__ADS_1
...TAMAT...