TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK

TERJERAT CINTA SECURITY CANTIK
Ray pingsan


__ADS_3

Di rumah sakit


Ray tiba-tiba teringat jika dirinya belum mengabari Vano dan Shesa, Ia pun mengingat-ingat dimana ia meletakkan ponselnya, Luna yang melihat Ray tampak mencari sesuatu, mencoba bertanya kepada suaminya.


"Kamu mencari apa sayang?" tanya Luna yang masih mendekap putri kecil mereka.


"Ponsel, dimana ponselku? Aku harus menghubungi orang rumah, pasti Papa dan Mama mengkhawatirkan kita berdua, astaga...aku sampai lupa tidak menghubungi mereka" Ray tampak gelisah


"Ponselmu bukannya masih ada di dalam mobil?" balas Luna menebak, kemudian Ray mengingatnya kembali.


"Astaga...kamu benar, aku akan mengambilnya, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal dulu sebentar?" Ray mengusap lembut wajah Luna.


"Hmm... pergilah, aku tidak apa-apa, Mama dan Papa pasti senang mendengar kabar bahagia ini" ucap Luna tersenyum.


"Dokter saya tinggal sebentar, tolong jaga istri saya!" ucapnya kepada dokter yang akan melakukan proses penjahitan pada luka akibat proses melahirkan tadi.


"Baik, Tuan tidak usah khawatir, kami sedang melakukan proses penjahitan, rupanya luka robeknya cukup lebar" ungkap dokter. Terlihat Ray mengerutkan keningnya.


"Robek?" pikir nya sambil membayangkan penampilan terkini tempat favoritnya itu.


Ray menggelengkan kepalanya, dia tidak berani melihatnya takut dirinya akan pingsan jika melihat tempat favoritnya masih amburadul.


Ray segera pergi meninggalkan ruang persalinan Luna, Ia langsung bergegas untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.


Sesampainya di parkiran mobil, Ray segera menuju mobil dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas dashboard. Ray mengambilnya dan betapa terkejutnya ia melihat panggilan dari Vano berkali-kali.


"Astaga... pasti Papa sangat mengkhawatirkan keadaan kami berdua, aku harus segera memberi tahukan kepada mereka"


Ray segera menghubungi balik nomor Vano.


Sementara itu Vano dan Shesa masih berada dalam perjalanan pulang, Vano mendapati ponselnya berdering, dengan cepat Vano mengangkat teleponnya tanpa melihat dulu layar ponselnya, Vano mengira itu dari anak buahnya yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan Ray dan Luna.


"Halo! Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan mereka? Jangan kembali sebelum kalian menemukan mereka berdua, kalau tidak aku pecat kalian, faham!" hardik Vano yang mengira jika anak buahnya yang tengah menghubunginya.


Sejenak Ray menjauhkan ponsel dari kupingnya, karena suara Vano terdengar seperti suara petir yang menggelegar.


"Halo Papa! Ini Ray! Halo...Papa!" Ray mendekatkan Kembali ponselnya dan memanggil Vano agar mendengarkannya.


Vano mendengar suara Ray secara tiba-tiba.


"Ray! Ini kamu? Ray? Ini benar kamu?" tanya Vano yang begitu gembira mendengar suara anaknya, spontan Shesa yang mendengar percakapan suaminya lewat telepon pun juga ikut gembira.


"Apa itu Ray?" tanya Shesa yang tak sabar ingin berbicara kepada sang putra. Vano mengangguk.


"Iya Pa! Ini Ray" jawaban Ray membuat Vano terasa lega, akhirnya Ray menghubunginya juga.

__ADS_1


"Kamu dimana sekarang? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Vano menyelidik.


"Aku di rumah sakit Pa! Iya Aku baik-baik saja" jawabnya sambil berjalan menuju kembali ke ruang persalinan, dimana istri nya berada.


"Apa? Di rumah sakit?" Vano dan Shesa terlihat begitu terkejut mendengar Ray berada di rumah sakit.


"Kamu sakit ya? Cepat katakan kamu di rumah sakit mana? Aku dan Mamamu akan segera ke sana" Vano memaksa Ray untuk mengatakan dimana rumah sakit itu.


"Ray nggak sakit Pa! Ini istriku...!"


"Istrimu? Ada apa dengan Istrimu?" Vano dan Shesa semakin cemas, Shesa lantas minta izin berbicara dengan Ray, Vano memberikan ponselnya kepada Shesa.


"Halo! Ray... istrimu kenapa? Kalian baik-baik saja kan?" tanya Shesa yang membuat Ray menggelengkan kepalanya. Ternyata kedua orang tuanya begitu mengkhawatirkan keberadaan mereka berdua.


Ray berjalan terus menuju ruang persalinan Luna, sambil berbicara kepada Vano dan Shesa, setelah Ray tiba di depan pintu ruang persalinan dan membuka pintu tersebut, Ray mencoba menjawab pertanyaan dari Mamanya.


"Mama tidak usah khawatir, Luna baik-baik saja, dia....!!!"


Ray tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia dihadapkan dengan pemandangan dokter yang sedang melakukan proses Husband Stitch tepat menghadap wajah Ray, membuat Ray terjatuh pingsan.


"Loh loh Tuan! Tuan!"


Beberapa suster membantu Ray untuk bangun dan menidurkannya pada tempat tidur yang ada di sebelah Luna.


Sementara itu Shesa yang tidak mendapat jawaban dari Ray terlihat sangat terkejut.


"Halo!"


"Siapa ini? Mana Ray anak saya?" Shesa begitu terkejut saat mendengar suara perempuan yang menerima telepon darinya.


"Maaf Bu, Tuan Ray sedang pingsan, sekarang beliau ada di rumah sakit WARAS SEHAT." kata suster tersebut.


"Ray pingsan? Ya ampun, baik terima kasih" Shesa menutup ponselnya dan memberi tahukan kepada Vano bahwa Ray berada di rumah sakit WARAS SEHAT.


Akhirnya Vano menyuruh sopir untuk balik arah menuju ke rumah sakit.


Sementara di ruang persalinan, Luna terlihat khawatir dengan keadaan suaminya yang tiba-tiba pingsan.


"Suster! Suami saya kenapa tiba-tiba pingsan?" Luna masih penasaran kenapa tiba-tiba Ray jatuh pingsan.


"Kami juga kurang tahu Nyonya, mungkin saja Tuan Ray terkejut melihat dokter sedang melakukan proses penjahitan pada luka Nyonya" jawab Suster itu dengan tersenyum.


"Ya ampun Ray! Kalau lihat pas lagi jelek aja... pingsan, nanti kalau bentuknya udah bagus, kesemsem lagi, hah dasar laki-laki" gumam Luna yang merasa jika Ray terkejut melihat perubahan tempat favoritnya yang sedang di perbaiki oleh dokter.


Setelah beberapa saat, akhirnya dokter berhasil melakukan proses penjahitan pada luka Luna, dan kini Luna ditempatkan pada ruang perawatan, sementara itu Ray masih terlihat pingsan. Ray juga di bawa pindah ke ruang perawatan bersama istrinya.

__ADS_1


Suster mencoba menyadarkan Ray dengan mengoleskan kapas yang dibasahi dengan alkohol dan kemudian ia letakkan pada hidung Ray. Dan setelah beberapa saat Ray terbangun dari pingsannya.


Ray membuka matanya dan melihat langit-langit kamar, dengan cepat Ray bangun dan ia melihat sang istri yang berada di ranjang yang bersebelahan dengan nya.


"Sayang! Kenapa aku bisa tidur disini?" Ray masih bingung kenapa tiba-tiba dirinya berada di sana.


"Kamu pingsan tadi!" jawab Luna


"Pingsan?"


Sejenak Ray mengingat kejadian yang membuatnya pingsan, Ray memutar bola matanya dan akhirnya dirinya teringat saat melihat tempat favoritnya dalam keadaan tidak biasa. Dan itu membuatnya pusing seketika.


"Hehehe...tadi, tadi aku melihat itu... melihat anu...itu!" Ray tampak gugup melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa? Kamu tidak suka dengan bentuknya? Ini juga gara-gara kamu kan?" celetuk Luna sembari mengerucutkan bibirnya.


Ray tersenyum melihat ekspresi wajah Luna yang tampak manyun. Tiba-tiba saja Ray mendaratkan ciumannya pada pipi Luna. Luna terkejut dan menatap wajah Ray yang terlihat senyum-senyum.


"Siapa bilang tidak suka? Nanti juga akan kembali normal, cuma tadi aku kaget aja, kok gitu amat gua nya ck ck ck"


Dan tiba-tiba saja sebuah bantal melayang di kepala Ray.


"Buuugg"


"Apa sih sayang! Emang gitu kok, serem banget, beneran" Ray terus saja menggoda Luna.


"Ray...! Awas aja nanti!" umpat Luna sembari menyilangkan kedua tangannya.


Kemudian suster membawa Putri kecil mereka untuk menyusu pada Luna,Ray begitu bahagia melihat kedatangan putrinya yang cantik. Ray mendampingi istrinya yang hendak menyusui sang bayi.


Tampak Ray bermain dengan menusuk-nusuk dada Luna dengan satu jarinya yang terlihat menggembung saat menyusui putri mereka.


"Ray! Apa-apaan sih!"


"Kenyal-kenyal, hmmm enak banget kamu sayang! bisa mimik susu sama Mommy mu setiap hari, sementara Daddy liburan nih, kasihan sekali aku" bisik Ray kepada bayi perempuannya. Luna terkekeh dan seketika teringat apakah Ray sudah menghubungi Vano dan Shesa.


"Ray! Apa kamu sudah menelepon Mama dan Papa?"


Sontak apa yang diucapkan Luna membuat Ray terkejut.


"Astaga...aku belum sempat mengatakan hal itu, aku keburu pingsan sayang! Ah...biar aku telepon lagi"


Ray beranjak mengambil ponselnya, tiba-tiba saja mereka berdua dikejutkan dengan pintu yang mulai terbuka, Ray melihat Vano dan Shesa yang berada dibalik pintu.


"Mama! Papa!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


🔥🔥🔥🔥🔥


__ADS_2