
"Ck, nggak usah drama. Dan stop manggil-manggil gue dengan sebutan sayang, kita udah putus semalem kalo lo lupa. Dan satu lagi yang harus lo ingat, gue macarin lo bukan karena gue suka apalagi tertarik sama lo. Tapi karena Bastian ngajakin taruhan buat pacaran selama sebulan sama lo, terus gue putusin. Sama seperti lo yang udah pacarin sepupunya Bastian terus lo putusin gitu aja, dan semua itu lo lakuin karena lo juga taruhan sama teman-teman lo. Jadi nggak usah gangguin gue lagi, dan terima aja nasib lo sekarang. Anggap aja ini karma atas perbuatan lo sama sepupunya Bastian dulu." Sentak Rendi sambil tersenyum miring kearah Sasya.
"Tapi Ren... Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Soal sepupunya Bastian, waktu itu aku khilaf. Maafin aku yah, please... Kita balikan lagi yah." Pinta Sasya dengan memohon.
"Sayangnya gue nggak cinta tuh sama lo, jadi stop gangguin gue. Atau lo bakal gue bikin nyesel, ngerti!" Sentak Rendi dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Sasya yang sudah menangis.
"Sial, ini semua gara-gara Bastian." Kesal Sasya dengan menghapus kasar air matanya, bayangan kejadian semalam masih terus membekas di ingatannya. Dimana Rendi tiba-tiba memutuskannya didepan teman-temannya, dan didepan Bastian dan gengnya. Dan Rendi juga mengatakan kalau dia memacarinya hanya untuk menang taruhan.
***
"Astaga Umi, bisa nggak sih jangan keras kepala dulu." Kesal Bian karena Mitha tidak mau mendengarkannya.
"Bi... Aku udah nggak papa kok, beneran." Ucap Mitha.
"Bisa nggak sih nggak usah bandel kalau dibilangin, aku bilang kamu nggak usah ikut upacara dulu, nanti kalau kamu pingsan kayak kemarin gimana?" Omel Bian lagi karena Mitha tetap memaksa ingin ikut upacara.
"Insya Allah nggak kok Bi, aku udah sehat gini kok." Kekeh Mitha tetap pada keputusannya.
__ADS_1
"Ck, yaudahlah terserah kamu aja. Dasar keras kepala." Kesal Bian dan kemudian berlalu pergi menuju lapangan, meninggalkan Mitha dan yang lainnya yang masih berdiri di depan kelas.
"Nha lo Umi, Abi ngambek kan." Ucap Lia.
"Udah biarin aja, nanti juga baik sendiri."
"Tapi yang dibilang sama Abi bener loh Umi, Umi nggak usah ikut upacara dulu yah. Umi istirahat aja dulu di UKS, nanti setelah upacara kita jemput Umi, gimana?" Bujuk Reno juga.
"Aku udah nggak papa kok No, Abi nya aja yang berlebihan. Udah yuk kelapangan, upacaranya sebentar lagi dimulai." Ucap Mitha, kemudian dia dan teman-temannya pun berjalan menuju lapangan. Setelah berdiri di tempatnya, Mitha melihat kearah kelas Rendi.
"Dia kemana yah, kok nggak ikut upacara?" Batin Mitha saat melihat tidak ada Rendi dibarisan kelasnya. Saat upacara sebentar lagi dimulai, tiba-tiba ada yang menarik tangan Mitha dari samping.
"Kemana?" Tanya Mitha, karena Rendi tidak mengatakan akan membawanya ke mana. Namun belum sempat Rendi menjawab, Reno sudah menarik lengan Mitha yang satunya, dan menatap Rendi dengan tajam.
"Lo mau bawa Umi kemana?" Sentak Reno, namun lagi-lagi belum sempat Rendi menjawab, tangannya yang sedang memegang tangan Mitha dilepas dengan paksa. Dan orang itupun menghempaskan tangan Rendi dengan kasar, dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Bian.
"Apaan sih lo?" Kesal Rendi karena Bian menghempaskan tangannya begitu saja.
__ADS_1
"Lo yang apa-apaan, datang-datang langsung narik tangan Mitha. Mau lo bawa kemana dia, hah?" Ketus Bian.
"Bukan urusan lo." Balas Rendi dengan tidak kalah ketusnya.
"Yang berhubungan dengan Mitha, bakal jadi urusan gue."
"Oh yah? Emangnya lo siapa?" Ucap Rendi dengan tersenyum miring.
"Gue sahabatnya Mitha, temannya dari kecil. Dan gue nggak bakal biarin siapapun nyakitin dia, termasuk lo."
"Siapa juga yang mau nyakitin dia? Dan gue suaminya kalo lo lupa." Ucap Rendi. "Dan lo, lepasin tangan lo dari istri gue!" Sentak Rendi sambil menunjuk Reno.
Mitha yang mendengar ucapan Rendi pun refleks menggigit bibirnya, takut kelepasan tersenyum. Sungguh rasanya seperti ada perasaan bahagia dalam hati Mitha saat ini, saat mendengar ucapan Rendi barusan.
...****************...
Assalamualaikum semuanya 😁😅
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰