
"Yaaahhh... Yaudah lah mau gimana lagi, tapi nanti malam kita tetap jadi jalan kan?"
"Iya dong sayang, kan aku udah janji."
Tak terasa mobil Rendi sudah sampai di depan gerbang rumah Sasya. Rendi pun segera turun dari mobil, dan membukakan pintu untuk Sasya.
"Makasih yah sayang."
"Iya sama-sama, aku langsung balik yah."
"Iya, ingat! Jangan nakal-nakal sama dia."
"Iya, nggak akan. Aku cuman nakal sama kamu kok." Ucap Rendi dengan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis kearahnya, sehingga membuat Sasya tersipu malu.
"Dasar pasangan bucin." Gumam Mitha pelan, saat melihat interaksi antara Sasya dan Rendi.
BUUMMM...
Mitha terjengkit kaget, saat Rendi tiba-tiba menutup pintu mobil dengan lumayan keras.
"Pindah kedepan!" Perintah Rendi, saat mobil sudah mulai menjauh dari rumah Sasya.
"Nggak perlu, aku disini aja."
"Kalau gue bilang pindah yah pindah, lagian apa susahnya sih tinggal pindah kedepan doang?" Kesal Rendi, karena Mitha tidak menurutinya.
"Aku udah nyaman disini, jadi nggak usah pindah."
"Tapi gue yang nggak nyaman lo duduk di situ. Gue bukan supir lo, jadi pindah ke depan."
"Emang yang bilang kamu supir siapa?"
"Emang nggak ada, tapi gue yang ngerasa kayak supir kalo lo duduk di situ."
__ADS_1
"Oh gitu, yaudah kalo gitu, nyetirnya pelan-pelan yah Pak supir." Ucap Mitha sengaja ingin membuat Rendi kesal.
"Eh, ngelunjak yah lo. Pindah kedepan nggak!"
"Nggak, aku mau disini aja." Kekeh Mitha, rasanya dia malas saja harus duduk di kursi bekas cewek tadi.
"Kalo lo duduk di situ, dan nanti keluar dari pintu penumpang belakang, terus Bunda liat dan nanya-nanya, emang lo mau jawab apa hah?"
"Bunda? Kita mau ketemu Bunda?" Tanya Mitha.
"Menurut lo? Emang lo pikir, ngapain gue mau repot-repot nampung lo di mobil gue. Ganggu gue pacaran sama cewek gue aja tau nggak."
"Ganggu? Mang aku ngapain, sampai ganggu kalian pacaran? Perasaan aku diam aja dari tadi, dan maaf kalau udah bikin kamu repot. Tapi aku nggak pernah minta kamu tumpangin, dan soal Bunda, kalau kamu memang keberatan bawa aku dimobil kamu, kamu bisa bilang dari awal. Aku bisa pergi sendiri, daripada ikut sama kamu, tapi nggak ikhlas ngasih nebengannya." Ucap Mitha yang sudah mulai kesal dengan sikap dan ucapan Rendi yang menyebalkan dipendengarannya, ralat. Sebenarnya dia sudah kesal pada Rendi sejak tadi, tapi dia tahan-tahan. Dan sekarang Rendi malah memulainya lagi.
"Menganggu mereka pacaran? Yang benar saja, yang ada dia dan pacarnya yang bikin aku keganggu. Mesra-mesraan gak kenal tempat, nggak ngehargain perasaan orang. Walaupun dia nggak cinta sama aku, tapi setidaknya dia ngehormatin aku sebagai istrinya. Dan nggak umbar kemesraan kayak tadi. Untung suami, kalau bukan udah ku lempar pake buku." Batin Mita yang sudah geram dengan sikap Rendi.
"Bacot lo." Sentak Rendi, karena kesal pada Mitha yang tidak menuruti perintahnya. Mitha memilih mengalihkan pandangannya kearah jendela, dan membuang nafasnya kasar. Mitha memilih untuk diam, walau Rendi masih saja mengoceh tidak jelas. Entah apa saja yang dikatakannya, Mitha tidak tahu dan tidak peduli, lebih baik dia mendengarkan musik menggunakan earphone miliknya. Daripada nanti dia harus mendengarkan ucapan-ucapan pedas dan kasar dari Rendi. Rendi mendengus kesal, saat melihat Mitha mengabaikannya.
***
"Udah sampai, buruan pindah ke depan." Ucap Rendi saat mereka sudah sampai di depan gerbang rumah milik Rendi. Karena tidak ada pergerakan dari Mitha, Rendi membalikkan badannya dan melihat Mitha masih asyik dengan earphone dan bukunya. Tanpa buang-buang waktu, Rendi membuka sabuk pengamannya dan membalikkan badannya ke arah Mitha.
Sreetttt....
Dengan sekali sentakan, Rendi menarik earphone Mitha, dan membuat atensi gadis itu beralih padanya.
"Apaan sih?"
"Pindah ke depan, kita udah sampai. Nggak usah nolak dan banyak alasan, gue nggak mau Bunda ngeliat lo keluar dari situ, terus nanya-nanya sama gue. Cepetan." Ucap Rendi tidak sabaran.
"Iya, bentar." Mitha pun pasrah pindah ke depan, karena malas berdebat dengan Rendi. Melihat Mitha sudah mulai beranjak dari tempatnya, dan melangkah ke depan, senyum miring terbit di wajah Rendi. Tepat saat Mitha akan mendaratkan b*kongnya di jok mobil, Rendi dengan santainya menjalankan mobilnya secara tiba-tiba. Sehingga membuat Mitha kehilangan keseimbangan dan jatuh depan.
"Aaauuuwww..." Keluh Mitha saat jidatnya kepentok di dashboard mobil, Rendi yang melihatnya merasa sangat puas karena bisa mengerjai Mitha. Dia bahkan tidak peduli dengan Mitha yang jatuh dan kepentok dashboard mobil, yang terpenting baginya adalah, dia bisa membalas rasa kesalnya pada Mitha tadi.
__ADS_1
"Hahaha... Makanya hati-hati, dasar ceroboh." Bukannya menolong Mitha yang kesakitan, Rendi malah menertawainya dan mengatainya. Padahal itu semua adalah ulahnya. Mitha membalikkan badannya ke arah Rendi sambil memegang jidatnya yang terasa berdenyut.
"Kamu sengaja kan, biar aku jatuh."
_’
"Kalau emang iya, kenapa? Nggak suka? Mau marah? Berani lo ma gue, hah?" Ucap Rendi dengan tampan menyebalkan. Mitha segera memalingkan wajahnya, meraih tasnya dan langsung keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun. Dia takut lepas kontrol, dan mencakar-cakar wajah Rendi.
"Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullahaladzim..." Mitha terus beristighfar saat keluar dari mobil Rendi, untuk meredam emosinya. Sedangkan Rendi masih tetap di tempatnya, memandangi punggung Mitha yang sudah menjauh.
"Beneran marah dia? Apa jidatnya sakit banget yah tadi? Ah bodo amat lah, emang gue pikirin. Salah sendiri, siapa suruh ngebangkang perintah gue." Untuk sesaat Rendi sedikit merasa bersalah, karena sudah membuat Mitha jatuh seperti tadi. Apalagi saat melihat wajah kesakitan Mitha. Catat yah! Hanya sedikit, karena sedetik setelahnya dia kembali menyalahkan Mitha, dan membenarkan perbuatannya.
"Eh, tapi kalau dia ngadu yang enggak-enggak sama Bunda gimana? Bisa diceramahin sehari semalam gue sama Bunda." Rendi segera turun dari mobil, dan berlari menghampiri Mitha yang sudah hampir sampai didepan pintu.
"Awas yah, kalau lo ngadu yang enggak-enggak sama Bunda dan yang lainnya. Gue bakal bikin hidup lo nggak tenang, ngerti?" Ancam Rendi dengan sorot mata yang tidak bersahabat. Bukannya menjawab Rendi, Mitha malah mengabaikan dan membelakangi Rendi.
Tok... Tok... Tok
Mitha mengetuk pintu rumah Rendi dengan perlahan. Saat pintu akan terbuka, Mitha mengeluarkan nafasnya secara perlahan. Dan merubah mimik wajahnya, menjadi setenang mungkin. Sehingga membuat yang melihatnya, tidak mengira kalau dia sedang dalam mode kesal dan marah.
"Assalamualaikum." Ucap Mitha memberi salam.
"Waalaikumsalam, eh den Rendi dan non Mitha sudah datang yah. Silahkan masuk non, nyonya udah nunggu dari tadi." Ucap Bi Mina ramah, dia adalah ART senior di rumah Rendi, dia tahu kalau anak majikannya akan membawa pulang istrinya hari ini. Makanya saat melihat Mitha datang bersama Rendi, dia langsung menyimpulkan kalau itu adalah Mitha, istri dari anak majikannya.
"Iya Bi, makasih."
...****************...
Assalamualaikum semuanya 😁😅
Author datang lagi nih...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅😅🥰🥰🥰
__ADS_1