
Tangan Bian terkepal kuat melihat tingkah mereka berdua, yang seperti sengaja pamer kemesraan. Atau mereka memang sengaja melakukannya karena tau Mitha disini, pikir Bian. Bian mengalihkan pandangannya ke arah samping, dimana Mitha sedang berdiri di dekatnya.
"Kau tidak apa-apa?" Bukannya menjawab, Mitha malah tersenyum manis kearah Bian.
"Aku tidak papa, sudah, abaikan saja mereka. Lebih baik kita segera masuk ke kelas." Ajak Mitha pada Bian. Namun belum sempat mereka melangkah, Rendi dan Sasya sudah berjalan melalui mereka, dengan Rendi yang merangkul mesra bahu Sasya. Dan sesekali tangannya yang merangkul bahu Sasya terangkat untuk mengelus-elus rambut Sasya, sambil tersenyum manis kearah sang pacar.
Dan Rendi melakukan itu semua tepat didepan Mitha dan Bian, sehingga membuat Bian semakin meradang melihatnya. Dengan langkah cepat dia menyusul Rendi dan Sasya, Mitha yang melihatnya buru-buru mengejarnya. Satu langkah lagi, dan Bian akan berhasil menarik seragam Rendi dari belakang dan membuat perhitungan dengannya.
Namun Mitha segera meraih tangan Bian, yang hendak meraih seragam Rendi.
"Bi..."
"Lepas Tha, biar aku kasih pelajaran cowok b*rengs*k itu." Geram Bian dengan tangan mengepal kuat.
"Udah biarin aja mereka."
"Nggak bisa gitu dong Tha, yang dia lakuin tadi itu udah keterlaluan. Dia udah terang-terangan memamerkan kemesraannya dengan wanita lain didepan kamu, istrinya sendiri. Mang nggak punya otak dia, jadi jangan halangi aku buat ngasih pelajaran ke dia.Biar dia sadar, kalau yang dia lakuin sekarang tuh salah. Dia udah membuat kesalahan dengan nyia-nyiain istri seperti kamu." Seru Bian dengan emosi.
"Sabar Bi... Sabar... Jangan marah-marah lagi, bukannya Abi udah janji nggak bakal pake kekerasan lagi, nggak bakal mukul dia juga." Ucap Mitha mengingatkan Bian tentang janji yang Bian ucapkan beberapa hari yang lalu. Bian juga masih ingat, hari itu adalah hari pertamanya masuk sekolah kembali setelah pulang dari kampung halaman Mamanya.
Dan saat dia berada diparkiran bersama Mitha dan para sahabatnya yang lain, dia melihat Rendi yang baru datang dengan motor sportnya, dan sang pacar yang memeluknya dari belakang. Melihat itu Bian menjadi marah, terlebih saat Rendi mengusap gemas pucuk kepala Sasya, dan juga mencubit pipi Sasya dan berkata, "Cantik banget sih pacar aku." Sehingga membuat Sasya tersipu malu dan langsung merangkul mesra lengan Rendi. Tidak hanya itu saja, Sasya juga menyandarkan kepalanya di dada Rendi. Alasannya, karena dia merasa malu dengan perlakuan manis Rendi barusan.
__ADS_1
Dan Rendi bukannya menolak, malah senyum-senyum sambil mengusap kepala Sasya. Padahal mereka tau kalo diparkiran itu juga ada Mitha dan para sahabatnya. Mereka juga seakan tidak peduli dengan pandangan para murid-murid lain yang sedang berlalu lalang disekitar mereka.
Bian mengepalkan tangannya dengan kuat. Dengan nafas memburu dia menghampiri Rendi dengan langkah cepatnya.
Sreeeeettttttt....
Tanpa berpikir panjang, Bian langsung menarik seragam atas milik Rendi, dan membuat seragam Rendi sobek sedikit.
"HEH! Lo apa-apaan sih? Nggak jelas banget, seragam gue sobek nih." Protes Rendi setelah melepaskan Sasya yang sedang merangkulnya. Namun Bian hanya tersenyum miring, dan tanpa ba bi bu langsung mencengkram baju Rendi dan melayangkan tangannya kearah Rendi.
BUGH...
BUGH...
BUGH...
"Bi udah Bi... Stop! Jangan pukul lagi!" Seru Mitha sambil menarik Bian yang sekarang berada di atas tubuh Rendi. Namun Bian seolah menulikan pendengarannya, dan masih terus memukul Rendi. Mitha mulai panik, dia tidak pernah melihat Bian semarah ini, dan dia juga mulai khawatir dengan Rendi yang sudah babak belur karena pukulan Bian.
Karena merasa kesulitan memisahkan mereka, Mitha pun bangkit dan melihat kearah para sahabatnya yang masih berdiri mematung, melihat Bian memukuli Rendi.
"Kalian... Bantuin pisahin, jangan pada diem aja." Seru Mitha pada para sahabatnya.
__ADS_1
"Udah Umi biarin aja, sekali-sekali tuh cowok emang harus dikasih pelajaran. Biar sadar sesadar-sadarnya kalo yang dia lakuin selama ini ke Umi itu salah." Ucap Reno santai.
"Iya Umi, biarin aja." Timpal Lia.
"Astaga kalian ini, nggak boleh gitu! Udah bantuin pisahin gih!" Geram Mitha pada para sahabatnya. Namun bukannya menuruti kata Mitha, mereka malah bersorak memberi yel-yel pada Bian.
"Ayo Abi... Semangat! Lanjutkan perjuanganmu!" Seru Reno.
"Gaspol Bi... Jangan kasih kendor." Sorak Satya juga.
"Semangat Abi... Jangan kecewakan para pendukungmu..." Teriak Lia juga, tidak mau kalah.
"Tenggelamkan aja Bi... Tenggelamkan..." Seru Arum.
"Eh, lo kira kapal, ditenggelamkan." Ucap Satya.
"BODO AMAT! Pokoknya tenggelamkan Bi... Tenggelamkan..." Heboh Arum, dan berbagai yel-yel nyeleneh lainnya yang mereka serukan. Sehingga membuat Mitha tepok jidat mendengarnya.
Sedangkan Vina daritadi hanya tertawa mendengar yel-yel para sahabat absurd nya itu. Bian sendiri, bukannya jadi semangat. Malah jadi kurang fokus mendengar teriakan nyeleneh dari para sahabatnya.
...****************...
__ADS_1
Assalamualaikum semuanya...😁😁
Author up lagi nih... Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁🥰🥰