
Mitha segera pergi dari tempat itu, dengan berjalan cepat, lebih tepatnya setengah berlari. Pria yang tadi menolong Mitha itu,
sudah akan berbalik badan dan masuk kedalam warung, ketika dia tiba-tiba teringat sesuatu. Diapun refleks memukul jidatnya sendiri.
"WOY! NAMA LO SIAPA?" Teriaknya, namun Mitha tidak menggubrisnya dan malah berlari sekencang yang dia bisa. "****, kenapa gue bisa lupa nanyain nama dia sih. Kayaknya tuh cewek menarik juga, manis. Ck, seharusnya gue nawarin buat nganterin dia pulang. Atau gue susulin aja kali yah, setidaknya gue bisa tau dia tinggal dimana, sekalian mastiin dia pulang dengan selamat." Pria itupun bergegas menuju ke motornya, namun langkahnya terhenti, saat dia merasa seperti menginjak sesuatu. Diapaun menunduk untuk melihatnya, dan mengernyitkan kening saat melihat itu adalah sebuah gelang.
"Apa ini punya cewek yang tadi yah?" Batinnya.
"Daripada memikirkan tentang siapa pemilik gelang ini, mending gue segera cabut nyariin tuh cewek. Sebelum makin jauh." Dengan buru-buru diapun menaiki motornya, saat hendak melajukan motornya, tiba-tiba ada temannya yang memanggil.
"Bas... Bastian... Mau kemana? Baru juga nyampe, udah mau pergi lagi." Seru Agus sambil menghampirinya.
"Mau nyariin tuh cewek." Balasnya singkat, namun sukses membuat Agus mengernyitkan keningnya.
"Hah? Buat apa lo mau nyariin dia?"
__ADS_1
"Buat mastiin dia pulang dengan selamat." Mendengar itu, Aguels sontak memicingkan matanya dengan senyum meledek.
"Jangan bilang kalo lo naksir sama tuh cewek."
Pria yang bernama Bastian itu mengedikkan bahunya. "Entahlah, maybe."
"WHAT? Seriusan? Kok bisa?" Seru Agus.
"Entahlah, cara dia bicara dan semua yang dikatakannya tadi, terus saja membekas dalam pikiran gue. Gue juga nggak tau kenapa? Tapi menurut gue, cewek itu menarik." Ucap Bastian sambil senyum-senyum, hal yang jarang dilihatnya dari sahabat plus bosnya itu.
"Akhirnya setelah sekian purnama gue kenal dan sahabatan sama lo, ada juga cewek yang bisa menarik perhatiannya dari ketua geng motor BAXTARD ini. Salut gue sama tuh cewek, baru sekali ketemu sama lo, tapi udah bisa bikin lo tertarik. Padahal penampilannya B aja. Tapi gue masih nggak nyangka kalo cewek cupu itu bisa narik perhatian lo. Padahal selama ini lo selalu dikelilingi sama cewek-cewek yang cantik dan seksi."
"Kayaknya lo emang udah beneran naksir deh sama tuh cewek. Eh, atau jangan-jangan elo udah dipelet sama dia, makanya lo langsung naksir pada pandangan pertama."
"Hhusstt... Ngaco lo. Daripada gue dengerin omongan lo yang ngaco itu, mending gue nyariin tuh cewek. Pasti dia sekarang udah jauh, lo sih ngajakin gue ngobrol." Setelah berkata seperti itu, Bastian segera memakai helmnya dan melajukan motornya untuk mencari Mitha.
__ADS_1
***
"Haa... Haa... Haa..." Nafas Mitha terdengar ngos-ngosan dan tidak beraturan, itu semua karena dia berlari terus dari tadi. Sesekali dia menengok ke belakang, takut ada yang mengikutinya dan menjahatinya lagi.
Mitha jatuh terduduk didepan warung, tempatnya menitipkan sepedanya. Pandangannya nanar menatap kearah warung tersebut yang sudah tutup, itu berarti dia tidak bisa mengambil sepedanya. Mitha juga heran kenapa warungnya cepat sekali tutup, padahal biasanya buka sampai jam 10, sedangkan ini baru jam 09.00.
"Masa iya, aku harus jalan kaki lagi sampe rumah. Ini aja, aku udah capek banget. Mana kaki aku sakit lagi rasanya, haus juga. Ini semua tuh gara-gara Rendi. Kalau aja dia nggak ninggalin aku dipinggir jalan, aku nggak bakal ketemu sama anak geng motor. Kalau saja tadi aku beneran dilecehin sama si Johan Johan itu, aku nggak bakalan maafin Rendi. Karena secara nggak langsung, dia yang udah bikin aku kayak gini, gara-gara dia juga, aku banyak nangis malam ini. DASAR COWOK NYEBELINNN...." Gerutu Mitha dan diakhiri dengan teriakan kesal Mitha pada Rendi. "Hhuuffftt... Astaghfirullah haladzim... Nggak boleh marah-marah Mitha, nanti para setan bakal seneng ngeliat kamu marah-marah. Emang kamu mau ngebahagiain setan, nggak kan. Hhuuffftt... Tenang... Tenang... Nggak boleh marah-marah." Hibur Mitha pada dirinya sendiri. Setelah merasa kakinya sudah tidak terlalu sakit, Mitha pun melanjutkan langkahnya pulang ke rumah.
30 menit kemudian...
"Alhamdulillah... Akhirnya sampe juga, aku pikir aku bakalan pingsan dijalan." Gumam Mitha lemah, sambil meneguk ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang mulai mengering. Dia benar-benar merasa kehausan dan kelelahan. Gimana tidak, dia harus berjalan jauh, sebelum dihadapkan pada drama tangisan dan pemberontakan, yang dilakukannya didepan sebuah warung. Dan belum selesai sampai disitu, dia harus kembali berlari kencang meninggalkan orang-orang yang mungkin akan berpotensi menyakitinya lagi.
"Maaf, mbak siapa yah? Kalo mau minta sumbangan besok saja, majikan saya sama anak-anaknya lagi nggak ada di rumah. Jadi mbak baliknya besok lagi saja. Saya sebenarnya mau ngasih, tapi uang yang di dompet usah menipis. Maklum baru kirim uang ke kampung, hehe... Kasian keluarga di kampung, kalau saya nggak kirim uang. Eh, kok saya jadi malah curhat sama mbaknya, hehe..." Celoteh Pak Lukman, satpam dirumah Mitha.
Tadi Pak Lukman dari toilet, dan saat kembali, dia melihat ada wanita yang hanya diam saja didepan gerbang. Pak Lukman pikir dia adalah tukang minta sumbangan, karena hal seperti itu sudah sering terjadi. Mungkin karena majikannya selalu welcome jika ada orang yang datang minta sumbangan, makanya mereka jadi suka datang lagi dan lagi. Pak Lukman tidak mengenali Mitha, karena posisi Mitha saat ini sedang menunduk dengan kepala disandarkan di gerbang. Sedangkan kedua tangannya dia gunakan untuk berpegangan pada gerbang di depannya, untuk membantu menopang tubuhnya yang sudah sangat lemas dan lelah.
__ADS_1
Untuk sejenak Mitha tertawa pelan, saat mendengar celotehan Pak Lukman. Dan didetik berikutnya diapun mengangkat kepalanya, dan sontak membuat Pak Lukman terkejut. Bukan hanya karena dia baru tau, kalau wanita yang sedang berdiri di depannya saat ini adalah anak majikannya. Tapi karena wajah Mitha terlihat sangat pucat.
...****************...