
"Gimana? Udah bisa cerita sekarang? Gue penisirin nih, lo mau ngomong apa." Tanya Arum penasaran.
"Jadi gini kan, eh tunggu dulu. Reno mana?"
" Tadi keluar duluan, kebelet pipis katanya. Eh, itu dia udah dateng." Ucap Satya saat melihat Reno berjalan kearah meja mereka. Tapi bukannya berhenti, dia malah terus berjalan melewati mereka semua.
"Eh No, mau kemana?" Seru Satya, saat Reno melewatinya. Reno yang mendengar namanya dipanggil pun segera berhenti, dan menengok kebelakang.
"Sorry, nggak kenal." Ucapnya dengan tampang menyebalkan, sehingga membuat para sahabatnya memutar bola matanya jengah melihatnya.
"Sat, seret Sat." Seru Arum gemas, Satya pun berdiri dan menghampiri Reno, dan langsung menarik kerah baju belakang Reno, dan menyeretnya menuju meja mereka.
"Woiii... Lo pikir gue anak kucing apa, ditarik-tarik kayak gini." Protes Reno.
"Anak kucing terlalu comel buat manusia modelan kayak lo."
"Asem lo."
"Nha, sekarang cerita Li, ada apa?" Tanya Arum pada Lia, saat Reno dan Satya sudah duduk. Lia menghela nafas panjang sebelum bercerita.
"Umi, aku mau tanya sesuatu sama Umi. Tapi Umi jawab yang jujur." Ucap Lia serius.
"Mau nanya apa sih Li? Kok serius banget, hem?" Tanya Umi, walaupun sebenarnya dalam hati dia mulai was-was, kalau Lia sudah tau tentang kejadian tadi pagi.
__ADS_1
"Umi beneran masih ngebolehin suami Umi itu buat pacaran?"
"Hah? Kata siapa Li? Lo tau darimana?" Serobot Arum, yang terkejut mendengarnya.
"Tadi waktu gue di toilet, gue nggak sengaja ngedenger anak-anak cewek lagi ngegosip. Katanya Umi ngebiarin suaminya buat tetap ngejalin hubungan sama pacarnya."
"Serius Umi? Umi ngebolehin mereka tetap pacaran? Kenapa Umi? Emang Umi nggak jeauleos lihat mereka nanti? Umi nggak cemburu gitu?" Tanya Arum beruntun, dan dijawab Mitha dengan gelengan kepala.
"Nggak."
"Kok nggak sih? Dia suami Umi lho, bukan sekedar pacar. Aku aja kalo ngeliat gebetanku jalan dan dekat sama cewek lain, rasanya sakit Umi. Apalagi yang udah jadi suami." Ucap Vina menggebu-gebu, tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
"Yang dibilang sama Vina benar lho Umi, yahh walaupun pernikahan kalian terjadi tanpa cinta, bukan berarti dia bisa seenaknya gitu dong. Dia seharusnya bisa menghargai Umi sebagai seorang istri, dan nggak ngejalin hubungan sama cewek lain, walaupun Umi ijinin sekalipun."
"Yaudah lah, lagian aku juga nggak masalah kok. Aku juga nggak mau egois dengan maksa dia buat mutusin pacarnya." Ucap Mitha tenang, walaupun yang sebenarnya apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan hatinya.
"Serius, Umi nggak masalah? Umi beneran nggak cemburu liat mereka tetap pacaran?" Tanya Lia lagi, dan hanya di jawab anggukan kepala dari Mitha.
"Tapi Umi..."
Braaaakkk...
Belum selesai menyelesaikan ucapannya, Reno sudah menggebrak meja dan memotong ucapannya.
__ADS_1
"STOP LIA! Kalau Umi bilang nggak, ya berarti nggak. Kenapa masih dipertanyakan sih? Lagian untuk apa Umi cemburu? Cowok kayak dia nggak pantas buat dicemburuin, lagipula cemburu itukan tanda cinta. Jadi wajar dong, kalau Umi nggak cemburu. Itu karena dia nggak cinta sama cowok itu. Jadi, nggak usah dibahas lagi. Waktunya makan, bukan bukan ngegosip." Kesal Reno, terlihat jelas sekali diwajahnya kalo saat ini dia sedang marah. Dan teman-temannya yang mengerti itupun langsung kicep. Inilah salah satu hal yang ditakutkan Umi sejak tadi, dia tau betul dengan sifat Reno. Walaupun sahabatnya itu suka becanda dan slengean, tapi saat marah sangat menakutkan.
Apalagi itu menyangkut tentang para sahabatnya, jika ada yang berani mengganggu apalagi menyakiti sahabatnya, maka dia tidak akan tinggal diam, dan membuat perhitungan dengan orang itu.
"No, aku nggak papa kok. I am fine. So jangan marah lagi yah, nggak baik buat kesehatan. Masa masih muda udah penyakitan, hehe
..." Mitha pun mencoba mencairkan suasana, dan menenangkan Reno yang lagi mode angry birds.
Reno yang mendengarnya pun menghela nafas panjang, dan menatap Mitha.
"Aku nggak marah kok Umi, sekarang Umi makan yah. Nanti maag Umi kambuh, kalo telat makan." Ucap Reno dengan tersenyum kecil, walaupun Mitha tau, kalau itu hanya senyum terpaksa.
"Iya, kamu juga makan." Ucap Mitha dengan tersenyum juga, Reno pun mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Kalian semua juga makan, jangan cuman liatin gue doang. Gue tau muka gue tampan, tapi itu nggak bakal bikin kalian kenyang, walau kalian liatin seharian." Tanpa mengangkat pandangannya, Reno mengomentari teman-temannya, saat dia sadar kalau teman-temannya terus memperhatikannya.
...****************...
Assalamualaikum para readers...βΊοΈπ
Maaf yah kalo ceritanya masih kurang bagusπ π
Kritik dan saran dari kalian, author tunggu yahππ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh ππ₯°