Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Cuman Cantik KW


__ADS_3

"Bhuahahaha..." Suara tawa Bunda langsung menggelegar, saat mobil yang membawa Mitha sudah menjauh. Sebenarnya sudah dari tadi Bunda ingin tertawa, tapi sebisa mungkin ditahannya, semata-mata untuk menjaga perasaan Mitha, agar dia tidak merasa semakin malu.


"Hahaha... Akhirnya gue bisa ketawa juga, muka gue sampai kram nahan ketawa." Ucap Beni.


"Sama, gue juga. Perut gue sampai sakit, gara-gara nahan ketawa. Lo liat gak tadi muka Mitha, sampai memerah gitu. Pasti dia malu banget tadi. Hahaha..." Timpal Vino juga. Sedangkan Rangga hanya senyum-senyum saja dari tadi. Nia, jangan ditanya lagi. Dari tadi suara tawa Nia lah yang paling kencang terdengar, walaupun dia tidak mengatakan apa-apa, tetap saja tawanya itu sungguh mengganggu pendengaran Rendi.


"Ckk, berisik banget sih. Tadi aja pada kalem, sekarang udah kayak toa rusak. Bikin sakit telinga tau." Kesal Rendi.


"Hehehe... sorry mas bro, tadi itukan kita ngejaga perasaannya Mitha, makanya kita diem aja, supaya dia nggak ngerasa semakin malu." Alibi Beni, padahal yang sebenarnya adalah, saat tawa mereka hampir meledak, Bunda sudah lebih dulu memberikan mereka kode untuk diam. Dan untunglah mereka cukup tanggap, alhasil jadilah mereka menahan tawa berjamaah.


"Lalu gimana dengan gue? Kalian nggak ngejaga perasaan gue juga?" Tanya Rendi, dengan menunjuk dirinya sendiri.


"NGGAK!!!" Kompak teman-temannya, plus Nia juga. Membuat Rendi jadi semakin kesal saja. Apalagi saat melihat Bundanya masih terus saja menertawainnya.


"Udah dong Bunda, sampai kapan coba mau ketawa terus. Rendi capek nih, mau pulang." Protes Rendi, dengan wajah masam.

__ADS_1


"Wes... wes... Tuh muka biasa aja kali, asem banget. Nggak enak tau, diliatnya."


"Yaelah, lo ma nggak peka banget. Gimana nggak asem tuh muka, udah nikah tapi nggak serumah. Udah halal, tapi belum boleh dihalalin seutuhnya. Ibaratnya nih yah, lagi asyik makan ikan yang enak, terus keseleg tulang ikan, sakit sakit gimanaaaa... gitu rasanya." Kelakar Vino.


"Padahal udah bayangin, malam pertama tidur sambil peluk-pelukkan sama istri. Tapi sayang... adindanya jauh dimata, jauh dari jangkauan, nggak bisa peluk-pelukkan deh." Ucap Beni dengan muka sok sedih, sehingga membuat Rendi muak melihatnya.


"Eitsss... Kata siapa nggak bisa peluk-pelukkan, masih bisa kok, tapi sama guling... Eaaakkkk..." Teman-teman Rendi terus saja menggoda dan meledeknya, tanpa memperdulikan Rendi yang sudah semakin kesal melihatnya.


"Ketawa aja terus, lagiaan siapa juga yang ngarepin lewati malam pertama sama tuh cewek. Malahan bagus kalau dia tinggal dirumahnya sendiri, jadi gue nggak perlu selalu ngeliat muka dia yang bikin sakit mata." Seloroh Rendi.


"Hah? Ayah bilang apa tadi? Aku bakalan bucin sama tuh cewek, haha... Ayah-ayah... Nggak ada apa hal lain, yang lebih berfaedah untuk Ayah pikirkan dan ucapkan. Nggak ada dalam kamus hidup Rendi yang namanya bucin sama seorang cewek, yang ada, mereka yang pada bucin sama Rendi."


"Kok Ayah nggak yakin yah, apalagi Mitha itu cantik, manis, baik, dan sopan sama orang tua."


"Wait-wait, Ayah bilang apa tadi? Cantik? Hahaha... Yang kayak gitu Ayah bilang cantik, waahh... Kayaknya Ayah harus harus mulai pakai kacamata deh, biar bisa bedain yang mana cantik beneran sama cantik karena make up alias KW." Ucap Rendi, yang merasa kalo cantiknya Mitha tadi itu karena bantuan make up.

__ADS_1


"Kamu tuh yang harusnya pake kacamata, istri kamu cantik alami gitu dibilang cantik KW. Mang definisi cantik alami menurut kamu itu yang kayak gimana?" Tanya Bunda.


"Ckk, Bunda kayak nggak tau aja. Definisi cantik menurut Rendi itukan yang kayak kue tart, banyak tampolan krimnya." Celoteh Vino, sehingga membuat Bunda mengerutkan keningnya, bingung.


"Maksudnya?"


"Isshhh... Bunda, ituloh maksud kak Vino kayak kue tart, cewek-cewek yang suka dandan menor. Yang tebal bedaknya bisa sampai 3 senti, kayak krim kue tart." Ucap Nia.


"Oohhh..." Ucap Bunda.


"Nha, mungkin karena udah kebiasaan disuguhin sama kue tart, jadi pas disuguhin sama kue lapis, malah nggak minat. Padahal kue lapis itu enak lho, manis-manis legit." Ucap Beni juga.


...****************...


Assalamualaikum para readers kiuuu...😁😊

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰


__ADS_2