Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Sikap kasar Rendi


__ADS_3

"Itukan kan Bunda yang bilang, bukan gue. Jadi sekarang lo keluar, rumah cewek gue itu lewat jalan sebelah kiri. Sedangkan jalan kerumah lo kan lewat kanan, kalau gue harus nganterin lo dulu, kelamaan. Yang ada gue bisa telat jemput cewek gue, jadi lo buruan turun gih. Jangan buang-buang waktu gue yang berharga, cuman buat elo. Buruan." Seru Rendi pada Mitha.


"Tapi jalanan disini lumayan sepi, jarang ada taksi lewat." Ucap Mitha setelah melihat sekelilingnya.


"Ckk, jangan kayak orang bego deh. Lo kan bisa pesan taksi online."


"Ya tapi... Hp ku mati, kehabisan daya. Bisa pinjam hp kamu sebentar?" Pinta Mitha.


"Silahkan..." Mendengar itu, Mitha pun mengulurkan tangan kanannya kearah Rendi. Bermaksud meminta hp Rendi. Rendi yang melihatnya, langsung tersenyum miring.


"Silahkan bermimpi!" Ucap Rendi dengan wajah menyebalkannya, membuat Mitha langsung menarik tangannya kembali. Kesal? Bohong kalau Mitha bilang dia tidak kesal. Tapi karena tidak ingin memperpanjang masalah, jadi dia lebih memilih diam.


"Ngapain masih diem? Buruan turun, waktu gue jadi terbuang sia-sia tau nggak, nemenin lo disini." Ucap Rendi lagi, tapi Mitha masih duduk diam ditempatnya, karena ragu untuk turun. Rendi yang melihatnya jadi makin kesal saja.


Karena Mitha tidak kunjung turun dari mobil, Rendi pun menghela nafasnya dengan kasar, lalu turun dari mobil.


"Buruan turun!" Sentak Rendi, setelah membuka pintu mobil disebelah Mitha.

__ADS_1


"Nggak mau." Kekeh Mitha, karena tempat itu lumayan sepi. Coba kalau Rendi menurunkannya ditempat ramai, yang banyak taksi lewat. Pasti Mitha akan langsung turun dari mobil Rendi, dan pulang naik taksi.


"Batu banget sih lo dibilangin. Sekarang lo pilih, MAU TURUN SENDIRI ATAU GUE SERET KELUAR, HAH?" Bentak Rendi tiba-tiba, sehingga membuat Mitha berjengkit kaget. Seketika rasa takut dan gugup menyelimuti perasaannya. Dibentak seperti ini oleh Rendi, membuatnya sedikit takut. Apalagi saat melihat wajah Rendi yang terlihat menyeramkan saat marah, membuat jantungnya jadi memompa dengan sangat cepat, Mitha bahkan bisa mendengar suara jantungnya sendiri.


Rendi semakin menggeram kesal, saat melihat Mitha hanya diam saja.


"Ah, lama lo." Sentak Rendi, sambil menarik paksa tangan Mitha untuk keluar dari mobilnya. Tanpa memperdulikan Mitha yang meringis kesakitan, karena cekalan tangannya yang cukup kencang pada pergelangan tangan Mitha. Dia terus menyeret Mitha keluar dan menjauh dari mobilnya.


"Aauuwww... Sakit... Lepasin tangan aku." Seru Mitha yang berusaha melepaskan cekalan tangan Rendi ditangannya. Namun Rendi seolah menulikan pendengarannya, dia baru melepaskan tangan Mitha setelah beberapa langkah dari mobilnya.


"Tunggu disini." Perintahnya pada Mitha yang sedang memegangi pergelangan tangannya, yang memerah karena ulahnya. Rendi pun melangkah kembali ke mobilnya mengambil sesuatu, lalu kembali lagi pada Mitha.


Rendi melempar tas Mitha ke aspal, tepatnya disamping kaki Mitha. Tanpa berkata apa-apa, Mitha langsung mengambil tasnya dan menyampirkan kebahunya. Mitha sebenarnya ingin marah, tapi semua kata-kata yang ingin Mitha ucapkan terasa tercekat di tenggorokan. Takutnya kalau dia memaksakan kata-katanya, apa yang sudah sejak tadi ditahannya akan keluar, dan membuatnya semakin terlihat lemah.


Mita pun memejamkan matanya sebentar, sambil menarik nafas dan membuangnya perlahan, untuk menenangkan sedikit perasaannya yang sedang campur aduk saat ini. Tapi belum juga Mitha bisa bernafas dengan tenang, tiba-tiba Rendi mencengkram dagunya dengan kuat dan membuatnya mendongakkan kepala kearah Rendi.


"Iisshhh... Sakit, lepas." Ringis Mitha karena merasa dagunya sakit, tapi bukannya melepaskan dagu Mitha, Rendi malah tersenyum miring kearah Mitha.

__ADS_1


"Lo bakal ngerasain yang lebih sakit dari ini, kalo lo sampai bikin gue marah lagi. Dan awas aja kalo lo sampai ngadu sama keluarga lo atau keluarga gue tentang sikap gue ke elo. Kalau lo sampai ngadu, abis lo ma gue. NGERTI?" Ancam Rendi, dengan bentakan diakhir kalimatnya. Mitha tidak bisa berbuat apa-apa selain menganggukkan kepalanya.


"Inget yah, awas aja kalo lo sampai ngadu." Ancam Rendi lagi, sambil menunjuk-nunjuk Mitha dengan jari telunjuknya. Lalu melepas dagu Mitha dengan sedikit kasar, sehingga membuat wajah Mitha sampai menoleh kesamping. Seumur-umur, baru kali ini Mitha mendapatkan perlakuan kasar seperti ini. Bahkan suara-suara bentakan dan kata-kata pedas dan kasar yang didengarnya, baru kali ini dirasakannya. Semua itu terjadi setelah dia menikah dengan Rendi, dan mirisnya pelakunya tidak lain adalah suaminya sendiri.


Segitu buruk dan bencinya kah Rendi padanya, sampai dia tega melakukan ini padanya. Mitha tidak menyangka kalo Rendi bisa bersikap sekasar itu padanya.


"WOY! Gue lagi ngomong sama lo, jangan diem aja." Sentak Rendi lagi.


"Iya aku ngerti, aku bukan tukang ngadu." Jawab Mitha mencoba terlihat biasa saja, dan tidak terpengaruh oleh kata-kata dan ancaman Rendi.


"Baguslah." Ucap Rendi, lalu melenggang pergi dari hadapan Mitha, dan masuk kedalam mobilnya. Tidak butuh waktu lama, mobil Rendi pun melaju dengan cepat, meninggalkan Mitha yang sendirian di pinggir jalan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Assalamualaikum semuanya 😁😁


Makasih buat yang udah mau mampir di novelku ini...πŸ˜… Semoga nggak bosan yah sama ceritanya, heheπŸ˜…πŸ˜

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁πŸ₯°


__ADS_2