
"Dasar bodoh." Gumam Mitha pelan sambil memandangi wajah Rendi. Sebenarnya Mitha sudah sadar sejak tadi, lebih tepatnya saat Rendi berusaha membuka hijabnya. Tapi karena takut akan merasa canggung nantinya, jadi Mitha berpura-pura belum sadar. Dia akan menunggu sampai Rendi keluar dari kamarnya, tapi lama menunggu bukannya pergi Rendi malah curhat padanya. Ada bagusnya juga, setidaknya sekarang dia tau tentang isi hati Rendi.
Namun entah kenapa dia merasa sedih saat tau Rendi masih memiliki wanita lain dihatinya. Tak terasa air matanya kembali menetes, sebenarnya dia sudah ingin menangis sejak tadi saat Rendi curhat padanya, tapi sebisa mungkin ditahannya.
"Padahal aku belum menyukainya, tapi mendengar dia berbicara seperti tadi, kok rasanya hati aku sakit yah? Sebenarnya aku ini kenapa sih? Ini juga air mata, kenapa netes mulu sih? Kenapa aku jadi cengeng gini coba, perasaan dulu aku nggak kayak gini. Tapi kenapa sekarang semenjak nikah sama Rendi aku jadi gampang nangis gini sih, nyebelin." Gumam Mitha dengan pelan, sambil menghapus air matanya. Setelah merasa lebih tenang, Mitha memiringkan badannya ke arah Rendi.
"Ganteng, sayangnya nyebelin. Walaupun pun sekarang aku tau penyebab kamu jadi playboy, tapi tetap aja alasan kamu itu tidak bisa dibenarkan. Hanya karena seorang wanita menyakitimu, kamu melampiaskan rasa sakit hatimu pada banyak wanita diluar sana yang tidak bersalah. Ck, dasar bodoh. Ngapain coba masih ngeharapin orang yang udah nyia-nyiain kamu. Segitu cintanya yah kamu sama dia, apa... Apa aku juga bisa punya kesempatan buat dicintain sama kamu? Apa nanti kita juga bisa saling mencintai? Baru mau buka hati buat kamu aja, udah banyak rintangannya. Mulai dari kamu punya pacar lebih dari satu, dan sekarang fakta bahwa masih ada wanita lain dihati kamu. Apalagi dengan sikap kamu yang kayak bunglon, mudah berubah. Kadang baik, kadang nyebelin, kadang perhatian, kadang cerewet. Hhuuffftt... Kamu benar-benar membuatku bingung harus bagaimana sekarang. Disatu sisi sebenarnya aku udah pengen buka hati dan belajar menerima dan mencintai kamu, tapi disisi lain aku masih ragu apa keputusan yang aku ambil sudah tepat. Kalau aku bisa membuat kamu melupakan mantan kamu itu, apa kamu akan berhenti jadi playboy dan belajar membuka hati untuk aku?" Lelah dengan segala pikiran dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab, Mitha pun kembali memejamkan matanya dan kembali kealam mimpi.
***
Tap... Tap... Tap...
Bunda Desi dan Ayah Herman yang baru saja kembali dari pesta, segera berjalan menaiki tangga menuju kamar Mitha, setelah Bi Sri memberitahu mereka kalau tadi Mitha pingsan di toilet.
"Hati-hati Bun." Tegur Ayah Herman saat melihat istrinya buru-buru menaiki tangga. Namun bukannya menurut, Bunda Desi malah lebih mempercepat langkahnya, membuat Ayah Herman geleng-geleng kepala melihatnya. Saat sudah sampai didepan kamar Mitha Bunda Desi ingin mengetuk pintu, namun segera diurungkan karena tidak ingin mengganggu istirahat menantunya itu. Tanpa tau kalau di dalam kamar juga ada putranya yang sedang tidur di samping Mitha.
Dengan pelan namun perlahan Bunda Desi membuka pintunya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan yang ada didepannya. Bunda Desi sampai menutup mulut melihatnya.
"Bunda ngapain berdiri aja di situ? Kenapa nggak masuk?" Tanya Ayah Herman yang baru saja sampai disamping istrinya.
"Shuuuutttt..." Bukannya menjawab, Bunda Desi malah memberi isyarat dengan menempelkan telunjuknya di bibir, agar Ayah Herman tidak berisik. Membuat Ayah Herman merasa bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba menjadi aneh, yang tadinya memasang wajah terkejut sekarang malah senyum-senyum nggak jelas.
"Bun, Bunda nggak papakan? Bunda nggak lagi kerasukan kan?"
__ADS_1
Plaaakkkkk...
Bukannya mendapat jawaban yang diinginkan, Ayah Herman malah mendapat tampolan dilengannya dari Bunda Desi.
"Lho Bun, kok Ayah dipukul sih?"
"Ya makanya Ayah jangan ngomong yang aneh-aneh dong." Protes Bunda Desi.
"Yang aneh itu Bunda, tadi pasang muka terkejut terus tiba-tiba senyum-senyum nggak jelas gitu, gimana Ayah nggak mikirin yang aneh-aneh coba." Bela Ayah Herman.
"Ck, Bunda itu bukan senyum-senyum nggak jelas, tapi karena itu..." Bunda pun menarik lengan Ayah Herman untuk lebih mendekat, dan melihat kedalam kamar. Dan Ayah Herman pun sekarang tau penyebab sikap aneh istrinya tadi. Disaat Bunda Desi dan Ayah Herman tengah melihat kedalam kamar, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan sebuah suara dibelakang mereka.
"Bunda sama Ayah lagi liatin apaan?" Tanya Nia.
"Astaga! Ya ampun Nia, kamu bikin Bunda kaget aja." Protes Bunda, dan hanya dibalas cengiran oleh Nia.
"Isshhh... Ayah ada-ada aja, mana bisa jantung pindah ke perut." Ucap Nia.
"Lagian Bunda sama Ayah lagi liatin apaan sih? Sampai nggak nyader aku dateng." Tanya Nia, Bunda pun menggeser badannya ke samping dan menarik Nia ketempatnya tadi.
"Tuh." Tunjuk Bunda dengan dagunya, Nia yang melihat pemandangan didepannya sontak membulatkan mata dengan mulut terbuka.
"Eh, Ayah mau kemana?" Panggil Bunda saat melihat Ayah pergi.
__ADS_1
"Mau ke kamar, lagian tadi seharusnya Bunda nggak ngajak Ayah buat ngeliatnya, cukup diceritaiin aja."
"Lho, emang kenapa kalau Ayah lihat?" Bukan Bunda yang menjawab, tapi Nia.
"Mang kamu nggak liat, Kakak ipar kamu nggak pakai kerudungnya. Dia itu sangat menjaga auratnya, kalau dia tau Ayah melihatnya tanpa kerudung, dia bisa sedih." Ucap Ayahnya.
"Astaghfirullah... Maaf Yah, tadi Bunda lupa soalnya." Sesal Bunda.
"Hm, yasudah Ayah mau kekamar dulu, mau istirahat. Kalian sebaiknya juga pergi istirahat, jangan mengganggu mereka." Ucap Ayah dan berlalu ke kamar.
"Siap Yah." Ucap Nia, namun bukannya melakukan yang diminta Ayahnya, Nia justru mengotak atik tasnya.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Bunda.
"Momen spesial dan langka seperti ini harus diabadiin." Ucap Nia sambil tersenyum dan mengeluarkan ponselnya.
***
Mitha merasakan seperti ada hembusan angin yang menerpa wajahnya, dan pinggangnya juga terasa seperti ditindih sesuatu. Dengan perlahan Mitha membuka matanya, namun betapa terkejutnya dia saat membuka mata hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan Rendi yang berada dekat dan tepat di depan wajahnya.
Saking dekatnya, bahkan kepala mereka juga hampir bersentuhan. Dan jangan lupakan tentang tangan Rendi yang saat ini sedang memeluk pinggang Mitha dengan lumayan erat. Sehingga membuat Mitha seketika menjadi gugup, ralat sangat gugup. Apalagi saat Mitha menyadari kalo ternyata kaki Rendi juga sudah nangkring di pahanya.
"Astaga... Apa yang dia lakukan? Dia pikir aku ini bantal guling apa, dipeluk-peluk kayak gini. Tapi sejak kapan dia memelukku seperti ini, kok aku nggak nyadar yah?" Batin Mitha.
__ADS_1
...****************...
Assalamualaikum para readers semuanya 😁😅 Author balik lagi nih, hehe... Maaf yah, bikin kalian nunggu...🙏🙏🙏🙏 Author juga mau ucapin makasih buat teman-teman yang udah mau mampir di novel Author ini☺️😊🥰🥰🥰 Pokoknya lope-lope deh buat kalian...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️♥️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️