
Mitha terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Rendi. Seperti ada tangan tak kasat mata yang sedang meremas hatinya sekarang, sakit.
"Ingat yah! Kalau lo sampai berulah lagi, atau sampai mesra-mesraan lagi didepan umum, lo bakal gue hukum, ngerti?" Tegas Rendi.
"Tapi aku nggak pernah mesra-mesraan didepan umum seperti yang kamu bilang tadi, dan jangan egois. Kamu sendiri bisa bebas peluk-pelukkan, gandengan tangan, dan bahkan masih menjalin hubungan dengan pacar kamu. Tapi aku nggak pernah ngelarang kan? Padahal sudah jelas-jelas yang kamu lakuin tuh salah dan lebih memalukan." Seru Mitha dengan penuh penekanan di depan Rendi. Entah dapat keberanian darimana sampai dia bisa bersikap seperti itu pada Rendi.
Rahang Rendi terlihat mengeras, mendengar ucapan Mitha. Dengan tersenyum miring dia mendekati Mitha, dan mencengkram dagu Mitha dengan kuat. Sehingga membuat Mitha meringis kesakitan, karena Rendi tidak hanya mencengkram dagunya, tapi juga lengan kanan Mitha.
"Udah berani yah lo sekarang sama gue, kenapa? Karena pangeran lo udah dateng, hem? Dengerin gue baik-baik, gue nggak peduli dan nggak takut sama sekali sama Abi-Abi lo itu. Jadi nggak usah sok berani lo sama gue, karena gue nggak bakal segan-segan buat bersikap kasar sama lo, ngerti? Asal lo tau aja, gue ini sebenarnya bukan tipe cowok yang suka kasar sama cewek. Tapi khusus buat lo, pengecualian. Dan soal gue yang masih punya pacar, yang terserah gue lah. Mau ngelakuin apa aja, dimana aja, itu bukan urusan loh. Urus diri lo sendiri, nggak usah ngerecokin hidup gue. Dan gue juga nggak bakal ganggu-ganggu lo lagi, selama lo jadi anak baik, nggak bikin ulah, atau ngelakuin sesuatu yang bikin gue malu. Karena kalau lo sampai ngelakuin itu, jangan salahin gue kalau gue sampai bersikap kasar dan ngehukum lo, ngerti?" Sentak Rendi diakhir kalimatnya.
"Kamu egois! Aku sama sekali nggak bisa ngerti dengan cara berpikir kamu, ataupun dengan yang kamu katakan. Kamu bisa bebas melakukan apa yang kamu mau dan dengan siapa pun itu, sedangkan aku kamu kekang. Kamu dengan sesuka hati kamu ngatur-ngatur hidup aku, nggak boleh begini nggak boleh begitu. Aku bahkan harus ngelakuin apapun yang kamu mau, harus begini harus begitu. Tapi kamu sama sekali nggak ngebolehin aku buat masuk dalam hidup kamu, aku ini istri kamu kalau kamu lupa. Nggak seharusnya kamu perlakuin aku kayak gini." Ucap Mitha pelan namun penuh dengan penekanan. Rendi tersenyum miring mendengar ucapan Mitha.
__ADS_1
"Sayangnya gue nggak pernah tuh, nganggep lo sebagai istri. Bagi gue lo itu cuman hama yang tiba-tiba datang dalam hidup gue, dan bikin hidup gue berantakan. Dan hama kayak lo itu cuman kayak parasit yang bawa penyakit, jadi lo mending jauh-jauh deh dari gue, gue enek liat muka lo. Dan satu lagi, nggak usah kecentilan dan mesra-mesraan didepan umum. Gue nggak mau nama baik keluarga gue jadi tercoreng, karena tingkah nakal lo itu. Dan awas aja kalo lo sampai ngadu ke orang tua lo sama orang tua gue, tentang perlakuan gue ini sama lo. Kalau lo sampai ngadu, dan ngomong yang nggak-nggak sama mereka, gue bakal bikin hidup lo nggak tenang dan menderita, ngerti?"
"NGERTI NGGAK?" Teriak Rendi didepan Mitha, karena daritadi Mitha hanya diam saja. "Dasar cewek aneh." Ucap Rendi saat Mitha hanya diam saja. Padahal dia sudah berbicara panjang lebar, tapi Mitha malah tidak meresponnya. Melihat Mitha hanya diam saja dengan tatapan yang sulit dia artikan, Rendi pun menghempaskan cekalan tangannya didagu dan bahu Mitha dengan kasar. Samapi membuat Mitha terdorong ke belakang dan membentur tembok untuk kedua kalinya.
Sakit dan ngilu yang dirasakan tubuh Mitha, tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan oleh hatinya saat ini. Melihat Mitha yang meringis setelah membentur tembok, membuat Rendi sempat terdiam sebentar, lalu pergi meninggalkan Mitha sendirian.
TES...
Mitha segera mengusap kasar air mata yang sempat jatuh di pipinya. Inilah alasan kenapa daritadi Mitha hanya diam saja, karena dia takut saat dia berbicara, air matanya akan memaksa keluar. Dan Mitha tidak ingin kalau Rendi sampai melihatnya menangis, dia tidak ingin kalau Rendi mengatainya cewek lemah. Mitha kembali mengusap kasar air matanya yang terus berjatuhan, sambil melihat kiri kanannya.
"Udah stop! Nggak boleh nangis lagi, air mata kamu terlalu berharga buat nangisin cowok kayak dia." Hibur Mitha pada dirinya sendiri, mencoba tersenyum untuk menghibur diri.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ini hanya kerikil kecil. Tidak akan membuatmu tersandung dan terjatuh. Kamu bukan wanita lemah yang hanya bisa nangis, kamu wanita yang kuat. Semangat Mitha! Anggap aja dia itu hanya angin lalu." Ucap Mitha pada dirinya sendiri. Setelah merasa lebih baik, Mitha pun merapikan seragamnya yang sempat kusut, gara-gara Rendi.
Setelah merapikan seragamnya, Mithaenarik nafas yang dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Setelah itu Mitha pun berjalan menuju ke parkiran, mengambil sepedanya dan pulang kerumahnya. Dia tidak jadi pergi ke perpustakaan, moodnya sedang dalam mode kurang baik saat ini. Padahal tadinya dia ingin ke perpustakaan untuk mencari buku sejarah, agar dia lebih mudah untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.
BUGH...
Sepeninggal Mitha tadi, tiba-tiba ada orang yang memukul tembok yang berada tidak jauh dari tempat Mitha dan Rendi tadi. Rahang orang itu mengeras, tatapan matanya bahkan sarat dengan kemarahan dan kebencian. Dia sangat ingin sekali rasanya menghampiri Rendi tadi, dan menghajarnya.
...****************...
Assalamualaikum semuanya 😁😅
__ADS_1
Penasaran nggak itu siapa??? Hehe, kalau mau tau, tungguin author up lagi yah... Muakacih all...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰