
Mitha pun melangkah ke arah Rendi yang sudah bergabung dengan teman-temannya, namun naas, saat hendak melangkah, Mitha tidak sengaja menginjak ujung kebayanya yang sedikit panjang bagian bawahnya. Alhasil, Mitha pun jatuh terjengkang ke depan. Rendi yang melihatnya pun berniat menolong, namun karena tidak terlalu siap, Rendi tidak bisa menahan tubuh Mitha dan akhirnya mereka berdua pun terjatuh bersama dengan posisi yang sangat waaahhh...
Mitha membelalakkan matanya saat menyadari posisinya dengan Rendi saat ini, karena terlalu terkejut saat jatuh tadi, otak Mitha sempat ngeblank untuk beberapa saat. Mitha segera bangkit dari atas tubuh Rendi, saat menyadari kalo saat ini dia berada di atas tubuh Rendi, dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan bisa dibilang tanpa celah, saking dekatnya, Mitha bisa merasakan hembusan nafas Rendi diwajahnya. Bahkan mereka....ahh... sudahlah... Mengingatnya saja sudah membuat Mitha malu setengah mati, bagaimana bisa dia begitu ceroboh. Kalo saja dia bisa lebih berhati-hati, kejadian konyol barusan tidak akan terjadi. Seandainya saja dia memiliki ilmu teleportasi ochobot (temannya Boboiboy), dia pasti sudah menggunakannya untuk menghilang dari tempat itu sekarang juga.
"Ma... maaf... aku nggak sengaja." Ucap Mitha dengan segala rasa malu dan gugup yang bercampur jadi satu. Mitha benar-benar merasa malu saat ini, dengan terus menunduk Mitha pun berusaha bangkit dari tubuh Rendi dan kembali berdiri.
"Ekhem... Kayaknya ada yang udah nggak sabaran nih buat malam pertama, sampai disosor disini." Ucap seseorang secara tiba-tiba, yang tak lain dan tak bukan adalah Pak penghulu yang menikahkan mereka tadi. Dan ternyata dia adalah teman Pak Wiliam, Ayahnya Rendi. Bersamaan dengan itu, Rendi yang sudah mendapatkan penuh kembali kesadarannya segera bangkit. Yap, sama seperti Mitha tadi, Rendi juga sempat ngeblank untuk beberapa saat. Rendi tidak langsung berdiri, tapi memilih untuk duduk dengan mengangkat lutut sebelah kanannya, dan menggunakan kaki kanannya untuk bertumpu pada lantai.
Bukannya apa-apa, punggungnya masih sedikit nyeri untuk berdiri. Dengan menggunakan ibu jari kanannya, Rendi pun mengusap bibirnya yang berdarah karena "Ci*man Panas" yang diberikan Mitha padanya saat jatuh tadi. Ya, pada saat Mitha jatuh menimpa tubuh Rendi tadi, bibirnya tidak sengaja mendarat di bibir Rendi dengan sedikit keras dan membuat bibir Rendi jadi berdarah.
"Wahh... Sampai berdarah-darah gitu." Ledek si Pak penghulu lagi, yang setau Mitha bernama Pak Rudi. Dan tentu saja ledekan si Pak Rudi alias Pak penghulu itu membuat wajah Mitha jadi semakin terasa panas. Mitha tidak bisa membayangkan semerah apa wajahnya sekarang.
"Sudah sudah, kamu ini Rudi. Kasian kan menantuku kamu ledekin terus, kamu nggak liat mukanya sudah memerah gini." Omel Bunda Desi, agar Pak Rudi tidak meledek Mitha terus.
"Hehehe... Maaf yah Mitha, saya cuman bercanda."
__ADS_1
"Eh, i...iya Pak, nggak papa." Bohong Mitha, karena yang sebenarnya adalah dia merasa sangat-sangat tidak nyaman dengan ledekan Pak Rudi itu. Rasa malu saat jatuh tadi saja belum hilang, sekarang jadi bertambah berkali-kali lipat karena ledekan Pak Rudi. Setelah merasa nyeri dipunggungnya sudah berkurang, Rendi pun segera berdiri dan membersihkan pakaiannya dari debu, lalu merapikannya.
"Kamu nggak papa dek?" Tanya Miko khawatir.
"Iya kak nggak papa." Jawab Mitha dengan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi sekarang. Dek, salim gih sana sama suami kamu. Awas hati-hati, nanti jatuh lagi." Suara Miko pun mengalihkan perhatian Mitha dari rasa malunya. Dengan menyenggol lengan Mitha dan menunjuk Rendi dengan dagunya, Mitha yang mengerti akan maksud kakaknya pun segera melangkahkan kakinya kearah Rendi. Dengan wajah masih terus menunduk, Mitha pun mengulurkan tangannya.
Tak berlama-lama, Rendi segera menyambut tangan Mitha. Mitha pun mencium tangan Rendi dengan perasaan campur aduk. Setelah salim, Mitha pun pamit dan berniat undur diri. Namun suara Bunda Desi langsung menghentikan langkahnya.
"Bundaaa..." Protes Rendi, keberatan dengan usulan Bundanya. Bunda Desi yang melihat wajah kesal putranya pun langsung tersenyum.
"Baiklah, kali ini Bunda biarin. Tapi lain kali, harus dibiasain yah, habis Salim langsung cium kening, ok?" Ujar Bunda, namun Rendi dan Mitha hanya diam saja dan tidak menanggapinya. Mitha sebenarnya ingin protes, tapi dia merasa tidak enak dengan ibu mertuanya, yang sudah sangat baik padanya. Satu-satunya harapannya adalah Rendi angkat bicara dan menolaknya, tapi sayang, Rendi hanya diam saja. Bukannya Rendi tidak mau protes, hanya saja dia merasa terlalu lelah untuk menanggapi ucapan Bundanya.
"Baiklah, karena kalian hanya diam saja, maka Bunda anggap kalian setuju." Putus Bunda sepihak. Rendi hanya bisa memutar bola matanya, mendengar ucapan Bundanya.
__ADS_1
"Baiklah semuanya, saya dan adik saya permisi dulu. Assalamualaikum." Miko yang melihat Mitha merasa kurang nyaman berada di tempat itu, segera berpamitan dan menarik tangan adiknya menuju mobilnya.
"Waalaikum salam." Jawab semua orang yang ada di situ.
Setelah memastikan adiknya duduk dengan baik, Miko pun segera menjalankan mobilnya. Setelah dirasa cukup jauh, Mitha pun membalikkan badannya dan melihat rombongan Rendi masih berada di tempat tadi. Mitha pun langsung membalikkan badannya kearah depan.
"Huaaaaa...aaaa...." Miko yang sedang asyik mengemudi langsung tersentak kaget, saat mendengar suara teriakan Mitha.
"Ada apa sih dek? Teriak-teriak, bikin kaget aja tau." Protes Miko.
"Haaa...aaaa... Aku malu sekali, rasanya pengen langsung hilang dari hadapan mereka tadi. Ini sangat-sangat memalukaaannn...."
...****************...
Assalamualaikum para readers kiuuu...😊😄
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh...🥰🥰