
"Sabar, bentar lagi juga udah mau selesai upacaranya. Setelah itu kita ke kantin buat beli minum, biar aku yang traktir." Ucap Mitha pelan.
"Yeayy, makasih Umi." Ucap Lia dengan suara pelan.
"Denger traktiran aja langsung semangat." Ucap Vina.
"Iyalah, gratis." Cibir Reno.
"Eh, apa sih lo. Kayak lo nggak aja."
"Shut, diam. Sesama pecinta gratisan nggak usah berisik." Timpal Arum. Lia yang sudah merasa kelelahan pun, memilih tidak berdebat dengan Rendi, dan kembali berbalik ke depan. Rendi pun juga sudah diam, setelah ditegur oleh Mitha.
"Umi." Panggil Reno.
"Hmm..."
"Main tebak-tebakan yuk."
"Apaan sih No, mang kamu nggak capek apa?"
"Justru karena itu, biar capeknya nggak berasa kita main tebak-tebakan."
"Terserah kamu aja deh, yang penting kamu bahagia."
"Hehehe... Umi bisa aja, yaudah aku mulai yah Umi."
"Hmm..."
"Umi tau nggak, kenapa kalau petang matahari tenggelam?"
"Nggak tau, kenapa?"
"Karena matahari gak bisa berenang, hehe... Lagi yah Umi."
"Hem."
"Pemain bola apa yang beratnya 3 kg?"
"Mmm... Nggak tau, apa?"
"Bambang tabung gas, hehe..."
"Hehehe...Bisa gitu yah..."
"Lagi nih Umi, kenapa zombie kalau nyerang musti bareng-bareng?"
"Biar kompakan."
"Salah."
"Yaudah nyerah, apa?"
__ADS_1
"Karena kalau sendiri namanya zomblo."
"Itu jomblo No."
"Garing lo No." Ucap Arum yang mendengar tebak-tebakan Reno.
"Ck, zomblo diam. Ada lagi nih, mobil-mobil apa yang bikin galau?"
"Mobil mogok." Tebak Arum.
"Salah."
"Mobil rusak." Tebak Mitha.
"Salah, hayo apa."
"Nyerah deh, apaan?"
"Mobilang sayang, tapi takut ditolak. Eaaa..."
"Pengalaman yah No."
"Umi tau aja."
"Seriusan, siapa No cewek beruntung itu?" Antusias Mitha, karena selama ini tidak pernah melihat Reno dekat dengan perempuan lain selain dia dan Arum cs. Sedangkan Reno hanya bisa meringis dalam hati, karena sudah keceplosan.
"Cewek beruntung?"
"Iya, dia beruntung bisa membuat seorang Reno sayang sama dia."
"Ck, mungkin kamu nggak nyadar, tapi kamu itu cowok yang baik, perhatian, penyayang, walaupun suka slengean, suka ngambek, suka ngerengek kayak anak kecil.Tapi kamu tuh cowok yang hebat, walaupun kamu nggak pintar-pintar amat, tapi kamu selalu ngebantu orang lain yang kesusahan ngerjain tugasnya. Meskipun pada akhirnya jawabannya belum tentu benar, hehe... Tapi kamu selalu bilang 'Namanya juga usaha, dan usaha nggak akan mengkhianati hasil', iyakan? Makanya kamu selalu berusaha jika menginginkan sesuatu, nggak peduli walaupun gagal, tapi kamu bangkit dan berusaha lagi. Sikap semangat kamu itu patut di contoh. Kamu itu cowok hebat No, setidaknya itu menurut aku." Ucap Mitha dengan tersenyum, Reno yang melihatnya juga ikutan tersenyum. Tapi ada satu usahaku yang sepertinya sudah gagal total, walaupun aku udah usaha berkali-kali, tapi aku selalu gagal. Apa menurut Umi, aku harus menyerah?" Tanya Reno.
"Tergantung, jika menurut kamu itu sesuatu berharga, maka jangan menyerah. Tapi jika kamu rasa, usaha kamu hanya akan sia-sia. Maka sebaiknya berhenti, jangan memaksakan sesuatu yang tidak semestinya. Karena sesuatu yang dipaksakan itu, tidak akan pernah berakhir baik."
"Mereka lagi ngomongin apaan sih, dari tadi ketawa." Batin Rendi saat melihat Mitha berbicara dengan Reno dan sesekali tertawa. "Katanya cuman temen bukan pacar, tapi kok seakrab itu. Kalo memang mereka pacaran, seharusnya jujur aja. Gue juga nggak bakal ngelarang dia." Batin Rendi lagi, dengan pandangan masih kearah Mitha.
"Kenapa, cemburu?" Tanya Rangga, yang melihat Rendi terus melihat kearah Mitha.
"Hah? Cemburu? Ya nggaklah, ngapain juga gue harus cemburu. Lagian cemburu itu cuman buat orang yang saling mencintai. Nha, gue kan nggak cinta sama dia, jadi kenapa harus cemburu." Jawab Rendi.
"Oh yah, yakin?"
"Yakinlah."
"Terus kenapa lo liatin mereka mulu?"
"Mang nggak boleh? Suka-suka gue dong, mata-mata gue. Kenapa lo yang repot." Ketus Rendi.
"Santai aja kali, nggak usah marah-marah."
"Gue nggak marah, cuman kesel aja dibilang cemburu, padahal kan enggak."
__ADS_1
"Iyain aja deh."
5 menit kemudian.
"Haa... Akhirnya upacaranya selesai juga." Ucap Arum.
"Bener banget, tenggorokan gue udah mulai kering rasanya. Cuacanya panas banget, padahal masih pagi." Ucap Lia juga.
"Ck, payah. Baru gitu aja, udah ngeluh. Kayak gue dong, semangat." Timpal Reno.
"Serah lo deh No, mau ngomong apa. Gue males ngeladenin lo. Mending gue ke kantin beli minum, haus. Yuk ladies, kita ke kantin."
Ajak Lia sambil merangkul lengan Arum dan Vina, sedangkan Mitha mengekor dibelakang mereka.
"Eh, kita nggak diajak nih? Seru Reno. "Yuk Sat, lo kenapa sih ? Lemes amat perasaan, sakit?" Tanya Reno karena melihat Satya hanya diam saja daritadi. Mitha yang mendengar ucapan Reno, lalu menghampiri mereka berdua.
"Kamu sakit Sat?"
"Hah? Nggak kok Umi, cuman lemes aja. Soalnya tadi nggak sempat sarapan, gara-gara kesiangan jadi aku buru-buru ke sekolah. Jadi sarapannya aku skip, hehehe..." Cengir Satya.
"Isshhh... Tuh kan kebiasaan, kamu itukan punya penyakit maag Satya. Kalau maag kamu kambuh gimana? Lagian tadi kenapa nggak ijin aja sih buat istirahat di UKS kalo kamu emang ngerasa lemes. Untung tadi nggak pingsan." Omel Mitha, sudah seperti Ibu yang mengomeli anaknya saja.
"Hehehe... Berasa kayak diomelin emak gue." Tawa Satya.
"Ck, lupa lo. Dia kan emang emak kita." Ucap Reno.
"Umi, bukan emak. Jangan diganti-ganti." Sewot Mitha.
"Iya deh iyya emak, eh Umi maksudnya. Hehe..." Cengir Reno.
"Woii... Jadi ikut ke kantin nggak?" Panggil Lia.
"Jadi dong, kuy kantin." Seru Reno.
"Untung pihak sekolah kita ini pengertian yah, ngasih jatah istirahat 20 menit buat para murid setelah upacara. Jadikan kita bisa istirahat dulu baru mulai belajar." Ucap Satya.
"Yoi, sekolah kita ini emang yang terbaik." seru Reno.
Mereka semua pun berjalan menuju ke kantin, namun baru beberapa langkah, mereka dikejutkan dengan suara teriakan seseorang.
"MITHA..." Tanpa melihat pun, Mitha sudah tau siapa yang memanggilnya. Mitha pun segera membalikkan badannya, dan...
BRUUKKK...
Belum sempat Mitha melihat orang yang memanggilnya, tubuhnya hampir saja tumbang ke belakang, kalau saja Reno dan Satya tidak menahan punggung Mitha. Itu semua karena orang itu tiba-tiba saja berlari, dan menubruk tubuh Mitha dan memeluknya dengan erat. Sontak hal itu membuat Mitha sedikit kesulitan bernafas, karena orang itu memeluknya terlalu erat.
...****************...
Assalamualaikum semuanya ππ
Maaf yah, kalau ceritanya kurang menarik...π
__ADS_1
Kritik dan saran dari kalian sangat membantu author...πβΊοΈ Makasih buat readers Nyang udah setia nungguin author up...ππ₯°π₯°π₯°
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh ππ