Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Diobatin Mitha


__ADS_3

"Gatal banget yah?" Pertanyaan yang bodoh, 3 kata yang terlintas dalam pikiran Mitha setelah menanyakan hal tersebut. Oh, ayolah... Tanpa bertanya pun, dia sudah tau kalau badan Rendi pasti tengah gatal-gatal sekarang.


"Menurut lo?" Sinis Rendi. "Ini semua tuh gara-gara lo tau nggak."


"Gara-gara aku?" Tanya Mitha dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, gara-gara lo. Kalau lo datengnya lebih cepet, gue nggak bakal lama nungguin lo disini, dan diserang sama nyamuk-nyamuk disini." Ketus Rendi.


Mitha berdecak kesal mendengar ucapan Rendi. Lagipula itu salahnya sendiri, kenapa masih bertahan di tempat itu jika banyak nyamuk. Bukannya pergi menghindar.


"Ck, kalo udah tau banyak nyamuk disini, kenapa masih tetap tinggal. Bukannya pergi atau nunggu ditempat lain di sekitar sini, jadi kamu tetap bisa ngeliat jika aku udah dateng." Ujar Mitha yang tidak terima dirinya disalahkan.


"Iya juga yah, kenapa aku masih tetap stay disini dan jadi sasaran empuk para nyamuk, bukannya pergi dan menjauh." Batin Rendi. "Haahhh... Jangan-jangan bener, gara-gara gue digigitin banyak nyamuk, dan otomatis buat darah gue berkurang, gue jadi lola dan susah mikir. Makanya gue pasrah aja waktu diserbu sama tuh nyamuk-nyamuk, alih-alih pergi menghindar." Batin Rendi lagi.

__ADS_1


Melihat Rendi hanya diam saja, entah keberanian darimana, Mitha tiba-tiba menarik tangan Rendi untuk mengikutinya, dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi panjang yang berada tidak jauh dari belakang sekolah.


"Ck, coba tadi gue nungguin dianya disini. Gue nggak bakal dijadiin bulan-bulanan para nyamuk." Batin Rendi.


Rendi masih sibuk menggaruk-garuk badannya yang gatal, saat Mitha sedang mengambil sesuatu dalam tasnya.


"Lagi ngapain sih lo? Dan kenapa lo bawa gue kesini? Gue mau balik kekelas, ndak lama lagi bel, gue gak mau telat sampai dilapangan. Males banget kalau harus dijemur didepan tiang bendera, gara-gara telat ikut upacara." Setelah mengatakan itu, Rendi segera beranjak dari tempat duduknya. Namun belum sempat melangkah, ujung seragamnya yang sengaja dia keluarkan, ditarik oleh Mitha.


"Duduk dulu! Masih ada 15 menit sebelum bel." Ucap Mitha, tapi dibalas dengusan oleh Rendi.


Menghela nafas pelan, mencoba menebalkan kesabaran, Mitha memilih tidak menjawab ucapan Rendi, dan malah menarik lengan Rendi untuk duduk kembali.


"Duduk! Aku belum selesai." Ucap Mitha dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Ck, mau apalagi sih? Bentar lagi upacara, gue nggak mau yah kalo sampe harus dihukum, gara-gara telat ikut upacara." Ketus Rendi, namun Mitha tidak memperdulikannya dan kembali mengambil barang yang tadi dicarinya dalam tas. Membuka tutupnya dan membalikkan badannya agar berhadapan dengan Rendi. Tak memperdulikan Rendi yang terus saja mengoceh, Mitha memangkas sedikit jarak diantara mereka. Dan... Untuk sepersekian detik, Rendi tertegun ditempatnya. Mulutnya yang sedari tadi juga terus mengoceh, langsung bungkam saat Mitha tiba-tiba saja mendekat kearahnya dan mengoleskan sesuatu ke wajahnya.


"Ekhem... Eh, lo ngasih apaan nih, dimuka gue?" Tanya Rendi, sebenarnya dia sudah tau apa yang sedang dioleskan Mitha diwajahnya, saat melihat botol obat yang dipegang Mitha. Tapi dia bersikap seolah tidak tau, hanya agar memiliki topik untuk dibicarakan. Karena entah mengapa saat ini dia tiba-tiba dilanda perasaan gugup saat melihat Mitha berada terlalu dekat dengannya.


"Tenang aja, ini tuh cuman obat gatal, biar muka kamu yang gatal-gatal dan memerah karena gigitan nyamuk ini, bisa segera sembuh." Jelas Mitha sambil terus memfokuskan pandangannya ke wajah Rendi, yang memiliki lumayan banyak bekas gigitan nyamuk. Dengan pelan, Mitha mengolesi wajah Rendi dengan obat gatal yang selalu dibawanya kemanapun. Bukan hanya obat gatal itu saja, tapi Mitha juga selalu membawa kotak P3K mini didalam tasnya, untuk berjaga-jaga dibutuhkan disaat mendesak.


Walaupun Rendi sering menyakiti perasaannya, tapi itu tidak menjadikannya tidak berperasaan. Melihat Rendi yang terus menggaruk-garuk badannya yang terasa gatal, membuatnya berinisiatif untuk membantu mengobati. Walau rasa jengkel dihatinya untuk Rendi masih ada, tapi Mitha mencoba untuk mengesampingkannya dulu.


"Aman gak nih? Gue nggak mau yah, kalo sampai muka ganteng gue ini lecet, karena obat lo itu." Ucapan menyebalkan yang baru saja keluar dari mulut Rendi, seketika mengalihkan atensi Mitha. Diapun menghentikan pergerakan tangannya yang sedang mengolesi pipi Rendi dengan obat gatal. Mitha yang sedari tadi pandangannya mengarah ke wajah Rendi, kini tengah mendongakkan kepalanya dan menatap Rendi dengan tatapan kesal.


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁😁

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰


__ADS_2