
"LEPASIN DIA BER*NGSEK!!!" Teriak orang itu, dan langsung menarik kerah baju Johan dan langsung memukulnya hingga jatuh tersungkur ke tanah. Bukan cuman sekali, tapi beberapa pukulan dilayangkan orang itu ke Johan. Sehingga membuat wajah Johan jadi babak belur. Mitha berucap syukur, karena bisa terlepas dari Johan. Tapi Mitha masih merasa was-was dan tidak tenang, jika masih berada ditempat itu. Mitha pun berniat untuk kabur, saat atensi semua orang mengarah pada Johan dan pria yang menolongnya tadi.
Namun saat Mitha membalikkan badannya hendak berlari pergi, lagi-lagi tangannya dicekal dari belakang. Membuat jantung Mitha kembali berdetak kencang, karena mengira kalo orang itu berniat jahat padanya.
"Lepasin tangan aku, biarin aku pergi. Aku mau pulang." Seru Mitha.
"Sorry, maafin teman gue yah. Dia emang agak rese orangnya, tapi baru kali ini gue liat dia kayak gitu sama cewek. Mungkin karena dia lagi mabuk, plus dia habis putus cinta, jadi dia agak tidak terkontrol gitu. Sekali lagi gue minta maaf atas nama temen gue yah." Pinta pria yang sudah menolongnya itu. Mitha menghela nafasnya dengan kasar, sebenarnya Mitha masih amat sangat kesal dan marah pada pria yang bernama Johan itu.
Tapi mau bagaimana lagi, Mitha tidak mau jadi orang yang pendendam. Bukankah saling memaafkan itu baik, walaupun perbuatan yang dilakukan Johan padanya tadi, sudah sangat keterlaluan. Dan mungkin Mitha tidak akan bisa melupakannya dengan cepat, atau mungkin Mitha akan mengingat kejadian ini selamanya.
"Hhuuffftt... Iya aku maafin teman kamu, dan aku berharap kejadian seperti ini adalah yang pertama dan terakhir untukku. Sebenarnya aku masih sangat kesal dan marah pada teman kamu itu, karena dia udah mau lecehin aku dan membuka auratku. Tapi aku nggak mau jadi manusia yang pendendam, karena itu aku maafin dia. Dan tolong bilang sama teman kamu itu, untuk lebih menghargai seorang wanita, dan tidak berbuat seenaknya." Ucap Mitha sambil melirik kearah Johan yang sudah tepar dan tidak sadarkan diri, karena pukulan dari pria yang sekarang berada didepannya. Dan sekarang sedang dibawa oleh teman-temannya yang lain, masuk kedalam warung untuk diobati.
"Makasih yah, karena lo udah mau maafin teman gue, jujur gue salut loh sama elo. Walaupun teman gue udah bersikap kurang ajar, dan tidak sopan sama lo, tapi lo masih mau maafin dia. Sekali lagi makasih yah."
__ADS_1
"Nggak usah berterima kasih, aku lakuin ini bukan karena kamu ataupun dia. Tapi untuk diri aku sendiri, aku nggak mau nyimpan penyakit dalam tubuh aku." Ucap Mitha.
"Penyakit? Maksudnya?" Beo pria itu, tidak mengerti dengan maksud Mitha.
"Bagi aku dendam itu seperti penyakit, semakin dibiarkan semakin menjadi. Jadi mari kita anggap kejadian ini tidak pernah terjadi, karena aku nggak mau inget-inget lagi dengan kejadian buruk ini. Dan satu lagi, terimakasih karena tadi sudah menolongku. Aku tidak akan pernah lupa itu, aku berdoa semoga kamu selalu dalam lindungannya dan selalu diberikan kesehatan. Dan semoga ini pertemuan pertama dan terakhir kita semua, so selamat malam dan selamat tinggal. Semoga kita semua tidak akan pernah bertemu lagi, assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Kompak mereka semua.
"Eh, tunggu!" Baru beberapa langkah, Mitha harus kembali berhenti.
"Ada apa lagi?"
"Nih, punya lo. Tadi gue liat Johan ngelempar kacamata lo." Ucap Andi sambil memberikan kacamatanya Mitha. Mitha pun segera mengambil kacamatanya, dan memakainya.
__ADS_1
"Terima kasih, assalamualaikum."
"Iya, sama-sama. Waalaikum salam."
Mitha segera pergi dari tempat itu, dengan berjalan cepat, lebih tepatnya setengah berlari.
Pria yang tadi menolong Mitha itu, sudah akan berbalik badan dan masuk kedalam warung, ketika dia tiba-tiba teringat sesuatu. Diapun refleks memukul jidatnya sendiri.
...****************...
Assalamualaikum semuanya 😁😁
Maaf yah, part yang ini agak pendek...
__ADS_1