
DEG.
Jantung Mitha langsung berdebar kencang dengan wajah yang mungkin sudah memerah, karena merasa malu sudah ketahuan Rendi kalau dia daritadi mencuri-curi pandang kearahnya.
"Si... Siapa juga yang ngeliatin kamu." Elak Mitha, namun didetik yang sama dia juga merutuki dirinya yang berbicara dengan terbata, dan sudah berbohong.
"Dih, udah ketahuan nggak mau ngaku. Bo'ong banget sih lo."
"Aku tidak bohong." Ucap Mitha dengan pelan. "Ampuni hamba ya Allah, karena lagi-lagi berbohong." Batin Mitha dalam hati.
"Masa sih? Kasian sama hijab lo, kalo lo nya suka bo'ong." Ucap Rendi lagi, dan berhasil membuat hati Mitha terasa tersentil.
"Astaghfirullah haladzim... Ampuni hamba ya Allah... Kenapa semenjak nikah sama Rendi, aku jadi sering bo'ong gini sih. Ahh... Menyebalkan..." Batin Mitha lagi.
"Udah sampai." Ucap Rendi tiba-tiba, dan menyadarkan Mitha yang sempat melamun.
"Mau kemana?" Tanya Mitha saat melihat Rendi ikut masuk kedalam UKS.
"Masuk."
"Eh, nggak usah. Biar aku masuk sendiri, mending kamu balik gih ke lapangan, nanti telat ikut upacara."
"Ck, berisik. Gue mau masuk, awas gih." Ucap Rendi lagi, sambil mendorong pelan bahu Mitha, karena dia berdiri didepan Rendi.
"Kok nggak ada yang jaga UKS nya sih?" Gumam Mitha pelan, namun masih bisa didengar oleh Rendi.
"Baguslah, jadi nggak akan ada yang gangguin kita disini." Ucap Rendi dengan santainya, namun berhasil membuat Mitha melongo dengan maksud dari ucapan Rendi.
"Maksud kamu?" Tanya Mitha.
__ADS_1
"Bukan apa-apa."
"Ck, maksud dia apa sih sebenarnya. Kan kalau kayak gini, aku jadi mikir yang enggak-enggak. Eh, emangnya aku lagi mikirin apaan. Duhhh... Bikin bingung aja." Batin Mitha.
Mitha pun kemudian berniat duduk di kursi, ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh Rendi. Mitha yang terkejut dan tidak siap, langsung membentur dada bidang Rendi.
DEG.
Jantung Mitha kembali berdetak kencang, karena kini posisinya dengan Rendi sangat dekat. Apalagi saat dia mendongakkan kepalanya, dan pandangannya bertemu dengan Rendi, jantungnya terasa memompa semakin cepat.
"Astaga jantungku... Semoga Rendi tidak mendengar suara jantungku yang lagi berdebar kencang ini." Batin Mitha lagi untuk kesekian kalinya, wajahnya bahkan sudah terasa memanas saat Rendi tiba-tiba mendekatkan wajahnya.
"Lo kenapa? Sakit lagi?" Tanya Rendi tiba-tiba.
"Hah?" Respon Mitha, karena tidak mengerti dengan maksud Rendi.
"A... Aku tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja tadi karena kau tiba-tiba menarikku." Alibi Mitha.
"Yakin?"
"Iya, emangnya apa lagi."
"Ohh, yaudah sekarang baring gih."
"Hah?" Lagi-lagi Mitha dibuat terkejut oleh ucapan Rendi.
"Ck, lama." Ucap Rendi lagi sambil mengangkat tubuh Mitha keatas tempat tidur dan membaringkannya, membuat Mitha sangat terkejut dan juga was-was. Khawatir kalau Rendi melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"A... Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengangkatku dan membaringkanku seperti ini?" Seru Mitha dan segera mengubah posisi baringnya menjadi duduk.
__ADS_1
"Kenapa bangun? Baring lagi." Bukannya menjawab pertanyaan Mitha, Rendi malah menyuruh Mitha untuk kembali berbaring. Membuat Mitha semakin was-was saja, apalagi saat Rendi malah ikutan naik ketempat tidur dan berbaring di sampingnya. Membuat otak Mitha semakin Travelling kemana-mana.
"Ka... Kamu ngapain ikutan naik kesini? Tu... Turun gih." Ucap Mitha dengan terbata.
"Pengen baring." Santai Rendi lagi, lalu memiringkan badannya ke arah Mitha. "Baring lagi." Ucap Rendi sambil menepuk-nepuk sisi sebelahnya.
"Nggak mau! Ngapain? Lagian tempat tidurnya kecil, mana muat untuk kita berdua." Tolak Mitha.
"Ck, muat kok. Udah, baring." Bujuk Rendi lagi.
"Nggak mau!" Tolak Mitha lagi, sungguh Mitha tidak mengerti dengan jalan pikiran Rendi. Sebentar baik sebentar menyebalkan, dan entah apalagi yang akan dilakukannya sekarang, membuat Mitha bingung saja.
"Ck, batu banget sih dibilangin." Rendi berdecak kesal dan bangkit dari baringnya, lalu mendorong kedua bahu Mitha untuk berbaring kembali.
"Apaan sih, lepasin gak? Jangan maksa yah!" Seru Mitha dengan sedikit berontak, untung tempat tidurnya cukup kuat untuk menahan bobot badan mereka berdua. Kalau tidak, tempat tidurnya mungkin sudah roboh. Apalagi mereka berdua terus bergerak dan membuat tempat tidurnya mengeluarkan bunyi decitan.
"Tuh... Tuhkan... Tempat tidurnya bunyi, udah buruan turun nanti tempat tidurnya roboh."
"Tenang aja, tempat tidurnya kuat."
"Tau darimana? Sekarang menyingkir dariku, aku ingin turun." Kesal Mitha sambil mendorong Rendi dan mencoba untuk bangun. Namun pergerakannya berhenti seketika ketika mendengar suara Rendi.
"Lo banyak gerak, gue cium." Ancam Rendi, dan berhasil membuat Mitha diam. Takut kalo Rendi benar-benar akan menciumnya jika dia masih bergerak.
...****************...
Assalamualaikum semuanya 😁😅
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰
__ADS_1