Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Sukanya paha bukan sayap


__ADS_3

Jelas Anto, sedangkan yang lainnya masih pada diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Sorry yah Ren, kalau omongan gue ada yang bikin lo tersinggung. Gue cuman menyuarakan suara hati gue aja, lebih tepatnya suara hati anak-anak OSIS yang lainnya juga. Kita heran aja, disaat Mitha kehilangan banyak hal karena insiden ini, tapi lo kok nggak. Seharusnya kan biar adil, lo juga dilengserkan dari jabatan lo sebagai kapten tim basket." Ucap Anto lagi, Rangga yang mendengarnya hanya manggut-manggut saja. Dalam hati membenarkan apa yang dikatakan oleh Anto.


Sedangkan Rendi hanya terdiam saja, dengan pandangan menatap lurus kemeja depannya. Saat ini pikirannya sedang berkecamuk, setelah dia pikir-pikir, apa yang dikatakan oleh Anto ada benarnya juga. Sebenarnya, awalnya dia juga berpikir kalo jabatannya sebagai kapten tim basket akan dicopot, tapi ternyata tidak. Dan Rendi pikir, itu mungkin karena bakat dan keahliannya dalam bermain basket. Jadi dia tetap dipertahankan, alih-alih digantikan.


Tapi setelah mendengar ucapan Anto tentang Mitha, dia jadi mulai berpikir ada yang aneh, dengan tetap dipertahankannya sebagai kapten tim basket. Sedangkan Mitha kehilangan banyak hal.


"Yang lo omongin ada benarnya juga sih, kalo dipikir-pikir kan seharusnya Rendi juga dicopot jabatannya sebagai kapten tim basket, seperti Mitha yang dicopot jabatannya sebagai ketua OSIS." Ucap Beni, memecahkan keheningan yang sempat terjadi selama beberapa menit.


"Soal itu, nanti gue tanyain sama Pak Bowo." Ucap Rendi. "Tapi ada satu lagi yang bikin gue penasaran." Lanjut Rendi lagi.


"Apaan?" Kompak Vino dan Beni bertanya.


"Tadi lo bilang, kalo Mitha sama cowok yang meluk dia tadi itu udah sahabatan dari kecil kan?" Tanya Rendi dengan pandangan lurus ke Anto.


"Iya, mereka udah sahabatan dari kecil." Jawab Anto.


"Lalu kenapa gue baru liat dia sekarang? Bukannya sebagai sahabat, dia seharusnya ada disaat-saat sulit Mitha." Tanya Rendi lagi.


"Oohhh... Itu karena dia pergi keluar kota sehari sebelum insiden lo sama Mitha, dan ditempat yang ditujunya itu susah sinyal, makanya dia sulit dihubungi." Jelas Anto.


"HAH!!! Gue ngerti sekarang." Seru Beni tiba-tiba.


"Eh ege, lo mau bikin gue jantungan hah? Santai aja dong, nggak usah pake toa itu mulut." Kesal Vino, karena terkejut dengan suara Beni.

__ADS_1


"Hehehe... Sorry, kelepasan." Cengir Beni.


"Jadi apa yang lo ngerti?" Kepo Rendi.


"Gini, kayaknya gue tau alasan kenapa cowok tadi tiba-tiba meluk bini lo..."


"Nggak usah pake embel-embel bini, langsung sebut nama aja. Geli gue dengernya." Ucap Rendi memotong ucapan Beni.


"Ck, segitunya lo." Cibir Beni, dan hanya dibalas Rendi dengan mengangkat kedua bahunya.


"Oke lanjut, menurut gue cowok yang meluk Mitha tadi, baru tau tentang insiden yang menimpa Mitha. Makanya dia langsung datang ke sekolah buat nemuin Mitha. Dari yang gue liat sih, kayaknya dia sedih banget sampai nangis-nangis gitu. Iya nggak sih?"


"Halah, dianya aja yang cengeng. Nggak malu apa, nangis-nangis kayak gitu depan umum. Caper dan carmuk banget." Cibir Rendi tiba-tiba.


"Nggak juga deh kayaknya, soalnya ini baru pertama kali gue ngeliat dia nangis-nangis kayak gitu. Ini bahkan pertama kalinya gue ngeliat mereka pelukan kayak tadi." Jelas Anto.


"Alesan! Bilang aja mau nyari kesempatan dalam kesempitan, modus." Cibir Rendi.


"Kenapa lo, cemburu?" Tanya Rangga tiba-tiba.


"Hahaha... cemburu? Yang bener aja lo, gue ini Rendi, si cowok tampan sekolah ini. Ya kali, gue cemburuin seorang gadis cupu kayak Mitha. That's imposibble." Ucap Rendi menggebu-gebu.


"Terus kenapa lo kayak nggak suka gitu sama Bian?" Tanya Rangga lagi.


"Kenapa juga gue harus suka sama dia? Gue masih normal, masih suka paha bukan sayap."

__ADS_1


"Lha, apa hubungannya sama paha dan sayap?" Bingung Vino.


"Pikir aja sendiri." Sewot Rendi sambil beranjak dari kursinya, dan melangkah keluar kelas.


"Woi... Mau kemana lo?" Panggil Beni.


"Mau cari cewek seksi." Jawab Rendi asal.


"Insyaf lo, inget udah punya bini." Teriak Beni saat Rendi sudah keluar kelas, namun Rendi hanya mengabaikannya.


"Dia belum kena aja sama pesonanya Umi." Batin Anto, tanpa sadar senyum-senyum sendiri.


"Kenapa lo senyum-senyum sendiri, kesambet?" Seru Vino yang melihat Anto senyum-senyum sendiri.


"Hehe... Nggak, gue cuman kepikiran sesuatu aja." Cengir Anto.


"Apaan?" Tanya Vino.


"Kepo lo." Setelah mengatakan itu, Anto pun beranjak dari kursinya dan keluar kelas juga.


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁😁


Makasih pake banyak-banyak buat kalean-kalean semua yang udah nyempetin waktunya buat baca cerita recehnya author ini...πŸ˜…πŸ˜…πŸ™πŸ™

__ADS_1


Semoga ceritanya nggak bikin kalian bosan yah... Semangat selalu nungguin up nya author😁😁πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2