Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Mencari tahu sang pelaku


__ADS_3

"Nggak usah peluk-peluk." Ucap Rendi dengan datar.


"Tapi kenapa? Tadi kamu juga meluk aku." Bingung Sasya.


"Ck, kalau aku bilang nggak yah berarti nggak!" Tegas Rendi.


"Iya, iya, maaf."


"Hem... Aku duluan." Ucap Rendi dan segera berjalan menuju parkiran, meninggalkan Sasya sendirian. Sebenarnya Sasya ingin meminta Rendi mengantarnya pulang, tapi dia ingat kalau dia tadi pagi bawa mobil ke sekolah.


"Umi, Umi tidak apa-apa?" Tanya Lia pelan, saat mereka sudah sampai di parkiran.


"Nggak papa, aku baik-baik aja kok." Balas Mitha dengan sedikit tersenyum. Berbanding terbalik dengan yang sebenarnya dirasakannya. Jujur saja, saat melihat Sasya dan Rendi berpelukan seperti tadi, membuat hatinya sedikit terluka. Padahal dia sudah mulai berusaha menerima Rendi sebagai suaminya, dan mencoba untuk membuka hati untuk Rendi. Tapi kalau Rendi masih berhubungan dengan wanita lain, dan tidak segan-segan menunjukkan kemesraan didepan matanya, apa dia masih sanggup untuk bertahan dan membuka hati untuk Rendi. Belum mencintai Rendi saja, dia sudah terluka seperti ini, apa kabar nanti kalau dia sudah membuka hati untuk Rendi.


"Kamu tuh seharusnya nggak nahan aku buat ngasih pelajaran buat cowok kurang ajar itu." Kesal Bian dengan tangan mengepal. Sebenarnya saat melihat Rendi dan Sasya berpelukan seperti tadi, Bian sudah terbakar emosi dan hendak menghampiri Rendi dan menghajarnya. Namun urung, saat Mitha memegang lengannya, dan melarangnya untuk melakukan itu. Mitha hanya tidak ingin membuat masalah baru, walaupun dia sebenarnya tidak suka melihat Rendi berpelukan seperti itu dengan Sasya.


***


Rendi menatap dengan kesal buku yang ada dijob motornya, masih jelas diingatannya kalau dia tidak meninggalkan buku apapun di motornya. Rendi lalu berkacak pinggang dan menghela nafas dengan kasar.


"Bukannya ini buku tugas lo yah Ren?" Tanya Vino, setelah mengambil dan melihatnya.


"Hem..."


"Kok bisa ada disini?"

__ADS_1


"Mana gue tau? Terakhir kali gue megang tuh buku, pas gue masukin dalam tas, dan nggak pernah gue keluarin lagi."


"Yakin, nggak pernah lo keluarin lagi bukunya? Siapa tau aja lo lupa." Tanya Vino.


"Ck, lo pikir gue udah pikun, sampai hal kayak gitu aja gue nggak inget." Ketus Rendi.


"Santai aja dong, nggak usah ngegas, gue kan cuman nanya. Yaa... Kali aja tadi lo ngeluarin bukunya terus lupa nyimpen lagi, bisa ajakan?"


"Udah gue bilang tadi, kalau setelah gue masukin bukunya ke tas, gue nggak pernah keluarin lagi."


"Lha, terusss gimana ceritanya nih buku ada disini?" Bingung Vino.


"Kayaknya ada yang sengaja ngerjain lo deh Ren." Ucap Rangga yang sedari tadi hanya diam saja.


"Kayaknya kita sepemikiran deh, gue juga ngerasanya kayak gitu. Kayaknya ada orang yang sengaja ngambil buku tugas gue, biar gue dihukum sama Pak Doni."


"Siapapun orang itu, dia udah ngibarin bendera perang sama gue. Dan gue rasa orang itu juga yang kemarin ngasih lem dikursi gue."


"Kayaknya itu orang punya dendam deh lo sama lo, buktinya dia sampai seniat itu buat ngerjain lo." Ucap Vino.


"Tapi siapa yah kira-kira?" Bingung Rendi.


"Haa... Gue tau! Jangan-jangan pelakunya adalah salah satu dari mantan-mantan lo yang banyak itu. Mungkin diantara mereka asa yang sakit hati sama lo, makanya mereka balas dendam dengan cara seperti ini." Tebak Vino.


"Entahlah, gue nggak tau. Yang pasti gue bakal cari tau siapa orang yang udah ngerjain gue dari kemarin." Tekad Rendi, dan diangguki kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Tenang aja, gue bakal bantu lo buat nyari tuh orang." Ucap Rangga, dengan menepuk bahu Rendi.


"Gue juga." Sahut Vino juga.


Sedangkan tidak jauh dari tempat mereka berdiri, seseorang sedang melihat mereka dengan tersenyum miring. Setelah itu, orang itupun langsung pergi meninggalkan area sekolah.


***


"Apa nona Mitha yakin, ingin melakukan ini?" Tanya seorang pramuniaga wanita pada Mitha.


"Ya, tentu saja. Lagipula ini juga bukan pertama kalinya kan aku melakukannya."


"Ya memang benar, tapi saat ini nona kelihatan kurang sehat. Muka nona terlihat sedikit pucat, saya hanya khawatir kalau nona sampai sakit. Apalagi diluar sedang rame pembeli, bagaimana kalau nona sampai kecapean dan jatuh sakit." Jelas orang itu, yang bername tag Vita. Mitha pun tersenyum manis mendengar ucapan Vita.


"Justru karena diluar sekarang sedang rame, dan ada beberapa karyawan yang tidak datang hari ini, makanya aku akan ikut membantu kalian melayani pembeli yang datang.


"Tapi nona..."


"Shuuttt... Aku senang melakukannya, jadi jangan melarangku lagi, ok?" Potong Mitha dengan menempelkan telunjuk dibibirnya.


...****************...


Assalamualaikum para readers semuanya...😁😁


Maaf yah, karena author baru muncul lagi, heheπŸ™πŸ™

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh πŸ˜πŸ˜…πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2