Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Ketumpahan jus jeruk


__ADS_3

"Wahh... Kamu sama suami kamu emang kompak, sama-sama suka makan jengkol sama pete, hehe..."


Mendengar Bunda menyebut kata 'suami kamu', membuat Mitha merasa geli sendiri. masih tidak menyangka sudah punya suami di usianya yang masih sangat muda ini.


"Bunda bisa aja."


Dan akhirnya setelah beberapa saat berperang dengan bawang dan kawan-kawannya, semur jengkol Mitha pun akhirnya jadi juga. Aroma semur jengkol pun menyebar keseluruh ruangan, membuat yang mencium aromanya jadi lapar seketika. Bikin ngilerrrr....


"Mmm... Aromanya enak banget, Bunda masak semur jengkol yah?" Seru Nia yang tiba-tiba datang ke dapur.


"Astaga Dek, kaget Bunda. Kamu ini datang bukannya salam, malah nanyain semur jengkol."


"Hehehe... Sorry Bunda, udah ngagetin. Tapi tadi aku udah salam kok di depan, tapi nggak ada yang jawab. Terus aku nyium aroma yang bikin laper, jadi aku OTW ke dapur deh." Cengir Nia.


"Kalo makanan aja, cepat kamu."


"Hehehe... Laper Bun... Bunda masak semur jengkol yah?"


"Bukan Bunda, tapi Kakak ipar kamu. Enak loh rasanya, padahal dia bilang nggak terlalu pinter masak, tapi rasanya enak gini." Puji Bunda Desi.


"Terus Kakak ipar mana? Kok nggak keliatan?" Tanya Nia.


"Lagi ke toilet, paling bentar lagi dateng."


"Bun... Bunda masak semur jengkol yah?" Seru Rendi yang tiba-tiba datang.


"Yoi, tau nggak siapa yang masak?" Ucap Nia.


"Siapa?"


"Ekhem." Belum sempat Nia menjawab, Mitha sudah datang dari toilet, dan menghentikan ucapan Nia. Takutnya Rendi tidak mau memakan semur jengkolnya, jika tau Mitha yang memasaknya.


Nia pun membalikkan badannya ke arah Mitha, dan melihat Mitha menggeleng-gelengkan kepalanya. Nia yang peka akan kode dari Mitha pun paham kalo Mitha tidak ingin Kakaknya tau, siapa yang sudah membuat semur jengkolnya.


"Hey Kak." Sapa Nia, sambil melambaikan tangannya kirinya, sedangkan tangan kanannya dia pakai untuk mengambil jus jeruk yang ada di meja.


"Kok lo masih disini sih? Kenapa belum pulang? Udah sana pulang." Usir Rendi dengan ketus, dan alhasil membuatnya sukses mendapatkan jeweran telinga dari Bunda Desi.


"Aauuuwwww.... Sakit Bunnn..." Keluh Rendi.


"Sakit yah? Kamu pikir hati istri kamu nggak sakit kamu gituin, hah?" Omel Bunda Desi, dengan masih menjewer telinga Rendi.


"Yaelah Bunda, cuman bercanda doang." Alibi Rendi.


"Becanda-becanda, becanda kamu nggak lucu. Awas yah, kalau sampai Bunda ngeliat kamu kayak gitu lagi sama istri kamu." Ancam Bunda Desi.


"Iya Bunda iya, maaf..."


"Jangan minta maaf sama Bunda, tapi sama istri kamu."


Dengan berat hati Rendi pun berbalik kearah Mitha, dengan tangan Bundanya yang masih menjewer telinganya.


"Sorry... Gue cuman becanda tadi."


"Iya nggak apa-apa."


"Udah dong Bun lepasin, aku kan udah minta maaf."

__ADS_1


"Inget, jangan gitu lagi sama istri kamu."


"Iya Bun." Jawab Rendi dengan setengah hati.


"Baru gini aja, Bunda sudah semarah ini. Gimana kalau tau kelakuan Rendi tadi di sekolah sama di mobil. Mungkin udah diamuk sama Bunda." Batin Mitha, sambil tersenyum kecil.


"Kenapa muka lo kayak gitu? Seneng kan lo gue diomelin Bunda, dan lo yang dibelain." Ucap Rendi pelan kepada Mitha, takut kalo Bundanya mendengar dan dia akan dijewer lagi.


"Nggak kok." Balas Mitha dengan pelan juga.


"Makanya Kak, jangan nachkal jadi suami. Diomelin Bunda kan."


"Bocil diem."


"Yee... Dibilangin juga."


Rendi yang sedang kesal, dan tidak bisa melampiaskannya kekesalannya pada Mitha karena ada Bunda, akhirnya mendapatkan suatu ide brilian. Kalau dia tidak bisa mengganggu Mitha, maka masih ada Nia. Hitung-hitung sebagai balasan karena sudah meledeknya tadi, senyum miring pun terbit di wajahnya.


"Eh Dek, ada kecoa di rok kamu." Seru Rendi tiba-tiba, sambil menunjuk rok Nia. Sehingga membuat Nia kaget dan panik, karena mengira kecoanya beneran ada di roknya. Dan alhasil , Nia pun bangun dari duduknya dengan sekali hentakan dan byuuuurrrr....


Karena kaget, Nia tidak sengaja melempar gelas berisi jus jeruk yang sedang di pegangnya. Dan mirisnya, gelas jus jeruk itu malah melayang kearah Mitha, dan membuat kerudung dan seragam Mitha terkena jusjeruk semua.


Duukkk...


Tidak hanya kena tumpahan jus jeruk, jidat Mitha juga terkena gelas, untung gelas plastik. Bunda Desi dan Nia membelalakkan mata melihat Mitha yang ketumpahan jus jeruk, Nia sampai menutup mulut melihatnya. Perasaan bersalah sudah menyeruak dalam hatinya, dan ini semua gara-gara keisengan Kakaknya. Sedangkan Rendi dia...


"Hahaha... Eh, kalo mandi itu pake air bersih, bukan pake jus jeruk, hahaha..." Rendi tertawa terbahak-bahak melihat Mitha tersiram jus jeruk, ckckck sungguh 'suami idaman' hueekk...


"Astaga sayang kamu nggak apa-apa?" Ucap Bunda khawatir, buru-buru dia menghampiri menantunya itu. Sedangkan Mitha hanya bisa memejamkan matanya, saat jus jeruk itu mengenai wajahnya.


"Iya Bunda, Mitha nggak apa-apa kok, cuman kaget aja tadi, hehe..." Ucap Mitha sambil tersenyum, dia pun melepas kacamatanya karena sudah basah terkena jus jeruk.


"Denger tuh." Ledek Rendi, sehingga membuat Nia memanyunkan bibirnya dengan kesal kearah Rendi.


"Kamu juga Kak, istri lagi kesusahan bukannya ditolongin malah diketawain, mau Bunda jewer lagi telinganya, hem?"


"Hehehe... Peace Bunda, jangan galak-galak dong Bunda, nanti kerutannya nambah lho." Cengir Rendi.


"Iisshh... Dasar kamu ini." Kesal Bunda.


"Tau nih Kak Rendi, gara-gara Kakak nih Kak Mitha jadi kesiram jus jeruk." Protes Nia.


"Lho, kok Kakak sih?"


"Yaiyalah, gara-gara Kakak isengin aku tadi, aku jadi kaget dan refleks ngelempar gelasnya. Dan akhirnya ngenain Kak Mitha." Kesal Nia. "Kak Mitha maafin Nia yah, gara-gara Nia refleks ngelempar gelasnya, Kak Mitha jadi ketumpahan jus jeruk." Ucap Nia meminta maaf, dengan perasaan bersalah.


"Iya nggak apa-apa, lagian juga cuman jus jeruk ini."


"Iya tapi tetap aja, Nia jadi ngerasa nggak enak sama Kakak."


"Udah santai aja, Kakak nggak papa kok."


***


Rendi berdiri di depan lemari pakaiannya dengan tangan dilipat di dada, dan wajah yang ditekuk, serta tatapan tajam yang diarahkan ke orang yang ada di sampingnya. Yang sedang sibuk memilah milih, kira-kira baju dan celana apa yang cocok untuknya.


Yap, Rendi sedang meminjamkan pakaiannya untuk Mitha, karena seragam dan kerudungnya kotor semua. Mitha tidak bisa meminjam baju Nia, karena tidak muat di badannya. Karena tubuh Nia memang lebih kecil dari tubuh Mitha, padahal dia sudah kelas 10 SMA, tapi masih terlihat seperti anak SMP. Sebenarnya Bunda Desi bisa saja meminjamkan bajunya yang agak kecil, tapi sebuah ide muncul di kepalanya. Bunda pikir sebaiknya Mitha meminjam pakaian milik Rendi saja, hitung-hitung ini salah satu cara untuk mendekatkan mereka.

__ADS_1


"Udah belum? Lama amat sih?" Ketus Rendi, karena merasa Mitha terlalu lama memilih bajunya.


"Iya, bentar." Mitha pun akhirnya mengambil sebuah hoodie berwarna hitam dan celana training warna hitam juga, tapi ada garis abu-abu di pinggir kanan dan kirinya. Mitha sengaja memilih hoodie, agar dia dapat menggunakan topi Hoodie nya untuk menutupi rambutnya. Karena kerudungnya tidak bisa dipake lagi.


"Mmm... Boleh aku pinjam kamar mandinya bentar? Aku juga mau sekalian mandi, badanku lengket semua rasanya."


"Hmm, jangan lama-lama. Gue udah laper, Bunda nggak ngebolehin gue turun, kalo nggak bareng lo."


"Iya." Mitha pun segera masuk ke kamar mandi, dan mulai ritual mandinya. Saat sedang mandi, Mitha merasa kalo rambutnya agak lengket, dia melihat ditempat peralatan mandi Rendi ada sampo. Tapi sampo cowok.


"Nggak apa-apa kali yah kalo aku pake, baru kali ini juga aku pake sampo cowok." Mitha pun akhirnya menuangkan sampo itu ketangannya, dan mulai membuat bisa di kepalanya.


15 menit kemudian...


"Bau sampo dan sabunnya harum juga, aromanya bikin perasaan jadi nyaman. Beda banget sama yang punya, selalu bikin kesel." Gumam Mitha saat mengendus tangan dan rambutnya. Setelah merapikan pakaiannya, Mitha pun keluar dari kamar mandi.


"Lama amat sih lo, keburu gue mati kelaparan nhy nungguin lo."


"Iya maaf, ayo turun." Mitha dan Rendi pun akhirnya turun untuk memulai makan siang mereka yang sudah terlambat, karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.00.


Diruang makan.


Rendi menatap nanar semur jengkol yang ada di depannya, aroma semur jengkolnya benar-benar membuatnya semakin lapar. Tapi dia terlalu gengsi untuk mengambil dan memakannya. Sebenarnya Mitha tadi sudah menawarkan untuk mengambilkan semur jengkolnya untuk Rendi, tapi ditolak. Padahal dia ingin sekali memakannya, tapi karena ada Mitha , dia malu untuk memakannya.


"Nih cewek pasti bakal ngeledekin gue, kalo tau gue suka makan jengkol." Batin Rendi. Bunda yang melihatnya jadi geleng-geleng kepala, sebenarnya dia tau kalo Rendi ingin memakan jengkolnya, tapi malu karena ada Mitha.


"Mau Bunda ambilin semur jengkolnya Kak?" Tawar Bunda.


"Nggak usah Bun." Tolak Rendi.


"Sayang banget lho kak, padahal semur jengkolnya enak banget. Emmm...." Goda Nia sambil memakan jengkolnya dengan gaya yang lebay, Nia tau kalau Kakaknya gengsi untuk memakan jengkolnya, maka dia pun sengaja memakan jengkolnya dengan gaya slow motion, dan berekspresi seolah jengkolnya sangat enak.


"Beneran nih Kak, nggak mau? Nia abisin loh."


"Terserah."


Mitha hanya senyum-senyum saja melihat mereka.


***


"Sayang, boleh Bunda tanya sesuatu?" Tanya Bunda, yang saat ini tengah duduk bersantai bersama Mitha di ruang tamu.


"Boleh, Bunda mau nanya apa?"


"Tadi pagi, Bunda sama Ayah ngasih black card dan ATM ke Rendi, buat dikasih ke kamu. Apa dia sudah memberikannya?"


Mitha tampak ragu menjawabnya. Bunda yang melihatnya, lalu menggenggam lembut tangan Mitha.


"Nggak apa-apa, jujur aja sama Bunda. Apa Rendi tidak memberikannya padamu?" Tanya Bunda.


"Bukan seperti itu Bunda, sebenarnya Rendi tadi sudah memberikan kartunya, tapi Mitha tolak." Ucap Mitha pelan.


"Lho, kenapa ditolak sayang?"


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁😁

__ADS_1


Maaf yah baru bisa up sekarang 😅🙏🙏


Karena beberapa hari ini author berhalangan buat up, mohon maaf yah semuanya 🙏🙏


__ADS_2