Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Nyamuk oh nyamuk


__ADS_3

Disaat Rendi tengah sibuk memikirkan cowok yang ada di foto itu, tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Buru-buru Rendi memasukkan kembali KTP dan foto itu ke tempatnya semula, dan menyimpan dompet Mitha ke dalam sakunya. Dan berpura-pura sibuk dengan menepok-nepok nyamuk yang beterbangan di dekatnya.


Bukan pura-pura sih, tapi memang beneran lagi sibuk menepok-nepok nyamuk-nyamuk itu, karena terus saja berdenging didekat telinganya, dan sesekali menggigit manja tubuh Rendi.


Plaakkk...


Rendi berhasil memukul nyamuk yang sedang asyik menggigit lengannya. Rendi terbelalak melihat ada banyak bekas gigitan nyamuk ditangannya, sepertinya karena terlalu asyik memeriksa dompet Mitha, Rendi jadi tidak sadar kalau sedang jadi bulan-bulanan para nyamuk.


"Lagi ngapain?" Sebuah suara terdengar dibelakang Rendi, tanpa berbalik pun Rendi sudah tau itu siapa.


"Lagi ngasih applause buat para nyamuk yang lagi belajar terbang, biar makin semangat terbang dan ngisap darah orang." Ucap Rendi sinis, lalu berbalik kearah Mitha dan memperlihatkan kedua tangannya yang memerah dan ada bekas darah nyamuk. "Liat nih! Karena kelamaan nungguin lo, gue jadi bulan-bulanan para nyamuk disini. Lagian Lo darimana aja sih, perasaan jarak dari kelas lo kesini nggak jauh-jauh amat. Melipir kemana dulu loh?" Omel Rendi, Mitha yang sudah memasang wajah datar, memandang malas kearah Rendi.


"Sorry, aku ke toilet dulu tadi."


"Alesan, bilang aja lo sengaja lama-lamain, biar gue nunggu lo lama disini." Sungut Rendi.


"Emang iya." Bales Mitha, tapi hanya diucapkannya dalam hati. Kalau Mitha mengatakannya secara langsung, bisa dipastikan kalo Rendi akan menyemburnya dengan omelan-omelannya.

__ADS_1


"Jadi... Kenapa kamu pengen ketemu sama aku disini?" Tanya Mitha, mencoba mengalihkan topik pembicaraan, supaya dia tidak harus mendengar omelan-omelan Rendi lagi. Berdehem, Rendi lalu mengeluarkan dompet Mitha dari sakunya. Mitha yang melihatnya langsung membelalakkan matanya, dan segera mengambil dompet itu dari Rendi.


Dengan perasaan takut, deg-degan, cemas, gugup, dan khawatir, Mitha memberanikan diri untuk bertanya pada Rendi.


"K... Kamu... Buka dompet aku?" Tanya Mitha dengan perasaan campur aduk, dan wajah cemas. Rendi yang melihat reaksi Mitha, semakin yakin kalo istri dadakannya itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


"Nggak, ngapain juga gue buka-buka dompet lo. Nggak penting, lagian lo tenang aja, gue gak akan ambil uang lo kok." Bohong Rendi, sebenarnya Rendi ingin segera menanyakan kepada Mitha semua pertanyaan yang tengah memenuhi kepalanya sekarang. Tapi setelah dia pikir-pikir, kalau dia menanyakannya langsung pada Mitha, dia ragu kalau Mitha akan menjawabnya dengan jujur. Terlebih saat melihat reaksi Mitha tadi, Rendi jadi mengurungkan niatnya tersebut.


Dia memiliki ide lain untuk mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, tanpa harus menanyakannya secara langsung pada Mitha. Yap! Rendi akan menyelidikinya sendiri, dan mencari tahu apa saja yang sedang di sembunyikan oleh istri dadakannya itu.


"Bu... Bukan seperti itu, ini bukan soal uang yang ada di dalam dompet aku, tapi..."


"Haa... Sudahlah bukan apa-apa, tapi... Kamu beneran nggak buka dompet aku?" Lirih Mitha.


"Hemm... Memang kenapa sih? Lo nyimpen rahasia dalam dompet lo itu? Atau lo nyimpen foto cowok, dalam dompet lo, hem? Makanya lo takut kalau gue buka dompet lo dan ngeliatnya, iyakan?" Ucap Rendi sengaja, dia ingi melihat seperti apa reaksi Mitha.


"Nggak kok, biasa aja. Udahlah nggak usah dibahas, btw kamu tau darimana kalo ini dompet aku, kalau kamu nggak ngebukanya."

__ADS_1


"Dari Bunda, katanya dia nemuin itu dibawah meja tempat kamu ngajarin Nia. Dan Nia bilang, itu bukan punya dia. Jadi Bunda pikir itu punya kamu." Jelas Rendi, dengan menambahkan sedikit bumbu kebohongan.


"Ohh... Sampein makasih aku sama Bunda yah." Ucap Mitha. Walaupun saat ini dia sedang senang, karena dompet yang membuatnya pusing dari kemarin, akhirnya ketemu juga. Dia tetap mempertahankan wajah datarnya didepan Rendi, entahlah, dia hanya merasa malas memperlihatkan senyumnya pada Rendi. Anggaplah dia berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Dan tentang dompet itu, Mitha sebenarnya merasa sangat lega karena sudah ditemukan. Jujur saja, dari kemarin dia uring-uringan terus memikirkan tentang dompetnya. Bukan perkara uang yang ada di dalam dompet, tapi yang dicemaskan Mitha adalah, dompet itu jatuh dirumah Rendi dan ada yang membuka dompetnya.


Kalau itu sampai terjadi, maka rahasianya yang berpura-pura sebagai orang kurang mampu akan terungkap. Sebenarnya Mitha masih ragu, apa Rendi benar-benar tidak membuka dompetnya, atau dia sebenarnya sudah membukanya tapi berbohong kalau dia tidak membukanya.


"Tapi jika dia memang sudah membuka dan melihat isi dompetnya, kenapa dia tidak menanyakan apapun. Mungkin dia memang tidak membukanya." Pikir Mitha.


"Iya." Balas Rendi malas, dengan tangan yang mulai sibuk menggaruk-garuk tubuhnya, yang terasa gatal karena gigitan nyamuk. Mitha sampai meringis saat melihat ada banyak bekas gigitan nyamuk dibadan Rendi


"Gatal banget yah?" Pertanyaan yang bodoh, 3 kata yang terlintas dalam pikiran Mitha setelah menanyakan hal tersebut. Oh ayolah... Tanpa bertanya pun, dia sudah tau kalau badan Rendi pasti tengah gatal-gatal sekarang.


"Menurut lo?" Sinis Rendi.


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁😅

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰


__ADS_2