Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Ditemplokin Kursi


__ADS_3

"Yap, tertawa dan bersenang-senanglah, selagi kalian masih bisa menikmatinya. Karena sebentar lagi penderitaan untuk kalian akan datang." Ucap orang itu dengan tersenyum miring. Tadinya dia hanya ingin mengerjai Rendi, tapi setelah dipikir-pikir rasanya kurang adil kalau Sasya dibiarkan begitu saja. Jadi biar adil, Sasya


juga akan mendapat 'hadiah' darinya.


***


"Haa... Capek banget..." Ucap Vino sambil duduk di kursinya, jam pembelajaran pertama dikelas Rendi hari ini adalah olahraga, dan mereka baru saja selesai berganti baju. Satu persatu teman Rendi pun masuk kedalam kelas, karena jam pergantian pelajaran sudah berbunyi.


Rendi pun duduk dengan anteng dikursinya, tanpa menyadari kalau sebentar lagi akan ada kejadian memalukan yang akan menimpanya. 10 menit, 20 menit, 30 menit, semuanya masih berjalan normal. Hingga akhirnya, tiba-tiba Pak Budi guru Mapel yang sedang mengajar di kelas Rendi, meminta Rendi untuk maju mengerjakan soal yang ada dipapan tulis.


Rendi sedikit mengeluh, karena dia tidak begitu tau jawaban dari soal itu. Tapi untuk menghindari amukan Pak Budi yang baik hati, namun bisa menjadi sangat galak jika sedang marah. Maka Rendi pun memaksakan diri untuk berdiri.


"Semangat sayang." Ucap Sasya, saat Rendi hendak beranjak dari kursinya.


"Iya sayang, makasih yang semangatnya." Balas Rendi dengan tersenyum.


"Iya, sama-sama sayang." Balas Sasya yang duduk di sebelahnya, Rendi dan Sasya memang duduk berdampingan. Saat Rendi hendak mengangkat p*ntatnya dari kursi, dia mulai merasa ada yang aneh. Namun dia tetap memaksakan diri untuk berdiri, karena Pak Budi sudah memanggilnya kembali.

__ADS_1


"Iya Pak, bentar." Ucap Rendi.


"Sayang kamu kenapa sih? Kenapa kursinya dipegangin terus?" Bingung Sasya.


"Nggak tau nih yang, kursinya kok nempel mulu di p*ntatku." Balas Rendi yang juga kebingungan.


"Yaudah sini aku pegangin kursinya." Ucap Sasya lagi, kemudian mendekat kearah Rendi dan memegangi kursinya.


"Ada apa sih?" Kepo Vino yang duduk dibelakang mereka.


"Itu, kursinya nakal. Masa ****** cowok gue ditemplokin mulu, nggak mau lepas-lepas."


"Bacot lo, mending lo bantuin gue nih. Kursinya nggak mau lepas-lepas." Sewot Rendi.


"Iya iya, bawel." Vino pun ikut mendekat kearah Rendi dan membantu memegang kursinya. Pak Budi yang melihatnya segera datang mendekat.


"Ada apa ini? Kenapa kalian malah ngumpul disini?" Tegur Pak Budi.

__ADS_1


"Maaf Pak, ini kursinya nemplok di ****** saya nggak mau lepas-lepas." Adu Rendi, membuat Pak Budi geleng-geleng kepala melihatnya.


"Rendi Rendi, dulu ditemplokin cicak. Sekarang ditemplokin kursi, ckckck."


"Yaelah nih guru, malah ngeledek." Batin Rendi dengan tampang kesal.


"Bapak kayak nggak tau aja, pesona Rendi kan emang cuetar membuahana buadai halilintar petir guntur geledek. Makanya semuanya pada nemplok sama dia, hehehe..." Ledek Vino, sehingga membuat Rendi menggeram kesal karenanya. "Canda bro... Canda... Hehe..." Cengir Vino lagi dengan menunjukkan 2 jarinya membentuk huruf V, saat mendapat lirikan tajam dari Rendi.


"Yaudah, lo mau bantuin apa nggak nih?" Sewot Rendi.


"Iya, nih gue mau bantuin." Ucap Vino. "Eh, tapi ini kok bisa nempel gini sih kursinya?" Tanya Vino bingung. "Jangan-jangan ada yang ngasih lem lagi dikursi lo Ren?"


"Lem? Entahlah, gue juga nggak tau. Lagipula dari tadi gue dudukin nih kursi aman-aman aja, nggak ada yang aneh. Sampai saat gue mau berdiri, nih kursi nggak mau lepas-lepas." Ucap Rendi, sedangkan Rangga yang mendengarnya, segera teringat sesuatu.


...****************...


Assalamualaikum semuanya...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅 🥰🥰


__ADS_2