
"Udah nggak papa, nggak usah merasa nggak enak segala. Pokoknya besok kalian harus luangin waktu buat dateng, kamu juga yah Bian."
"Insya Allah ma." Jawab Bian yang daritadi hanya diam saja.
***
"Ayo naik." Seru Bian pada Mitha yang sedang berdiri disampingnya.
"Itu motor siapa?" Tanya Mitha saat melihat motor matic yang dibawa oleh Bian. "Perasaan kamu nggak punya motor kayak gini deh." Ucap Mitha.
"Ya emang bukan motor aku, ini motornya mang Udin (Satpam dirumah Bian). Tadi aku pinjem sama dia, soalnya kalau boncengin kamu pake sepeda susah, nggak ada tempat duduk dibelakang. Atau kamu mau naik mobil aja ke sekolah?" Ucap Bian memberikan pilihan, hari ini dia bertugas untuk memberikan Mitha tumpangan karena sepeda Mitha masih ada di sekolah.
"Nggak ah, naik motor aja." Putus Mitha.
"Yaudah yuk." Bian pun memberikan helm warna biru bermotif Doraemon, helm yang biasa digunakan Mitha saat mereka boncengan naik si hitam. Mengingat tentang si hitam, Bian kembali memberikan pilihan untuk Mitha.
"Atau kamu mau naik si hitam aja? Kasian dia, udah lama nggak ngirup udara segar." Ucap Bian.
"Nggak usah, naik ini aja. Si hitam biarin jadi penghuni garasi dulu, nanti kita ajakin dia jalan-jalan." Ucap Mitha, si hitam adalah sebutan yang diberikan Bian untuk motor sportnya.
"Kapan?"
"Kapan-kapan."
"Ck dasar, udah buruan naik."
"Ayok jalan bang, nanti saya kasih bintang lima, tapi kalau saya bisa sampai ditempat tujuan dengan selamat dan tanpa kekurangan apapun." Canda Mitha, sambil menepuk punggung Bian.
"Ck, kamu kira aku ojol apa?" Ucap Bian pura-pura kesal.
"Hehehe emang, Abi kan ojolnya Umi. Kapanpun, dimanapun, dan kemanapun Umi mau pergi, Abi selalu ready to go buat nganterin Umi. Jadi Abi terima nasib aja, kalau Abi itu ojolnya Umi."
__ADS_1
"Iya deh iya tuan putri, Abang ojol siap nganterin kemanapun."
"Nha gitu dong, ojolnya Umi ini emang special. Ibarat martabak, udah pakai kacang, coklat, keju, terus disiram susu, emm... Jadi laper lagi..."
"Hah... Daritadi ngomong muter-muter, bilang aja kalau mau dibeliin martabak." Tebak Bian.
"Hehehe... Tau aja, Mitha udah pengen makan itu dari semalam soalnya, tapi belum kesampaian."
"Yaudah nanti sepulang sekolah, kita pergi cari martabak yang kamu mau, gimana?" Tawar Bian.
"Ok setuju, yaudah yuk berangkat."
"Ayo, berangkat." Ucap Bian juga dengan menyalakan motornya, dan mereka pun berangkat ke sekolah bersama menggunakan motor mang Udin, satpam dirumah Bian.
***
"Alhamdulillah sampai." Ucap Bian saat baru selesai memarkirkan motornya.
"Berarti bintang lima nya jadi dong." Canda Bian.
"Maaf Bang, kuota saya lagi habis. Jadi ngasih bintang 5 nya kapan-kapan aja yah."
"Ck, gini nih, ciri-ciri penumpang PHP. Omongan doang yang manis, tapi nggak ada pembuktian." Ucap Bian, dan Mitha pun membalasnya dengan cengiran.
"Peace Bang, ampun. Jangan kapok ngojekin saya yah, hehehe..."
"Nggak janji." Ucap Bian, dan mereka pun saling bercanda bersama di area parkiran.
Disaat mereka tengah asyik bercanda bersama, Rendi dan teman-temannya baru saja datang dan memarkirkan motornya bersama teman-temannya.
"Ren, tuh liat. Bini lo lagi becanda bareng sama cowok lain, sampe ketawa-ketawa gitu, emang lo nggak cemburu?" Pancing Vino, ingin melihat reaksi Rendi.
__ADS_1
"B aja." Singkat Rendi sambil menyimpan helmnya diatas motor, dan berjalan menuju kelasnya. Rendi sempat melirik kearah Bian dan Mitha yang semakin hari semakin dekat saja, dan entah kenapa Rendi tidak suka melihatnya.
"Eh Bi, aku mau ngejar Rendi dulu yah. Mau sampein pesan papa kemarin sama dia." Ucap Mitha saat melihat Rendi sudah berjalan kekelasnya.
"Iya, aku temenin." Ucap Bian juga.
"Rendi tunggu!" Panggil Mitha, namun Rendi seolah menulikan pendengarannya. Dia tetap berjalan dan mengabaikan Mitha yang sudah beberapa kali memanggilnya. Melihat Rendi terus saja mengabaikan panggilannya, Mitha pun nekat berlari dan memegang lengan Rendi, agar berhenti berjalan.
"Tunggu! Aku mau ngomong, berhenti dulu." Ucap Mitha sambil menarik lengan Rendi.
"Lepas! Nggak usah pegang-pegang." Sentak Rendi sambil menarik lengannya dengan kasar, sehingga membuat Mitha sedikit terkejut.
"Eh, santai aja dong. Nggak usah kasar gitu." Seru Bian tidak terima dengan perlakuan Rendi pada Mitha.
"Bukan urusan lo! Dan lo, nggak usah ngalangin jalan gue." Tunjuk Rendi pada Bian, lalu menunjuk Mitha. "Awas minggir!" Sentak Rendi lagi, dan dengan sengaja menyenggol bahu Mitha yang sedang berdiri didepannya. Rendi berlalu begitu saja, tanpa peduli pada Mitha yang meringis sakit pada bahunya karena ulahnya.
"Aww..." Mitha pun memegangi bahunya yang sedikit nyeri karena ulah Rendi.
"Punya mata nggak sih lo?" Seru Bian dengan kesal saat melihat Rendi dengan sengaja menabrak bahu Mitha. Dia bahkan berniat mengejar Rendi kalau saja Mitha tidak menahannya.
"Kamu nggak papa?" Khawatir Bian.
"Iya aku nggak papa, cuman nyeri dikit. Nggak papa kok." Ucap Mitha dengan tersenyum, dan tanpa mereka sadari Rendi yang sudah beberapa langkah didepan mereka, melihat interaksi Bian dan Mitha dengan tidak suka. Dia bahkan tidak sadar saat kedua tangannya mengepal dengan kuat.
Sebenarnya suasana hatinya sudah tidak enak saat melihat Mitha dan Bian bercanda bersama diparkiran tadi. Tapi karena gengsi yang selangit, dia bersikap seolah biasa-biasa saja. Padahal dalam hati dia sudah ingin rasanya menarik tangan Mitha agar menjauh dari Bian.
...****************...
Assalamualaikum semuanya 😁😅🥰
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰
__ADS_1