Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Drama Rendi


__ADS_3

"Hhuuffftt... Bukan itu masalahnya Pak, lari 10 kali keliling lapangan pun saya sanggup. Tapi masalahnya adalah, dilapangan sekarang ada anak kelas sebelah yang juga lagi olahraga. Saya bukannya nggak kuat lari Pak, tapi saya nggak nggak kuat nanggung malunya Pak. Saya malu Paakk...." Rengek Rendi seperti anak kecil, sungguh Pak Doni sangat ingin tertawa melihatnya, namun sebisa mungkin ditahannya.


"Ck, jangan seperti anak kecil! Kamu pikir dengan merengek seperti itu, saya akan membatalkan hukuman kamu, jangan harap! Sekarang berhenti merengek dan kerjakan hukuman kamu, sebelum saya tambah hukuman kamu."


"Haiiisshhh... Jangan dong Pak."


"Yasudah sana cepat!" Perintah Pak Doni lagi untuk kesekian kalinya.


"Hhuuffftt..." Bukannya melakukan yang diperintahkan Pak Doni, Rendi malah berdiri mematung ditempatnya dan terus menghela nafas. Membuat Pak Doni ikut menghela nafas melihatnya.


"Hhuuffftt... Dasar merepotkan. Biar Bapak bantu kamu sedikit." Ucap Pak Doni, yang seketika seperti membawa angin segar untuknya.


"Bapak mau ganti hukumannya? Alhamdulillah, makasih Pak." Seru Rendi kembali bersemangat, sehingga membuat Pak Doni geleng-geleng kepala melihatnya.


"Ge'er kamu, yang saya maksud dengan bantuan adalah ini..." Pak Doni lalu membalikkan badan Rendi menghadap ke arah lapangan, dan berteriak pada Pak Bowo.


"Permisi Pak Bowo, maaf mengganggu waktunya sebentar." Seru Pak Doni pada Pak Bowo.


"Iya Pak Doni, ada apa?" Tanya Pak Bowo, diikuti beberapa pandangan murid yang sedang berolahraga di lapangan.


"Eh, itu si Papa tiri kenapa Umi?" Bisik Arum, sehingga membuat Mitha mendelik kearahnya.


"Siapa yang kamu panggil Papa tiri?"

__ADS_1


"Hehe... Siapa lagi, yah suami Umi lah." Cengir Arum.


"Heh... Jangan suka sembarangan ngasih julukan nama buat orang. Nanti orangnya denger, terus tersinggung dan nggak terima, gimana? Emang kamu mau tanggung jawab, kalau dia marah?"


"Nggak berani, suami Umi kalau marah seyyemmm..." Ucap Arum menggelengkan kepalanya, dan memasang tampang dramatis.


"Makanya nggak usah panggil dia dengan sebutan aneh-aneh lagi."


"Ck, sebutan Papa tiri nggak aneh kok. Lagian kita pake julukan itu diantara kita-kita aja, jadi masih aman kok, yakan guys." Ucap Arum sambil berbalik kearah Lia dan Vina.


"Yoi."


"Yaps Umi, sans. cuman sama kita-kita aja kok."


"Hehh... Terserah kalian sajalah, tapi kalau dia sampai tau dan marah, resiko tanggung sendiri."


Balik lagi ke Pak Doni.


"Maaf Pak Bowo, saya mohon ijin untuk menggunakan pinggir lapangannya sebentar, untuk menghukum anak murid saya yang satu ini." Santai Pak Doni.


" Oh iya Pak, silahkan." Jawab Pak Bowo. Sedangkan Rendi sedari tadi hanya bisa diam, menahan rasa kesal yang menjalar dihatinya, karena merasa di PHP oleh Pak Doni. Bukannya bantuan yang diberikan, tapi Pak Doni malah membuatnya tak bisa berkutik dan lari dari hukumannya.


"Pak, Bapak kok tega sih sama saya? Ini sih bukannya bantuan Pak, tapi Bapak malah seperti mendorong saya masuk jurang." Sungut Rendi kesal.

__ADS_1


"Ck, nggak usah berlebihan."


"Pak, Bapak tau nggak sih, yang Bapak lakuin ke saya sekarang itu, JAHHATTT..."


Plaaakkk...


"Aduh, Pak. Kok kepala saya dipukul sih?" Protes Rendi, saat kepalanya dipukul oleh Pak Doni.


"Makanya kamu jangan kebanyakan drama, masih untung kamu cuman saya suruh lari keliling lapangan 3 kali, bukan saya suruh joget-joget ditengah lapangan. Atau kamu mau saya suruh joget-joget aja?"


"Eh, eh... Nggak Pak, jangan! Ini aja udah berat buat saya, apalagi disuruh joget-joget. Mau ditaro dimana muka saya yang tampan dan menggemaskan ini." Ucap Rendi dengan pedenya.


Plaaakkk...


"Aduh, Pak! Kok kepala saya dipukul lagi sih?" Protes Rendi lagi, karena kepalanya kembali dipukul oleh Pak Doni.


"Itu karena saya terlalu gemes sama kamu, sampe tangan saya gatal pengen mukulin kepala kamu. Jadi, sekarang berhenti ngoceh dan kerjakan hukuman kamu, sebelum saya pukul lagi kepala kamu, mau kamu?" Ancam Pak Doni.


"Jangan dong Pak! Bapak mukulnya nggak pakai perasaan, kepala saya masih sakit nih." Protes Rendi lagi, sehingga membuat Pak Doni memutar bola matanya jengah melihat Rendi.


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁😅

__ADS_1


Maaf yah baru bisa up lagi sekarang...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁😅🥰🥰


__ADS_2