
"Iya Bi, makasih." Balas Mitha ramah, dan ikut masuk. Sedangkan Rendi hanya mengekor saja dibelakang mereka, saat sudah hampir mencapai ruang tamu, Rendi segera mencekal lengan Mitha dan mencengkeramnya lumayan keras.
"Ingat yah! Jangan sampe lo ngomong atau ngaduh yang enggak-enggak sama Bunda dan yang lainnya. Gue nggak bakal tinggal diem." Ucap Rendi pelan dan penuh penekanan pada setiap katanya.
"Isshhh... Lepas, sakit." Ucap Mitha juga dengan pelan, sambil meringis menahan rasa sakit dilengannya. Bukannya kasihan dan melepaskan cekalannya, Rendi malah tersenyum miring kearahnya.
"Lo bakal ngerasain yang lebih sakit dari ini, kalo sampai lo ngebangkang dan nggak nurutin permintaan gue, ngerti?" Ucap Rendi, dan menghempas kasar lengan Mitha. Untung Bi Mina berada di depan mereka, jadi tidak melihat perlakuan kasar Rendi pada Mitha.
"Akhirnya kalian datang juga."
Ucap seseorang secara tiba-tiba, sehingga membuat Rendi dan Mitha kompak melihat kearahnya.
"Bunda." Mitha menghampiri ibu mertuanya itu, dan mencium tangannya. Sudah tidak terlihat wajah kesal yang sempat mewarnai wajahnya tadi, sebisa mungkin dia terlihat baik-baik saja di depan mertuanya itu.
"Kok kalian baru dateng? Bunda udah nungguin dari tadi loh."
"Macet Bun." Ucap Rendi berbohong, setelah itu diapun mencium tangan Bundanya.
"Ckk, macet dari Hongkong." Batin Mitha dalam hati.
"Yaudah kalo gitu sekarang kamu bersih-bersih gih, sekalian ajakin istri kamu ke kamarnya buat istirahat. Bunda mau nyiapin makan siang dulu."
"Ckk, sama Bunda ajalah. Aku capek, mau istirahat." Ucap Rendi, dan berlalu menuju kamarnya.
"Dasar anak itu, Bunda belum selesai ngomong juga, udah main pergi aja." Dumel Bunda, Mitha yang melihatnya hanya senyum-senyum saja.
__ADS_1
"Yaudah yuk sayang, Bunda anterin ke kamar kamu." Ajak Bunda.
"Kamar aku? Maksud Bunda?" Tanya Mitha, sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Oh iya, Bunda belum bilang yah, kalo mulai sekarang setiap weekend kamu bakal nginep disini. Bunda udah siapin satu kamar untuk kamu, sebelahan sama kamarnya Rendi. Ayok, kamu pasti capek dari sekolah. Sambil nunggu Bunda selesai nyiapin makan siangnya, kamu istirahat dulu aja di kamar. Tapi Bunda belum siapin pakaian buat kamu, jadi nanti setelah makan siang, kita pergi shopping yah. Beli baju sama keperluan- keperluan kamu yang lainnya, biar kalau kamu nginep di sini, nggak perlu repot-repot lagi bawa barang dari rumah." Ujar Bunda menjelaskan, tidak lupa dengan senyumannya.
"Makasih yah Bunda, dan maaf udah ngerepotin."
"No sayang, Bunda nggak merasa direpotin sama sekali kok. Jadi nggak usah minta maaf segala."
"Mmm... Tapi Bunda, Mita harus bilang dulu sama kak Miko." Cicit Mitha pelan.
"Kalau soal itu kamu nggak usah khawatir, tadi bunda udah bicara sama kakak dan orang tua kamu. Dan mereka sudah mengizinkannya." Ucap Bunda. "Udah yuk, sekarang Bunda antar ke kamar kamu, biar kamu bisa istirahat." Lanjut Bunda lagi.
"Lho, emang kamu nggak capek sayang dari sekolah?" Mitha pun menggelengkan kepala mendengarnya.
"Nggak kok Bun, Mitha nggak capek. Mitha mau bantuin Bunda aja di dapur."
"Yaudah kalo kamu maunya gitu, ayookk." Bunda pun memegang tangan Mitha dengan lembut, dan membawanya ke dapur.
"Iya, Bunda."
Di dapur.
"Bunda mau masak apa? Biar Mitha bantu."
__ADS_1
"Mmm, sebenarnya tinggal satu makanan lagi sih, makanan kesukaannya Rendi. Semur jengkol."
"Hah, apa Bun?" Sebenarnya Mitha sudah mendengarnya, tapi untuk memastikan kalau dia tidak salah dengar, dia kembali bertanya pada Bunda Desi.
"Semur jengkol, Rendi itu sangat suka makan jengkol. Apalagi kalau dibikin semur, udah deh, lupa kenyang deh dia." Mitha yang mendengarnya, mengulum bibirnya, takut kelepasan tertawa. Tidak menyangka saja, seorang Rendi yang ngomongnya suka nyelekit itu ternyata suka makan jengkol.
"Tapi jengkol kan emang enak, makanan sejuta umat. Jadi wajar sih, kalau dia suka makan jengkol, hanya nggak nyangka aja. Hihi...." batin Mitha dalam hati.
"Kamu bisa masak nggak?"
"Bisa Bunda, tapi masih amatir. Masakan Mitha masih perlu banyak dikoreksi, hehehe..." Cengir Mitha.
"Nggak papa sayang, nanti juga bisa." Ucap Bunda dengan tersenyum.
"Iya Bunda, mmm... Bunda, boleh nggak kalau semur jengkolnya Mitha aja yang masak."
"Boleh, tapi seriusan nih, yaakiiin?" Ucap Bunda Desi memastikan.
"Iya Bun, kalau semur jengkol, Mitha udah sering bikin dirumah. Kebetulan semua orang rumah suka makan jengkol. Hehe..."
"Wah, Bunda nggak nyangka loh. Bunda malah khawatir tadi, takutnya kamu nggak suka sama jengkol, terus keganggu sama aromanya."
"Nggak kok Bun, Mitha suka kok sama aromanya. Mitha kan juga suka makan jengkol, Pete juga."
"Wahh... Kamu sama suami kamu emang kompak, sama-sama suka makan jengkol sama pete, hehe..."
__ADS_1