Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Rendi ingin menjemput pacarnya


__ADS_3

"Lho, kenapa ditolak sayang?"


"Mmm... Tadi waktu Rendi ngasih kartunya ke Mitha, Mitha nanya sama dia, uang yang ada dalam kartu itu, uang dari Bunda sama Ayah atau uang hasil dari kerja kerasnya sendiri. Terus dia jawab, uangnya dari Bunda sama Ayah, makanya Mitha tolak. Karena Mitha pengen Rendi nafkahin Mitha pakai uang dari hasil kerja kerasnya sendiri. Maaf kalo keputusan Mitha bikin Bunda marah dan tersinggung, Mitha cuman pengen Rendi mandiri dan tidak bergantung terus sama Ayah dan Bunda." Ucap Mitha menjelaskan, dengan kepala tertunduk. Bunda yang mendengarnya langsung tersenyum senang, merasa kalo putranya sudah menikah dengan wanita yang tepat. Bunda pun mengelus punggung tangan Mitha dengan lembut.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kenapa juga Bunda harus marah? Justru Bunda bangga sama keputusan kamu, nanti Bunda bakal bicara sama Ayah, setelah dia pulang nanti. Biar Rendi di kasih pekerjaan di kantor." Ucap Bunda dengan tersenyum. Mitha yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalanya.


"Jangan Bunda, Mitha nggak mau kalau Rendi bekerja dengan terpaksa. Mitha pengennya Rendi bekerja atas keinginannya sendiri, apalagi Rendi masih sekolah, kasian dia kalau harus sekolah sambil kerja." Ucap Mitha, yang tiba-tiba teringat dengan kata-kata Rendi tadi pagi, bahwa dia tidak ingin dipaksa bekerja. Bisa-bisa Rendi semakin membencinya, jika orang tuanya sampai memaksanya untuk bekerja. Mitha memang ingin Rendi menafkahinya dengan hasil kerja kerasnya sendiri, tapi mengingat bagaimana sikap dan perilaku Rendi padanya, membuatnya ragu kalau Rendi akan bekerja untuk menafkahinya. Kalaupun dia melakukannya, itu pasti karena terpaksa dan dilakukan dengan setengah hati.


"Kalau harus nunggu dia kerja atas keinginannya sendiri, kelamaan. Kalo soal sekolah sambil kerja, itukan udah jadi tanggung jawabnya dia sebagai seorang suami dan seorang siswa. Jadi nggak usah terlalu dipikirin yah."


"Tapi Bunda..."


"Udah nggak papa, lagian emang udah seharusnya dia itu bantuin Ayahnya kerja di kantor. Sebagai penerus Ayahnya, dia seharusnya sudah mulai belajar tentang seluk beluk perusahaan. Bukannya malah keluyuran, nongkrong sana, nongkrong sini. Ngabis-ngabisin uang, untuk hal yang gak penting." Celoteh Bunda. Melihat Mitha hanya diam saja, Bunda kembali berbicara.


"Udah yah, nggak usah terlalu dipikirin. Bawa happy and enjoy aja."


"Iya Bunda."


"Oh yah, Rendi mana? Kok Bunda nggak liat dia dari tadi?"


"Tadi Nia liat Kakak ke kamarnya, lagi tidur kali." Ucap Nia yang tiba-tiba datang dari kamarnya.


"Astaga Dek, kamu hobi banget sih ngagetin Bunda."


"Hehehe... Maaf Bun, kan Nia nggak maksud buat ngagetin. Nia pun ikut duduk di sofa setelah meletakkan beberapa bukunya diatas meja.


"Kenapa bawa buku sebanyak itu? Teman-teman kamu mau dateng buat belajar kelompok lagi?"

__ADS_1


"Nggak kok Bun... Nia cuman sumpek aja, ngerjain tugas-tugasnya di kamar. Rasanya kepala Nia pusing baca soal-soalnya, apalagi soal pelajaran Matematika sama Fisikanya. Otak Nia langsung ngeblank rasanya." Curhat Nia.


"Mau Kakak bantu, ngerjain tugasnya?" Tawar Mitha, sehingga membuat mata Nia langsung berbinar senang.


"Serius nhy Kak? Mau ajarin Nia."


"Iya, serius."


"YESS... Akhirnya ada juga yang mau bantuin Nia belajar dan ngerjain tugas." Seru Nia semangat.


"Emangnya Rendi nggak ngajarin kamu?"


"Isshh... Boro-boro mau bantuin Nia belajar, kerja sekolahnya sendiri aja kadang nggak dikerjain. Kalau Nia minta tolong sama Kak Rendi buat diajarin, malah banyak banget alasannya." Dumel Nia.


"Yaudah kalo gitu mulai sekarang, Nia belajarnya sama Kakak yah." Ucap Mitha dengan tersenyum.


"Lho, emang sekarang Mitha ini udah jadi Kakak kamu juga, iya kan Mit?"


"Iya Bunda, Mitha juga udah lama pengen punya adik, tapi mamanya nggak hamil-hamil."


"Nggak papa Kak, kan sekarang udah ada Nia. Kakak bisa anggap Nia sebagai Adek Kakak sendiri." Mitha pun tersenyum mendengarnya, dia sangat bersyukur karena mertua dan iparnya mau menerima dia dengan baik dalam keluarga mereka.


"Makasih yah, karena kamu udah mau nerima Kakak di sini, Bunda juga. Mitha sangat bersyukur, karena sekarang punya keluarga baru yang mau menerima kehadiran Mitha." "Kecuali Rendi." Lanjutnya dalam hati.


"Kira-kira dia lagi apa yah sekarang? Mungkin dia lagi tidur." Batin Mitha lagi, karena tiba-tiba kepikiran dengan Rendi. Dan ternyata yang sedang di pikirkan oleh Mitha itu salah, Rendi tidak sedang tidur siang, tapi...


"Mmm... Gila enak banget, semur jengkol buatan Bunda yang biasanya emang enak. Tapi yang ini kok rasanya lebih enak yah, lebih gurih juga. Mungkin Bunda nambahin lebih banyak bumbu kali yah." Gumam Rendi, di sela-sela kunyahannya. Yap, saat ini Rendi tengah makan nasi sama semur jengkol secara diam-diam, karena tidak ingin ketahuan oleh Mitha, atau diledeki oleh Mitha nantinya. Saking niatnya, Rendi sampai ngumpet dikamar pembantu yang ada didekat dapur untuk memakan jengkolnya. Ckckck segitunya...

__ADS_1


***


"Ck, ayelah. Macet banget sih, bisa telat nih gue." Omel Rendi, sambil memukul setir mobilnya.


Tiinnn... Tiinnn... Tiinnn...


Rendi semakin mengomel tidak jelas, saat mobil didepannya tidak bergerak juga, walaupun dia sudah membunyikan klaksonnya berkali-kali.


"Ini semua tuh gara-gara lo tau nggak, kalau bukan karena nunggu lo, gue udah berangkat daritadi. Dan nggak perlu kejebak macet gini, mana harus nganterin lo pulang lagi. Nyusahin tau nggak, ngerepotin!" Omel Rendi pada Mitha yang duduk di sebelahnya. Mitha hanya bisa bersabar mendengarnya, sebenarnya Mitha sudah mau pulang tadi sore, tapi Bunda melarangnya, dan memintanya untuk makan malam bersama. Mitha pun tidak enak menolaknya, Bunda Desi bahkan meminta Mitha untuk menginap. Tapi karena Mitha beralasan dia tidak punya persiapan apa-apa untuk menginap, Bunda pun akhirnya mengalah.


"Iya maaf." Ucap Mitha akhirnya, karena Rendi terus saja mengomel. Sebenarnya Mitha tau kalau Rendi sudah ingin pergi setelah makan malam, tapi karena Bunda Desi memintanya untuk mengantar Mitha, dia tidak jadi pergi. Apalagi setelah makan malam, Bunda Desi dan Ayah Herman mengajaknya untuk mengobrol diruang keluarga. Mitha jadi tidak enak untuk berpamitan.


"Keluar." Seru Rendi tiba-tiba, saat mereka sudah keluar dari kemacetan, dan sekarang berada dipertigaan jalan. Mitha mengernyitkan keningnya saat melihat keluar jendela.


"Kenapa? Kita kan belum sampe?" Bingung Mitha, semakin bingung saat melihat Rendi tersenyum miring.


"Emang yang bilang gue mau anterin lo pulang siapa?"


"Tapi tadi kata Bunda..."


"Itukan Bunda yang bilang, bukan gue. Jadi sekarang lo keluar, rumah cewek gue itu lewat jalan sebelah kiri. Sedangkan jalan kerumah lo kan lewat kanan, kalau gue harus nganterin lo dulu, kelamaan. Yang ada gue bisa telat jemput cewek gue, jadi lo buruan turun gih. Jangan buang-buang waktu gue yang berharga, cuman buat elo. Buruan." Seru Rendi pada Mitha.


...****************...


Assalamualaikum semuanya 😁😁


Author dateng lagi nhy...😅😁

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yahhh 😁🥰


__ADS_2