
Mitha yang mendengar ucapan Rendi pun refleks menggigit bibirnya, takut kelepasan tersenyum. Sungguh rasanya seperti ada perasaan bahagia dalam hati Mitha saat ini, saat mendengar ucapan Rendi barusan.
"Dan lo bangga gitu sama status lo itu." Ketus Bian.
"Apaan sih lo, nggak jelas banget." Dan stop buang-buang waktu gue, lo nggak liat bentar lagi upacara." Seru Rendi pada Bian. "Dan lo, ikut gue sekarang." Ucap Rendi sambil menarik lengan Mitha, namun lagi-lagi Bian menahannya. "Apaan lagi sih?" Kesal Rendi pada Bian.
"Bilang dulu lo mau bawa Mitha kemana."
"Udah gue bilang itu bukan urusan lo." Seru Rendi dengan penuh penekanan, karena kesal dia juga mendorong Bian menggunakan jari telunjuknya, sehingga membuat Bian menjadi tambah kesal padanya. Bian pun mengepalkan kedua tangannya dan menarik kerah seragam Rendi dengan kasar, Mitha yang melihat Bian dalam mode awas segera menarik tangan Bian dari kerah seragam Rendi. Takut kalau mereka sampai adu jotos lagi seperti beberapa hari yang lalu.
"Bi udah Bi, lepasin dia." Bujuk Mitha.
"Kok kamu malah belain dia sih?"
"Bukannya gitu Bi, aku nggak belain siapa-siapa kok. Aku cuman nggak mau kalau kalian berantem lagi seperti beberapa hari yang lalu." Ucap Mitha. "Dan kamu, sebenarnya kamu mau bawa aku kemana sih?" Tanya Mitha pada Rendi.
"Ck, suruh dia lepasin kerah baju gue dulu." Tunjuk Rendi menggunakan dagunya pada Bian.
"Bi, udah Bi, lepasin." Bujuk Mitha lagi, dengan berat hati Bian pun melepaskan kerah baju Rendi dengan sedikit kasar.
"Kalau bukan karena Mitha, udah gue hajar lo." Ucap Bian pada Rendi.
"Gak takut gue."
"Udah-udah nggak usah ribut." Lerai Mitha untuk kesekian kalinya. "Sekarang kamu jawab, mau bawa aku kemana?" Tanya Mitha pada Rendi.
"Ke UKS."
__ADS_1
"UKS?" Bingung Mitha.
"Ck, kemarinkan lo habis pingsan, jadi nggak usah ikut upacara dulu. Mending sekarang lo istirahat di UKS aja, sambil nunggu upacaranya selesai. Di UKS lo bisa baringan jadi bisa lebih nyaman istirahatnya." Jelas Rendi. Mendengar itu, Mitha hanya memasang tampang biasa saja, berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini yang tengah bahagia. Wait! Bahagia? Entahlah, Mitha juga merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
Yang jelas Mitha merasa senang dan bahagia, karena walaupun Rendi sering ketus dan cuek padanya, tapi Rendi masih memberikan perhatian padanya. Dengan susah payah Mitha menahan bibirnya agar tidak tersenyum, dan tetap memasang tampang biasa-biasa saja.
"Ohh..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Mitha, karena jujur saja dia bingung harus mengatakan apa.
"Yaudah buruan, nanti keburu upacaranya dimulai." Ucap Rendi lagi sambil menarik lengan Mitha.
"Tunggu!" Tahan Bian lagi.
"APAAN LAGI SIH?" Seru Rendi dengan nada naik saru oktaf. Karena terlalu kesal pada Bian, Rendi sampai tidak sadar berseru terlalu keras. Sehingga semakin memancing atensi para penghuni lapangan, yang sebenarnya sudah memperhatikan sejak tadi.
"Gak usah berisik, gue nggak tuli." Ucap Bian.
"Ya gue cuman mau mastiin, lo beneran mau bawa Mitha ke UKS atau ke tempat lain."
"Terserah mau percaya apa nggak, gak peduli gue." Balas Rendi, baru saja Bian hendak membalas ucapan Rendi, Mitha sudah lebih dulu menyelanya.
"Udah Bi, nggak papa. Aku ikut dia dulu yah." Ucap Mitha.
"Tapi Tha... Hhuuffftt..." Sebelum menyelesaikan ucapannya, Bian memalingkannya wajahnya ke samping dan menghela nafas kasar disana. "Yaudah, kamu boleh ikut sama dia." Pasrah Bian akhirnya, karena dia juga tidak mau kalau Mitha ikut upacara dulu. "Tapi awas aja lo, kalo sampai lo apa-apain Mitha. Gue nggak bakal tinggal diam, ngerti!" Sentak Bian, yang dibalas tatapan malas oleh Rendi.
"Ck, drama banget sih lo. Siapa juga yang mau nyakitin dia, nggak usah lebay bisa kan?" Ucap Rendi.
"Gue bukan lebay, tapi perhatian." Balas Bian dengan ketus.
__ADS_1
"Terserah, udah ayo." Ajak Rendi lagi pada Mitha, sambil menarik kembali lengan Mitha.
"Eh, tunggu! Aku minta ijin dulu nggak ikut upacara."
"Udah gue minta ijinin tadi sama wali kelas lo, sebelum kesini."
"Ohh... Makasih."
"Hem."
***
Mitha terus menggigit bibir bagian dalamnya, sepanjang perjalanannya menuju UKS bersama Rendi. Walaupun tidak ada percakapan diantara mereka, tapi Mitha merasa jantungnya berdebar-debar karena Rendi terus memegang tangannya sejak tadi, dan bukan lengannya lagi.
Bukannya menolak, Mitha malah merasa senang. Terasa sangat nyaman saat Rendi memegang tangannya dan berjalan bersamanya seperti ini. Sesekali Mitha mencuri-curi pandang kearah Rendi yang berjalan disampingnya.
"Tampan." Batin Mitha dengan sedikit tersenyum. Mitha menggelengkan kepalanya, mencoba mempertahankan kewarasannya dengan tetap melihat kedepan, dan berhenti mencuri-curi pandang kearah Rendi. Namun sialnya, tubuhnya seolah tidak bisa diajak kerjasama. Karena Mitha kembali mencuri-curi pandang kearah Rendi, lagi dan lagi. Sampai akhirnya...
"Jalan tuh liat kedepan, bukan kesamping. Gue tau muka gue ganteng, dan bikin lo betah buat ngeliat muka gue. Tapi kalau nanti lo sampai kesandung dan jatuh, gue juga yang repot." Ucap Rendi tiba-tiba, tanpa melihat Mitha.
DEG.
Jantung Mitha langsung berdebar kencang dengan wajah yang mungkin sudah memerah karena merasa malu, sudah ketahuan oleh Rendi kalau dia daritadi mencuri-curi pandang kearahnya.
...****************...
Assalamualaikum para readers semuanya...
__ADS_1
Huwaaaaaaaa..... Akhirnya author bisa up lagi setelah sekian purnama eh, maksudnya setelah sekian hari🤭... Maaf yahhh... Beberapa hari ini author libur up dulu, karena author lagi sibuk kondangan😅😁 Author lagi ada banyak acara keluarga, jadi nggak sempat buat up... Maapin yahhh😭😭