
"Hemm..."
Lia hanya bisa mendengus, menghadapi Mitha yang lagi dalam mode irit bicara seperti sekarang.
***
Rendi berdiri sambil menekuk lututnya, dengan nafas yang masih ngos-ngosan karena baru saja menyelesaikan hukumannya. Rendi baru saja akan melap keringat di dahinya menggunakan tangan, ketika seseorang tiba-tiba datang dan menyodorkan sebuah sapu tangan dan minuman dingin kearahnya.
Rendi tidak langsung mengambilnya, melainkan mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah orang tersebut. Dan dia pun mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang ada didepannya saat ini.
"Ini buat kamu." Ucap Mitha kembali menyodorkan sapu tangan dan minuman dinginnya, karena Rendi hanya diam saja sambil terus melihatnya.
"Nggak perlu, gue nggak butuh!" Ketus Rendi dengan berbohong, karena yang sebenarnya, minuman dingin yang dibawa Mitha saat ini terlihat sangat menggoda untuknya yang sedang kehausan, sehabis menjalankan hukuman dari Pak Doni. Tapi karena gengsi, Rendi pun menolaknya. Mitha pun mengernyitkan alisnya mendengar penolakan Rendi.
"Kenapa? Emangnya kamu nggak haus habis lari-lari sambil teriak-teriak kayak tadi?" Tanya Mitha.
__ADS_1
"Bukan urusan lo!" Ketus Rendi lagi. "Lagian, nggak usah sok peduli deh lo sama gue. Nggak usah caper! Gue nggak butuh perhatian dari cewek cupu kayak lo. Jadi mending lo jauh-jauh deh dari gue, gue enek liat muka lo mulu. Dan stop sok peduli sama gue, gue tau lo cuman pura-pura perhatian dan peduli sama gue kan, aslinya lo pasti sekarang lagi tertawa bahagia liat gue dihukum kayak tadi. Sama kayak teman-teman lo yang nertawain dan ngeledek gue tadi." Sentak Rendi. Mendengar semua itu, Mitha segera menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak sedang lagi pura-pura atau apapun itu menurut kamu, aku cuman mau berbuat baik buat ngasih kamu sapu tangan dan minuman ini. Karena aku pikir, kamu akan membutuhkannya setelah kelelahan habis berlari."
Rendi yang mendengar itu jadi tertawa sinis, dan menatap Mitha dengan tersenyum miring.
"Sayangnya gue nggak butuh tuh, sama apa yang lo bawa itu. Jadi mending lo sekarang pergi dari hadapan gue, jangan lupa sama apa yang pernah gue bilang sama lo. Disini kita cuman sepasang orang asing, bukan cuman disini aja sih sebenarnya, tapi diluar juga. Karena buat gue, status kita cuman berlaku didepan keluarga gue dan keluarga lo. Selebihnya lo itu cuman orang asing buat gue, dan sebagai orang asing, lo seharusnya nggak usah deket-deket sama gue. Karena gue alergi dekat-dekat sama lo, bawaannya emosi mulu." Ketus Rendi dengan kata-kata pedasnya, dan dan setelah itu berlalu meninggalkan Mitha sendirian.
"Hhuuffftt..." Mitha menghela nafas kasar mendengar setiap ucapan Rendi, dan saat Rendi pergi begitu saja meninggalkannya. Sebenarnya Mitha berniat untuk mendekatkan diri dengan Rendi, dan mulai saling mengenal lebih jauh. Berharap kalau pernikahannya dengan Rendi bisa berjalan seperti pasangan Pasutri lainnya. Bukan karena Mitha mulai menyukai Rendi, tapi orang tua Mitha selalu memintanya menjadi istri yang baik dan selalu menjaga keutuhan rumah tangganya setiap kali mereka berbicara ditelpon, ataupun saat melakukan vc. Sepertinya orang tua Mitha terlalu berharap banyak dengan pernikahan Mitha ini, itu sebabnya Mitha tidak pernah menceritakan tentang perlakuan buruk Rendi selama ini padanya, karena tidak ingin kedua orang tuanya sampai kecewa, jika tau bagaimana sebenarnya hubungan dia dan Rendi.
***
"Hem." Jawab Rendi dengan muka datarnya, merasa jengkel dengan sahabatnya satu itu. Bukannya prihatin dengan hukuman yang baru didapatkannya tadi, sang sahabat malah sibuk menertawainya. Membuatnya jadi kesal saja.
"Wahh... Parah sih, si Pak Doni ngasih hukumannya nggak kaleng-kaleng. Nggak cuman bikin capek fisik, tapi juga langsung kena mental. Gue nggak kebayang sih, gimana malunya lo tadi. Apalagi lo ngelakuinnya didepan bini lo dan teman-temannya. Hahaha... Lo pasti malu banget tadi." Celoteh Vino masih sambil tertawa, sehingga membuat Rendi semakin kesal melihatnya. Rasa kesal pada Pak Doni saja masih belum hilang, dan sekarang Vino malah menambahinya.
__ADS_1
"Ngga, mending sekarang lo suruh temen lo itu diem, sebelum gue sumpel mulutnya pakai mangkuk bakso gue ini." Ancam Rendi, dengan mengangkat mangkuk bakso miliknya. Saat ini mereka bertiga sedang makan dikantin, dan Rendi baru saja menceritakan tentang hukuman yang didapatnya tadi.
"Wo wo wo... Sabar dong Bosque, baperan amat. Lagian bikin ketawa temen sendiri itu, dapet pahala loh."
"Bacot lo." Ketus Rendi, dan hanya dibalas cengiran oleh Vino.
"Udah-udah, nggak usah pada ribut. Mending kalian habisin makanan kalian, terus kita balik kekelas. Tegur Rangga, yang paling bijak diantara mereka.
...****************...
Assalamualaikum semuanya ππ
Author datang lagi...π€
Jangan lupa ramein kolom komennya yah... Kasiannn... Kolong komennya sepi pengunjung π₯Ίπ₯Ίπ₯Ί Author tunggu komen-komen manjaa kalian yah, hehe... ππ Nggak maksa kok, yang mau aja...
__ADS_1