
"Reni, kamu ikut saya." Ucap Pak Doni dengan menunjuk Rendi, membuat yang lainnya sibuk menahan tawa. Sedangkan Rendi hanya bisa menghela nafas mendengarnya, mau marah pun mana berani, yang ada dia yang bakal disemprot.
"Maaf Pak, tapi nama teman saya bukan Reni, tapi Rendi." Seru Vino membenarkan.
Drrrttt... Drrttt...
Baru saja Pak Doni akan menjawab, ponselnya yang ada di atas meja tiba-tiba bergetar. Pak Doni pun segera mengambil ponselnya dan melihat nama sang pemanggil.
"Tunggu sebentar, saya mau angkat telepon dulu."
"Iya Paaakkk..." Kompak semuanya.
Rendi membalikkan badannya ke arah Vino, hendak berterima kasih pada sahabatnya itu karena sudah membenarkan namanya. Namun di detik kemudian, dia urungkan niatnya itu saat melihat tampang menyebalkan Vino yang sedang meledeknya.
"Vin...."
"Yah Ren...ni, ada apa? Kok balik badan?" Ledek Vino.
"Rese lo." Ketus Rendi dan membalikkan badannya kembali, mengabaikan Vino yang mulai cekikikan di belakangnya. Rendi lalu melihat kearah Sasya, yang duduk di sampingnya dengan menunduk. Ekspresi wajahnya terlihat biasa saja, tidak seperti yang lainnya, yang sibuk menahan tawa. Sepertinya dia masih trauma dengan kejadian kemarin. Namun Rendi sudah tidak perduli, dan segera memalingkan pandangannya. Sasya yang tau kalau Rendi sempat melihat kearahnya, segera membalik badannya menghadap Rendi.
"Aku nggak ketawa kok yang, beneran, sumpah!" Ucap Sasya tiba-tiba, dengan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. Dia takut kalo Rendi akan berpikir kalo dia akan menertawainya lagi seperti kemarin. Rendi cukup terkejut dengan yang dilakukan Sasya, namun didetik berikutnya dia memasang wajah biasa saja.
__ADS_1
"Nggak peduli! Dan stop manggil gue dengan sebutan yang! Nama gue Rendi bukan Mayang apalagi kuyang, ngerti lo?" Sentak Rendi dengan ketus.
"Pffttt... Hahaha... Gue baru tau kalo lo bisa ngelawak Ren." Tawa Vino, karena sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Apalagi saat melihat wajah murung Sasya setelah diketusin Rendi, menurutnya wajah Sasya yang seperti itu terlihat sangat lucu.
"Ada apa yang disana?" Tegur Pak Doni setelah selesai berbicara dengan orang yang menelponnya, dan mendengar suara tawa Vino.
"Ekhem, nggak ada apa-apa Pak." Ucap Vino, setelah berhasil menahan tawanya.
***
"Pak, Bapak nggak serius kan? Bapak cuman lagi becandain saya aja kan? Iya kan Pak?" Tanya beruntun Rendi, saat Pak Doni menyuruhnya melakukan hukuman yang dia berikan. Hukuman yang sangat-sangat sulit untuk dilakukan Rendi, bahkan memikirkannya saja dia tidak mampu.
"Kamu pikir saya kurang kerjaan apa, becandain kamu. Sudah sana cepat, kerjakan hukuman kamu. Saya nggak punya banyak waktu cuman buat nungguin kamu disini." Perintah Pak Doni.
"Hehehe..." Rendi mulai tertawa penuh kemenangan dalam hatinya. Namun sayang, kebahagiaan Rendi hanya bertahan sesaat, karena...
"Tidak apa-apa, saya akan tetap menunggui kamu disini. Jadi kami tidak perlu berpikir untuk bisa kabur." Ucap Pak Doni dengan tenang dan tersenyum, namun terlihat menakutkan dimata Rendi.
"Eh, kok Bapak mikirnya gitu sih? Saya nggak mau kabur kok." Bohong Rendi.
"Ohh... Benarkah begitu?"
__ADS_1
"Tentu saja Pak."
"Lalu kenapa kamu masih berdiri saja, sana kerjakan hukumanmu."
Rendi menatap nanar lapangan yang ada didepannya, Pak Doni menyuruhnya untuk berlari mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali. Dan tak lupa Rendi harus meneriakkan sebuah yel-yel pemberian dari Pak Doni. Baru saja mendengar yel-yel nya, lutut Rendi sudah terasa lemas.
"Pak, Bapak yakin, saya harus teriak-teriak begitu?"
"Iya, sangat yakin. Kenapa? Hukumannya terlalu mudah yah untuk kamu? Yasudah kalau begitu akan saya tambah hukumannya.
"Eh eh... Nggak Pak! Ini saja sudah sangat berat untuk saya, tolong Pak jangan ditambah lagi. Tapi kalau bisa diganti aja deh Pak, yah Pak, please..." Mohon Rendi dengan sangat.
"Kamu ini, saya cuman nyuruh kamu lari keliling lapangan sebanyak tiga kali, bukan keliling Jakarta. Jangan jadi cowok lembek, katanya kapten basket, tunjukkin dong kemampuan lari kamu."
"Hhuuffftt... Bukan itu masalahnya Pak, lari 10 kali keliling lapangan pun saya sanggup. Tapi masalahnya adalah, dilapangan sekarang ada anak kelas sebelah yang juga lagi olahraga. Saya bukannya nggak kuat lari Pak, tapi saya nggak kuat nanggung malunya Pak. Saya maluuu Paaakkk..." Rengek Rendi seperti anak kecil, sungguh Pak Doni sangat ingin tertawa melihatnya. Namun sebisa mungkin ditahannya.
...****************...
Assalamualaikum para readers kiuuu ππ
Kira-kira yel-yel apa yah yang dikasih Pak Doni untuk Rendiπ€π€π€
__ADS_1
Jangan lupa komentarnya yahhh...
Jangan lupa juga like dan votenya...ππ₯°π₯°