Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Jemput pacar bukan istri


__ADS_3

Mitha sampai meringis mendengarnya, bagaimana hoodienya tidak basah, kalau sebagian besar tenaganya dia gunakan untuk berlari dan berjalan jauh. Otomatis produksi keringat Mitha jadi ikutan meningkat, dan alhasil keringat yang merembes keluar dari punggungnya, langsung diserap oleh hoodie yang dipakainya tadi.


"Udah, nona sekarang istirahat. Jangan banyak gerak dulu, nanti kepalanya makin pusing. Sekarang nona baring terus tidur, biar cepat sembuh."


"Hehe... Bibi ini, aku ini cuman dehidrasi dan kelelahan saja. Jadi aku hanya perlu beristirahat, lalu besok pagi sudah bisa beraktivitas lagi. Oh yah Bi, Kak Miko tau nggak, kalo tadi Mitha pingsan?"


"Tadi waktu nona muda pingsan, Bibi segera menelpon tuan muda, tapi nggak bisa tersambung. Jadi Bibi telpon dokter Tita saja, dan tadi waktu Bibi tanyain tentang tuan muda pada dokter Tita, dokter Tita bilang kalau tuan muda sedang ada operasi, jadi ponselnya sengaja dimatikan." Terang Bi Runa.


"Ohh... Gitu yah Bi." Bi Runa pun menganggukkan kepala mendengarnya. "Mmm... Bi, Mitha minta tolong yah sama Bibi, supaya nggak bilang sama Kak Miko kalau tadi Mitha pingsan. Kasih tau yang lainnya juga, sama sekalian telpon dokter Tita, dan bilang sama dia buat jangan bilang sama Kak Miko kalau tadi Mitha pingsan."


"Memangnya kenapa non, kalau tuan muda tau?" Tanya Bi Runa.


"Ya nggak papa, Mitha cuman nggak pengen Kak Miko khawatir aja." "Sama nggak banyak nanya juga." Lanjut Mitha dalam hati.


"Baiklah nona, akan segera Bibi lakukan."


"Makasih Bi."


"Iya nona, kalau begitu Bibi permisi dulu."


"Iya Bi." Bi Runa pun keluar dari kamar Mitha, di luar kamar Mitha, Bi Runa menghela nafas panjang. Sebenarnya daritadi dia ingin bertanya pada anak majikannya itu, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa nona mudanya bisa sampai pingsan di depan gerbang, bukankah saat ini dia seharusnya ada dirumah suaminya. Begitu banyak pertanyaan yang bercokol didalam kepalanya, tapi Bi Runa tidak berani menanyakannya. Apalagi nona mudanya itu, juga terlihat tidak ingin membahasnya.

__ADS_1


***


"Rendi!" Panggil Bunda Desi saat melihat Rendi baru saja turun dari tangga.


"Iya Bun, ada apa?"


"Ada apa kamu bilang? Kamu nggak liat sekarang jam berapa? Ini udah siang, dan kamu baru keluar dari kamar. Pasti kamu baru bangun kan?" Omel Bunda Desi, Rendi hanya bisa meringis mendengarnya. Karena itu semua memang benar, dia baru bangun saat jarum jam menunjukkan pukul 10.30.


"Maklum Bun, weekend. Jadi males bangun pagi, hehe..." Cengir Rendi, Bunda yang mendengarnya pun mendengus kesal.


"Jangan dibiasain dong Kak bangun siang begini. Walaupun lagi weekend, tapi kamu nggak boleh bangun sesiang ini." Omel Bunda lagi.


"Yaudah sekarang sana makan, terus temuin Bunda. Ada yang pengen Bunda kasih sama kamu."


"Iya Bunda, Rendi makan dulu, terus nyusul Bunda."


"Iya, jangan lama-lama."


"Siap Bunda."


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Ini dompet istri kamu yang ketinggalan kemarin." Ucap Bunda Desi dengan menyodorkan dompet Mitha pada Rendi, Rendi pun mengambilnya tanpa mengatakan apapun. "Oh yah, tadi malam kamu pulang jam berapa?" Tanya Bunda tiba-tiba, Rendi menegang ditempatnya. Takut kalau Bunda akan memarahinya, kalau tau dia pulang larut malam. Rendi menelan salivanya dengan susah payah, karena Bundanya masih terus menatapnya. Melihat Rendi hanya diam saja, Bunda Desi pun kembali berbicara.


"Kak, Bunda nggak ngelarang kamu keluar nongkrong sama teman-teman kamu, tapi... Kamu harus ingat, sekarang status kamu udah bukan bujangan lagi, tapi udah jadi pria beristri. Jadi Bunda minta sama kamu, tolong yah, nongkrong-nongkrongnya dikurangin. Apalagi harus sampai keluar malam dan pulang larut malam. Bunda nggak masalah kalau teman-teman nongkrong kamu itu semuanya cowok, tapi beda cerita kalau teman nongkrong kamu itu ada perempuannya. Walaupun kalian cuman teman, tetep aja Bunda nggak suka. Apalagi kalau istri kamu tau, dia bisa sakit hati kalau tau suaminya masih suka nongkrong sama teman perempuannya." Ujar Bunda Desi, Rendi yang mendengarnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


Rendi jadi meringis dalam hati, entah apa rekasi Bundanya kalau sampai tau dia masih menjalin hubungan dengan pacarnya, walaupun sudah menikah. Rendi berharap Bundanya tidak akan pernah tau atau Bundanya akan kecewa dan dia akan diomeli habis-habisan.


***


Rendi memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, dia baru saja sampai di sekolah bersama dengan Sasya. Sebenarnya tadi Bunda Desi menyuruhnya untuk menjemput Mitha, dan berangkat bersama ke sekolah.Tapi Rendi malah mengirimi Mitha pesan agar berangkat sendiri, dan jika Bundanya menelpon, Rendi meminta agar Mitha berbohong kalau mereka memang berangkat bersama, padahal nyatanya mereka berangkat sendiri-sendiri.


"Makasih yah sayang, udah jemput aku." Ucap Sasya dengan semangat.


"Iya sayang, itukan udah tugas aku sebagai pacar kamu." Helloowww.... Lalu gimana dengan tugas kamu sebagai seorang suami? Udah kamu lakuin, hem? Tiba-tiba sebuah suara dikepala Rendi terdengar, namun Rendi mencoba mengabaikannya.


"Yaudah yuk kita kekelas." Ajak Rendi, dan diangguki oleh Sasya. Mereka pun berjalan bersama menuju kekelas mereka.


...****************...


Assalamualaikum para readers semuanya...😁😁 Maaf yah author baru bisa up sekarang πŸ™πŸ™πŸ™ πŸ˜” Soalnya kemarin-kemarin author lagi nggak enak badan, jadi nggak bisa nulis duluπŸ₯ΊπŸ₯Ί Tapi Alhamdulillah sekarang, author udah jauh lebih baikan, jadi bisa nulis lagi...


Tetap semangat nungguin author up yah☺️☺️ Biar author juga makin semangat nulisnya....πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2