Terpaksa Menikah SMA

Terpaksa Menikah SMA
Mitha mati?


__ADS_3

"Ck, ngapain juga gue kepoin tuh cewek. Mending sekarang gue siap-siap buat pergi ke pesta, soal hp nanti gue casnya dimobil aja." Setelah mengatakan itu, Rendi pun berbalik badan dan melangkah menuju pintu keluar. Namun saat sudah depan pintu, Rendi menghentikan langkahnya.


"Haiiisshhh... Dasar menyebalkan." Gumam Rendi, kemudian dia membalikkan lagi badannya dan berjalan kembali menuju toilet. "Ini bukan karena aku mengkhawatirkannya, tapi aku hanya penasaran kemana tuh cewek pergi. Yah, hanya penasaran." Gumam Rendi lagi. "Ekhem... Gadis cicak, apa lo didalem? Gue mau minjem charger lo nih." Seru Rendi didepan kamar mandi, namun tidak ada jawaban, membuat Rendi kembali bersuara.


"Gacak (Gadis Cicak) lo didalem nggk sih? Gue masuk yah." Seru Rendi lagi sambil memegang handle pintu, bersiap untuk membukanya. "Gue masuk nih." Seru Rendi sambil membuka pintunya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Mitha terbaring tidak sadarkan diri dilantai."Eh gacak, lo kenapa?" Seru Rendi dengan menggoyang-goyangkan lengan Mitha, namun tidak ada respon. Rendi pun meraih tangan Mitha, untuk mengecek denyut nadinya. Namun dia kembali dikejutkan saat merasakan tangan Mitha sangat dingin.


"Astaga, lo udah berapa lama pingsan disini sih? Tangan lo sampai dingin gini, eh atau jangan-jangan..." Jantung Rendi berdegup kencang saat sebuah pikiran buruk tiba-tiba muncul dikepalanya, apalagi saat merasakan tangan Mitha yang dingin, pikirannya mulai kemana-mana.


"Hhuuffftt... Tenang Ren, jangan berpikir negatif dulu. Lebih baik gue cek dulu." Dengan tangan sedikit gemetar, Rendi memeriksa denyut nadi Mitha. Mata Rendi seketika membulat saat menyadari sesuatu. "Ko... Kok, nggak ada denyut nadinya sih? Jangan-jangan nih anak beneran udah koid lagi, astaghfirullah haladzim..." Rendi segera melepaskan tangan Mitha dan mundur kebelakang. "Tenang Ren, tenang... Lo belum periksa jantungnya kan? Iya jantungnya." Dengan jantung berdebar-debar, Rendi kembali mendekati Mitha untuk memeriksa jantungnya.


"Eh, ini gue mau meriksa jantung lo masih berdetak atau nggak yah, bukan modus." Ucap Rendi lirih, sambil menempelkan telinganya kedada Mitha. Dan Rendi pun seketika menghela nafas lega, saat menyadari jantung Mitha masih berdetak. "Alhamdulillah... Masih berdetak." Ucap lega Rendi. "Oh yah, satu lagi." Rendi kembali mendekatkan telunjuknya dibawah hidung Mitha. "Alhamdulillah... Masih nafas, tapi kenapa tadi nggak ada denyut nadinya yah? Mungkin karena tadi gue terlalu gugup, dan tangan gue sedikit gemetaran kali yah makanya denyut nadinya nggak ketemu. Hhuuffftt... Tapi untunglah dia masih hidup, mending sekarang gue bawa

__ADS_1


dia keluar." Rendi pun segera mengangkat tubuh Mitha keluar, dan membaringkannya dikasur.


"Lo kenapa bisa sampai pingsan sih, aelah... Nyusain tau nggak, udah gitu bikin gue spot jantung lagi, karena ngirain lo udah koid." Omel Rendi. "Ck, gue kok jadi kayak orang gila gini sih, ngomelin orang yang lagi pingsan, dia mana denger. Lebih baik sekarang gue telpon dokter buat meriksa dia." Rendi pun segera merogoh saku celananya untuk mengambil hp dan menghubungi dokter, namun sedetik kemudian dia memukul jidatnya sendiri karena baru teringat sesuatu.


"Oh iya, hp gue kan lagi lowbat, mana bisa dipake. Oh iya Bi Sri..." Rendi pun segera keluar dari kamar Mitha dan turun mencari Bi Sri, setelah menemukan Bi Sri dan menceritakan keadaan Mitha serta memintanya untuk menelpon dokter, Rendi pun kembali ke kamar Mitha.


***


"Gimana keadaannya? Kenapa dia bisa pingsan?" Tanya Rendi pada dokter yang baru saja selesai memeriksa Mitha. Yang tak lain adalah sepupu Rendi plus dokter keluarga Rendi. Namanya dokter Kevin, walaupun masih muda, tapi dokter Kevin termasuk jajaran dokter muda yang berbakat dan patut diperhitungkan. Itu sebabnya, Ayah Rendi memilihnya menjadi dokter keluarga. Back to Mitha.


"Ck, siapa juga yang khawatir, gue nggak yah. "Ketus Rendi.

__ADS_1


"Iya deh iya, si yang paling nggak khawatir. Tapi narik-narik gue kayak maling pas gue sampai, biar apa? Biar bisa segera meriksa istri lo yang lagi pingsan, keliatan banget kali paniknya. Masih mau bilang nggak khawatir, hem?" Goda dokter Kevin, sambil menaikturunkan alisnya didepan Rendi.


"Itu karena lo jalannya kayak siput, lambat. Gue cuman nggak mau nih cewek kenapa-napa kalau kelamaan nggak ditangani, kalau dia kenapa-napa gue juga yang repot." Alibi Rendi, karena yang sebenarnya dia memang sempat mengkhawatirkan Mitha tadi, karena sudah terlalu lama pingsan. Tapi karena gengsi, Rendi enggan mengakuinya.


"Yakin, cuman karena itu?" Goda dokter Kevin lagi.


"Yaiyalah, emangnya apa lagi." Sewot Rendi.


"Bukan karena lo takut jadi duda ngenes, karena belum sempet ngerasain indahnya malam pertama bareng istri, tapi udah keburu ditinggal duluan, yahkan?" Ucap dokter Kevin lagi, sengaja ingin membuat Rendi kesal. Karena membuat Rendi kesal, merupakan suatu hiburan untuknya. Dan jangan heran kenapa dokter Kevin bisa tau banyak tentang hubungan Rendi dengan Mitha. Itu karena Ayah Rendi yang menceritakannya saat pergi untuk memeriksakan kesehatannya di RS.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


Assalamualaikum para readers kiuuu...😁😅


Gimana menurut kalian Bab yang ini, udah seru atau belum? Atau masih biasa-biasa aja🤔🤔 Komen yah... Author tunggu pendapat kalian...🥰🥰🥰🥰🥰


__ADS_2